Header Ads Widget

ROTI KEHADIRAN: MENGHIDUPI MISTRI TUBUH DAN DARAH KRISTUS

RD. Paul Tan
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
(Yohanes 6:51-58)



Jalatimur.com, - “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Barangsiapa makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh. 6:51)

Setiap tahun Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus sebagai kesempatan istimewa untuk merenungkan kembali makna Ekaristi. Bagi sebagian orang, Ekaristi mungkin telah menjadi bagian rutin kehidupan beriman. Kita hadir dalam Misa, menyambut Komuni Kudus, lalu melanjutkan aktivitas sehari-hari. Namun Sabda Tuhan pada hari raya ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita sungguh memahami apa yang kita rayakan?

Dalam Injil Yohanes, Yesus menyampaikan kata-kata yang terdengar mengejutkan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” Kata-kata ini bahkan menimbulkan kebingungan di antara para pendengar-Nya. Hingga kini, ungkapan tersebut tetap menjadi salah satu ajaran yang paling mendalam sekaligus paling misterius dalam iman Kristiani.

Menariknya, Injil Yohanes tidak mencatat peristiwa Perjamuan Terakhir sebagaimana ditulis oleh Matius, Markus, dan Lukas. Yohanes justru menempatkan ajaran tentang “Roti Hidup” sebagai cara untuk membantu umat memahami makna terdalam dari kata-kata Yesus: “Inilah tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku.”

Lebih dari Sekadar Simbol Biasa

Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup di tengah dunia simbol. Sebuah bendera bukan sekadar selembar kain. Ketika kita menghormatinya, yang kita hormati adalah bangsa yang diwakilinya. Sebuah foto orang yang telah meninggal bukan hanya selembar kertas bergambar, melainkan pengingat akan seseorang yang kita kasihi.

Demikian pula dengan ungkapan cinta. Cinta tidak dapat disentuh atau dilihat secara langsung. Namun cinta menjadi nyata melalui pelukan, perhatian, pengorbanan, kata-kata yang menghibur, atau kesediaan mendampingi seseorang dalam masa sulit. Semua itu adalah simbol yang mengungkapkan realitas yang lebih dalam.

Ekaristi juga merupakan simbol, tetapi bukan simbol biasa. Ekaristi adalah simbol yang ditetapkan sendiri oleh Yesus. Melalui roti dan anggur, Kristus menghadirkan diri-Nya secara nyata kepada umat-Nya. Karena itu, ketika umat berlutut dan menyambut Komuni Kudus, mereka tidak sedang menghormati sepotong roti semata. Mereka sedang berjumpa dengan Kristus yang hidup.

Kristus yang Bangkit Hadir di Tengah Umat-Nya

Dasar iman kita adalah keyakinan bahwa Yesus telah bangkit. Ia tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu sebagaimana ketika hidup di dunia. Ia hidup dan hadir dalam Roh-Nya.

Yesus sendiri pernah berkata, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Ia juga hadir dalam diri mereka yang lapar, miskin, tersingkir, dan menderita.

Karena itu, setiap perayaan Ekaristi bukanlah sekadar mengenang peristiwa yang terjadi dua ribu tahun lalu. Ekaristi adalah perjumpaan nyata dengan Kristus yang bangkit dan tetap bekerja di tengah umat-Nya.

Di altar, masa lalu, masa kini, dan masa depan bertemu. Pengorbanan Kristus di Kalvari dikenangkan, kehadiran-Nya dialami sekarang, dan harapan akan kehidupan kekal diteguhkan.

“Ini Tubuh-Ku, Ini Darah-Ku”

Dalam bahasa modern, ungkapan “makan daging” dan “minum darah” sering terdengar sulit dipahami. Namun Yohanes menggunakan bahasa yang akrab dengan pemahaman Kitab Suci.

Dalam tradisi Alkitab, tubuh dan darah tidak hanya menunjuk pada bagian fisik manusia. Tubuh berarti seluruh pribadi manusia, sedangkan darah melambangkan kehidupan yang mengalir di dalam dirinya.

Maka ketika Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku,” maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar unsur jasmani. Ia sedang berkata, “Inilah Aku. Inilah seluruh hidup-Ku yang Kuberikan bagimu.”

Dengan demikian, menerima Ekaristi berarti menerima Kristus seutuhnya: ajaran-Nya, semangat-Nya, kasih-Nya, pengorbanan-Nya, bahkan cara hidup-Nya.

Menjadi Tubuh dan Darah Kristus bagi Sesama

Bahaya terbesar dalam hidup beriman adalah menganggap Ekaristi hanya sebagai kewajiban ritual. Kita bisa rajin menerima Komuni Kudus tetapi gagal menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal tujuan Ekaristi bukan hanya agar Kristus masuk ke dalam diri kita, melainkan agar hidup kita semakin menyerupai hidup Kristus.

Yesus menyerahkan tubuh dan darah-Nya demi keselamatan manusia. Karena itu setiap orang yang menerima Ekaristi dipanggil untuk melakukan hal yang sama dalam bentuk yang konkret: memberi perhatian kepada yang lemah, mengampuni yang bersalah, melayani tanpa pamrih, memperjuangkan keadilan, dan membangun persaudaraan.

Dengan kata lain, Ekaristi harus berlanjut setelah Misa selesai. Apa yang dirayakan di altar harus diteruskan dalam keluarga, lingkungan kerja, sekolah, dan masyarakat.

Ketika kasih menjadi nyata dalam tindakan, saat itulah Tubuh dan Darah Kristus sungguh hidup di tengah dunia.

Ekaristi dan Harapan Kehidupan Kekal

Yesus memberikan janji yang sangat indah kepada mereka yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya: “Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman.”

Janji ini mengingatkan kita bahwa Ekaristi bukan hanya makanan bagi perjalanan hidup di dunia, tetapi juga bekal menuju kehidupan kekal. Setiap Komuni Kudus menjadi semacam jembatan antara kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang.

Karena itu, ketika kita menyambut Tubuh Kristus, kita tidak hanya berkata “Amin” kepada hosti yang kita terima. Kita juga berkata “Amin” kepada cara hidup Kristus, kepada jalan salib-Nya, kepada kasih-Nya, dan kepada harapan akan kebangkitan yang dijanjikan-Nya.

Penutup

Misteri Ekaristi tidak akan pernah sepenuhnya dapat dijelaskan oleh kata-kata manusia. Seperti cinta yang paling tulus, Ekaristi lebih mudah dialami daripada diterangkan.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita bahwa Allah tidak memilih tinggal jauh dari manusia. Ia hadir dalam tanda yang sederhana, agar dapat disentuh, diterima, dan dihidupi.

Maka pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita memahami seluruh misteri Ekaristi, melainkan apakah kita bersedia membiarkan Kristus mengubah hidup kita melalui Ekaristi yang kita sambut.

Sebab setiap kali kita menerima Tubuh dan Darah-Nya, Yesus kembali mengundang kita: “Jadilah seperti Aku. Kasihilah seperti Aku mengasihi. Berikanlah hidupmu bagi sesamamu sebagaimana Aku telah memberikan hidup-Ku bagimu.”

Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Semoga setiap Komuni Kudus semakin mempersatukan kita dengan Kristus dan menjadikan kita saksi kasih-Nya di tengah dunia.
RD. Paul Tan.