Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Yohanes 3:16-18
Jalatimur.com, Ada banyak orang takut kepada Tuhan karena membayangkan-Nya sebagai hakim yang siap menghukum setiap kesalahan manusia. Namun Hari Raya Tritunggal Mahakudus justru memperlihatkan wajah Allah yang berbeda: Allah yang mengasihi, Allah yang mendekat, Allah yang rela kehilangan Putra-Nya demi menyelamatkan manusia. Di balik misteri Tritunggal, tersimpan satu pesan sederhana namun menggetarkan: Tuhan tidak pernah berhenti mencintai kita, bahkan ketika dunia berhenti memahami kita.
Graham Greene pernah berkata bahwa ia tidak akan percaya kepada Tuhan yang bisa sepenuhnya dimengerti manusia. Dan memang, kebesaran Tuhan melampaui kemampuan akal manusia. Kita hanya mampu menangkap secercah kecil dari kasih-Nya.
Seorang bayi yang baru lahir mungkin tidak mengenal siapa ibunya secara utuh. Ia tidak memahami perjuangan, air mata, dan cinta yang dimiliki sang ibu baginya. Namun ia tahu satu hal: ketika ia menangis, ada tangan yang mengangkatnya; ketika ia lapar, ada yang memberinya makan; ketika ia ketakutan, ada pelukan yang menenangkannya.
Begitulah manusia di hadapan Tuhan. Kita tidak mampu memahami sepenuhnya siapa Allah. Namun kita merasakan kasih-Nya dalam hidup, dalam udara yang kita hirup, dalam orang-orang yang mencintai kita, dan terutama melalui Yesus Kristus. Dalam diri Yesus, Allah menjadi dekat. Ia menjadi manusia biasa: seorang tukang kayu, seorang guru, seorang sahabat bagi orang berdosa, dan korban ketidakadilan.
Melalui Yesus, kita melihat bahwa Allah bukan penguasa yang jauh dan menakutkan, tetapi Bapa yang mencintai manusia tanpa syarat.
Allah yang Rela Kehilangan
“Inilah kasih itu: Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Kalimat Injil ini sering kita dengar, tetapi jarang kita renungkan sampai ke kedalamannya. Memberikan “yang tunggal” selalu menyakitkan.
Bayangkan seorang ayah yang hanya memiliki satu anak, lalu harus melepaskannya ke medan perang demi menyelamatkan banyak orang. Tentu hatinya hancur. Tetapi kasih membuatnya rela berkorban.
Demikian pula Allah Bapa. Ia tidak mengirim Yesus ke dunia yang nyaman. Ia mengutus Putra-Nya ke dunia yang penuh penolakan, kebencian, dan salib. Allah tahu risiko itu. Namun kasih membuat-Nya tetap memilih untuk datang menyelamatkan manusia.
Kasih sejati memang selalu berani berkorban. Banyak orang tua memahami hal ini. Ada ayah yang menjual tanah terakhir demi pendidikan anaknya. Ada ibu yang mengorbankan kesehatan dan tenaganya agar anak-anaknya dapat makan dengan layak. Ada orang yang rela kehilangan kenyamanan demi masa depan orang yang dicintainya.
Tetapi kasih Allah melampaui semuanya. Ia memberikan Putra-Nya yang tunggal demi keselamatan manusia yang sering kali justru melupakan-Nya.
Tuhan Tidak Datang untuk Mengutuk
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah membayangkan Tuhan sebagai penghukum yang kejam.
Padahal Yesus berkata dengan sangat jelas:
“Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”
Yesus datang bukan membawa kutukan, melainkan harapan. Ia menerima Zakheus si pemungut cukai. Ia tidak melempari perempuan berdosa dengan batu. Ia mengampuni pencuri yang disalibkan di samping-Nya. Bahkan ketika murid-murid-Nya sendiri jatuh dalam kelemahan, Yesus tidak berhenti mencintai mereka.
Petrus menyangkal-Nya. Tomas meragukan-Nya. Yakobus dan Yohanes haus kekuasaan. Namun Yesus tetap memanggil mereka sahabat. Karena Tuhan tidak melihat manusia hanya dari masa lalunya, tetapi dari kemungkinan pertobatannya.
Sering kali manusialah yang lebih suka mengutuk daripada menyelamatkan. Kita mudah menghakimi pasangan, anak, keluarga, atau sesama hanya karena kelemahan mereka. Kita lebih cepat melihat kesalahan daripada luka yang mereka sembunyikan.
Padahal memahami seseorang sering kali jauh lebih menyelamatkan daripada menghakiminya.
Kata-kata yang kasar mungkin memenangkan pertengkaran, tetapi kehilangan hati manusia.
Mengutuk Diri Sendiri
Yesus berkata bahwa siapa yang menolak percaya kepada-Nya, ia menghukum dirinya sendiri. Bukan karena Tuhan haus hukuman, tetapi karena manusia menutup dirinya dari kasih yang menyelamatkan.
Seperti ruangan yang gelap karena semua jendelanya tertutup, demikian hati manusia yang menolak kasih Tuhan. Matahari tetap bersinar di luar, tetapi terang tidak bisa masuk.
Banyak penderitaan lahir bukan karena Tuhan meninggalkan manusia, tetapi karena manusia memilih menjauh dari-Nya.
Ketika kesombongan membuat kita tidak mau mengakui kesalahan, ketika kita menolak berdialog, ketika kita lebih percaya pada kebencian daripada kasih, sebenarnya kita sedang menghukum diri sendiri.
Namun kabar baik Injil adalah: selama manusia masih mau kembali kepada Tuhan, pintu belas kasih selalu terbuka.
Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi kasih Allah. Percaya kepada Yesus Berarti Hidup dalam Kasih. Percaya kepada Yesus bukan sekadar menghafal doa atau mengetahui ajaran agama. Percaya berarti hidup menurut semangat-Nya.
Itu berarti memilih jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan.Itu berarti tetap membela kebenaran ketika banyak orang memilih diam.Itu berarti menjadi pelayan ketika memiliki kekuasaan.Itu berarti tetap mengasihi bahkan ketika disakiti.
Yesus tidak meminta kita menjadi manusia sempurna. Ia hanya meminta kita membuka hati bagi kasih-Nya. Karena dunia tidak diselamatkan oleh kebencian, tetapi oleh kasih. Bukan oleh penghukuman, tetapi oleh pengampunan. Bukan oleh kekerasan, tetapi oleh pengorbanan.
Allah Tritunggal: Misteri Kasih yang Hidup
Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan pertama-tama soal rumusan teologi yang rumit. Ini adalah perayaan tentang Allah yang hidup dalam relasi kasih.
Bapa mengasihi Anak.Anak taat kepada Bapa.Roh Kudus mempersatukan kasih itu dan mengalirkannya kepada dunia.
Dan manusia dipanggil masuk ke dalam lingkaran kasih itu.
Karena itu, setiap kali kita mengampuni, kita sedang menghadirkan Allah.
Setiap kali kita menyelamatkan sesama dari keputusasaan, kita sedang memantulkan wajah Tritunggal.
Setiap kali kita memilih memahami daripada mengutuk, kita sedang hidup di dalam kasih Tuhan.
Hari Raya Tritunggal mengingatkan kita bahwa inti iman Kristen bukan ketakutan terhadap Tuhan, melainkan pengalaman dicintai oleh-Nya.
Dan orang yang sungguh merasa dicintai Tuhan akan lebih mudah mencintai sesamanya.
Selamat Hari Raya Tritunggal Mahakudus.
Semoga kita semakin percaya bahwa Allah tidak pernah datang untuk menghukum kita, tetapi untuk menyelamatkan, memulihkan, dan mencintai kita sampai akhir. (RD. Paul Tan)
