Header Ads Widget

"KETIKA KOMBAS ST. PAULUS MENEMUKAN SUARANYA"

Oleh: Marten Join*


Jalatimur.com, - Bagaimana jadinya ketika sebuah komunitas kecil yang lama merasa “tak terdengar” akhirnya menemukan suaranya kembali? Di tepian danau Sentani, Jayapura, Papua, berdiri sebuah komunitas kecil umat Katolik bernama Kombas St. Paulus. Komunitas basis ini hidup sederhana di tengah masyarakat yang beragam. Ada orang Papua, Toraja, Kei, Jawa, Flores, dan berbagai latar belakang lainnya. Mereka berbeda bahasa, budaya, kebiasaan, bahkan cara memandang hidup, tetapi dipersatukan oleh satu altar, satu doa, dan satu iman kepada Kristus.

Wajah Gereja yang Universal
Dalam dunia yang semakin mudah terpecah karena identitas, keberadaan Kombas St. Paulus justru menghadirkan wajah Gereja yang sesungguhnya. Tentang persekutuan yang melampaui batas suku, ras, dan asal-usul. Di sana, perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi nada-nada berbeda yang perlahan membentuk harmoni. Pesona dibalik kehangatan persaudaraan itu, tersimpan kerinduan panjang yang selama bertahun-tahun belum terjawab. Kombas St. Paulus hampir tidak pernah terlibat dalam tugas-tugas besar Gereja, terutama dalam pelayanan koor dan musik liturgi. Bukan karena umat tidak memiliki semangat melayani. Bukan pula karena mereka tidak mencintai liturgi. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan untuk belajar dan tampil. Tidak ada yang mendampingi. Tidak ada yang mengajarkan cara membaca not, mengenal tempo, ataupun memahami lagu-lagu liturgi.

Problemnya, perlahan tumbuh rasa minder yang tidak terlihat. Mereka hadir dalam Gereja, tetapi merasa berada di pinggir kehidupan menggereja. Mereka ikut bernyanyi, tetapi tidak pernah benar-benar percaya bahwa suatu hari mereka pun mampu berdiri dan melayani dihadapan umat. Padahal, di dalam hati kecil mereka, punya kerinduan untuk tampil. Kerinduan untuk bernyanyi bagi Tuhan. 

Kerinduan untuk menunjukkan bahwa komunitas kecil di pinggiran danau Sentani juga memiliki suara dalam Gereja. Dan seperti banyak kisah sederhana dalam hidup, perubahan itu datang dengan cara yang tidak terduga. Bukan melalui sosok terkenal. Bukan seorang ahli musik liturgi. Bukan pula seorang profesor atau pelatih profesional. Yang hadir hanyalah seorang pengembara dari perjalanan hidup yang panjang.

Suasana umat Kombas St. Paulus sedang berlatih koor (Dok, Pen)

Membawa pengetahuan sederhana yang pernah dipelajari dalam masa pembinaan hidup rohani. Tentang liturgi, Kitab Suci, doa, musik Gereja, dan cara membaca not angka. Hal-hal kecil yang mungkin dahulu dianggap biasa ternyata menjadi sangat berarti ketika dibawa ke tengah umat kecil yang haus pendampingan. Latihan demi latihan mulai dilakukan. Nada demi nada diajarkan perlahan. Lagu-lagu liturgi mulai dikenalkan kembali. Tidak ada ruang mewah. Tidak ada fasilitas lengkap. Kadang latihan berlangsung sederhana dengan suara seadanya. Ada nada yang fals, tempo yang terlambat, dan rasa malu yang masih tersisa.

Tetapi justru di tengah kesederhanaan itulah sesuatu mulai tumbuh. Orang-orang yang dahulu hanya duduk diam mulai berani membuka suara. Anak-anak mulai ikut bernyanyi. Orang tua yang sebelumnya merasa tidak mampu perlahan mencoba belajar membaca not. Dan yang paling penting, umat mulai percaya bahwa mereka juga mampu melayani. 

Di sana, orang Papua bernyanyi bersama orang Jawa. Orang Toraja belajar nada bersama orang Flores. Orang Kei duduk berdampingan dengan orang Sentani. Orang Batak bergandengan tangan dengan orang Ambon. Demikian juga, orang Bugis tersenyum sapa dengan orang Buton. Karena itu, kehidupan umat di kombas-kombas Katolik di Papua sering menjadi gambaran kecil Indonesia. Berbeda budaya, tetapi dipersatukan dalam kehidupan sosial dan iman. Begitupun musik liturgi akhirnya menjadi bahasa persaudaraan dan persekutuan.

Menimbah Spiritualitas St. Paulus

Kisah ini mengingatkan pada kehidupan jemaat perdana dalam Kisah Para Rasul. Gereja awal bertumbuh dari semangat persekutuan tanpa membeda-bedakan latar belakang manusia. Orang miskin dan kaya, Yahudi dan Yunani, budak dan orang merdeka dipanggil menjadi satu tubuh di dalam Kristus. Karena itu Santo Paulus berkata: “Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28). Kalimat itu terasa hidup di Kombas Santo Paulus. Komunitas kecil di pinggiran danau Sentani ini seolah menjadi gambaran kecil Gereja universal. Tempat manusia dipersatukan bukan karena kesamaan identitas, tetapi karena kasih.

Nama Santo Paulus sendiri terasa begitu relevan dengan perjalanan komunitas ini. Paulus bukanlah pribadi sempurna ketika dipanggil Tuhan. Ia pernah jatuh, tersesat, bahkan menganiaya Gereja. Namun justru dari perjalanan hidup yang rumit itu, Tuhan membentuknya menjadi pewarta besar Injil. Paulus memahami bahwa kekuatan pelayanan tidak berasal dari kehebatan manusia. Karena itu ia berkata: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Korintus 4:7). Kombas Santo Paulus menjadi gambaran nyata dari “bejana tanah liat” itu. Komunitas kecil yang sederhana, jauh dari pusat perhatian, tetapi menyimpan kekuatan besar ketika harapan mulai dihidupkan kembali.

Secara filosofis, kisah ini memperlihatkan apa yang disebut Martin Buber sebagai relasi “I-Thou” (Aku-Engkau), yakni hubungan yang lahir ketika manusia saling menerima sebagai pribadi yang bermartabat (Mengutip I and Thou, 1970, hlm. 53-60). Kehadiran yang mendampingi umat kecil itu bukan sekadar mengajar teknik bernyanyi, melainkan menghadirkan pengakuan bahwa setiap manusia memiliki nilai dan kemampuan untuk berkembang. Pemikiran Emmanuel Levinas juga membantu membaca pengalaman ini. Levinas menegaskan bahwa manusia menemukan makna hidupnya ketika ia hadir bagi sesamanya (Mengutip Ethics and Infinity, 1985, hlm. 95-98). Dalam konteks Kombas Santo Paulus, pelayanan kecil seperti mengajar not dan melatih lagu ternyata menjadi tindakan etis yang menghidupkan harapan banyak orang.

Foto bersama usai latihan di Gereja

Bahkan pengalaman ini memiliki makna pendidikan yang mendalam sebagaimana dijelaskan Paulo Freire. Pendidikan sejati bukanlah tindakan mengisi manusia dengan pengetahuan, melainkan membangkitkan kesadaran bahwa manusia mampu berkembang bersama (Mengutip Pedagogy of the Oppressed, 1970, hlm. 66-68). Maka belajar menyanyi di Kombas Santo Paulus bukan hanya soal musik. Itu adalah proses menemukan kembali martabat diri. Dan mungkin di situlah makna terdalam pelayanan Gereja. Bukan menciptakan manusia hebat, tetapi menghadirkan ruang agar manusia kecil tidak lagi merasa kecil. Kisah ini juga mengingatkan pada spiritualitas Santa Theresia dari Lisieux yang berkata: “Lakukanlah hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

Apa arti mengajari not bagi dunia? Mungkin tampak sederhana. Apa arti melatih lagu-lagu liturgi disebuah kombas kecil di pinggiran danau Sentani? Mungkin tidak dianggap penting oleh banyak orang. Akan tetapi, dari hal-hal kecil itulah lahir perubahan besar. Kini suara nyanyian Kombas Santo Paulus mungkin belum sempurna. Masih ada nada yang terlambat dan suara yang kadang sumbang. Tetapi dibalik ketidaksempurnaan itu, ada sesuatu yang jauh lebih penting, yakni keberanian untuk bangkit dan melayani. Dan mungkin Tuhan memang tidak selalu mencari suara yang paling indah. Kadang Tuhan hanya mencari hati yang bersedia bernyanyi. Sebab di hadapan Tuhan, yang paling penting bukanlah merdunya suara, melainkan ketulusan hati yang tetap mau bernyanyi di tengah segala keterbatasan.

Apa yang Perlu Kita Petik?
a. Liturgi sebagai bahasa persaudaraan
Banyak orang sering melihat liturgi hanya sebatas tata upacara Gereja, lagu pembukaan, bacaan Kitab Suci, doa umat, dan nyanyian komuni. Di Kombas Santo Paulus, liturgi perlahan menjadi sesuatu yang lebih dalam, yakni ruang perjumpaan manusia dengan manusia lain, sekaligus manusia dengan Tuhan. Ketika umat mulai belajar menyanyi bersama, sesungguhnya mereka sedang belajar mendengarkan satu sama lain. Orang yang biasanya pendiam mulai membuka suara. Mereka yang sebelumnya merasa minder perlahan menemukan keberanian. Dalam latihan-latihan sederhana itu, lahir sebuah kesadaran bahwa pelayanan Gereja bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang bersedia berjalan bersama.

Di sinilah musik liturgi memiliki makna yang sangat filosofis. Musik menyatukan banyak suara berbeda menjadi satu harmoni. Nada tinggi dan nada rendah tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi. Begitu pula kehidupan manusia. Pemikiran Aristoteles tentang manusia sebagai “zoon politikon” (makhluk yang hanya dapat berkembang dalam kebersamaan) menjadi sangat relevan (Mengutip Politics, Book I, 2000, hlm. 5-7). Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Ia membutuhkan komunitas untuk bertumbuh dan menemukan makna hidupnya. Kombas Santo Paulus memperlihatkan bahwa Gereja kecil di pinggiran danau Sentani dapat menjadi ruang pertumbuhan manusiawi yang nyata. Di sana umat belajar bekerja sama, saling menghargai, dan saling menopang meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

b. Dari rasa minder menuju martabat
Salah satu luka terbesar komunitas kecil sering kali bukan kemiskinan, melainkan rasa minder. Perasaan bahwa diri “tidak mampu” membuat banyak orang memilih diam dan menarik diri dari pelayanan. Hal itu juga pernah dialami umat Kombas Santo Paulus. Mereka terbiasa melihat komunitas lain tampil bagus dalam koor Gereja sementara mereka hanya menjadi pendengar. Lama-kelamaan muncul rasa bahwa pelayanan liturgi hanya milik orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan lebih. Tetapi dengan kehadiran anggota-anggota baru dalam kombas, perlahan mematahkan cara berpikir tersebut. Mereka tidak datang untuk menunjukkan siapa yang paling pintar. Mereka hadir untuk menemani. Mereka melatih dan bernyanyi dengan sabar, bahkan dari dasar yang paling sederhana.

Dan dari proses kecil itulah tumbuh kembali rasa percaya diri umat. Dalam filsafat, pengalaman ini dapat dibaca melalui pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan (Mengutip Pedagogy of the Oppressed, 1970, hlm. 66-68). Freire menolak model pendidikan yang membuat manusia merasa bodoh dan pasif. Pendidikan sejati justru harus membangkitkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk berkembang. Dalam konteks Kombas Santo Paulus, belajar not dan lagu liturgi ternyata bukan hanya soal musik. Itu adalah proses menemukan kembali martabat diri sebagai umat Allah yang mampu melayani.

c. Danau Sentani dan harapan yang bernyanyi
Sering kali orang berpikir bahwa karya besar Gereja hanya terjadi di kota-kota besar, sekolah-sekolah ternama, atau lembaga-lembaga megah. Namun kisah Kombas Santo Paulus menunjukkan bahwa Roh Kudus juga bekerja di tempat-tempat sederhana. Dari rumah-rumah kecil di pinggiran danau Sentani, lahir semangat pelayanan yang mungkin tidak pernah diberitakan media besar, tetapi memiliki makna mendalam bagi kehidupan umat. Ini mengingatkan pada Gereja perdana yang bertumbuh dari komunitas-komunitas kecil. Para rasul tidak memulai pewartaan dari tempat mewah, melainkan dari rumah-rumah sederhana dan persekutuan kecil umat (Kisah Para Rasul 2:42-47).
Karena itu, kisah Kombas Santo Paulus sebenarnya bukan hanya cerita tentang belajar menyanyi. Ini adalah cerita tentang Gereja yang hidup. Gereja yang hidup bukan pertama-tama tentang gedung megah atau acara besar, tetapi tentang umat yang saling menguatkan. Tentang orang-orang sederhana yang rela berbagi kemampuan kecil demi membangun sesama. Karena itu, pelayanan bukan soal jabatan resmi, melainkan kesediaan hati untuk hadir. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin individualistis, kehadiran seperti inilah yang paling dibutuhkan Gereja hari ini. Gereja tidak boleh menutup diri, dan membangun sekat-sekat sosial dalam bangku Gereja. Dan, umat harus berani menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat majemuk.
Kini suara nyanyian dari Kombas Santo Paulus mungkin belum sempurna. Masih ada nada yang terlambat, tempo yang belum stabil, dan suara yang sesekali sumbang. Tetapi justru di situlah keindahannya. Sebab Tuhan tidak pertama-tama mencari kesempurnaan teknis. Tuhan melihat ketulusan hati umat-Nya. 

Dari pinggiran danau Sentani, Kombas Santo Paulus mengajarkan bahwa harapan bisa tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari latihan kecil. Dari kesabaran. Dari persaudaraan lintas suku. Dari orang-orang biasa yang rela hadir bagi sesama. Dan ketika umat mulai bernyanyi bersama, sesungguhnya yang sedang lahir bukan hanya harmoni musik, tetapi harmoni kehidupan.

Kombas Santo Paulus mengajarkan bahwa Gereja yang hidup bukanlah Gereja yang hanya dipenuhi suara-suara indah, melainkan Gereja yang dipenuhi hat-hati yang mau bernyanyi bersama, saling menopang, dan saling menerima tanpa memandang suku, asal-usul, ataupun latar belakang. Dan mungkin benar seperti kata Santo Paulus: “Jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:10). Sebab dari pinggiran danau Sentani, sebuah komunitas kecil telah membuktikan bahwa harapan bisa lahir dari kesederhanaan, dan suara-suara yang dulu nyaris tak terdengar ternyata mampu menjadi nyanyian syukur yang indah di hadapan Tuhan. Bukankah Gereja memang seharusnya seperti itu? Tempat di mana manusia tidak dinilai dari kehebatan suku, atau latar belakangnya, tetapi diterima sebagai saudara dalam Kristus.

*Marten Join adalah staf pengajar pada SMP YPPK Bonaventura Sentani