JalaTimur.com, - Dari ruang perjamuan yang sunyi hingga kubur yang kosong, dari tangan yang membasuh kaki hingga salib yang ditinggikan, kita diajak menelusuri satu misteri agung: cinta yang merendahkan diri, menderita, wafat, dan akhirnya bangkit untuk menyelamatkan. Dalam rangkaian perayaan suci ini, Yesus tidak sekadar mengajarkan, tetapi memperlihatkan bahwa kasih sejati selalu memberi diri, bahwa penderitaan bukan akhir, dan bahwa kebangkitan membuka jalan hidup baru. Inilah perjalanan iman yang mengubah segalanya: dari ketakutan menjadi damai, dari keraguan menjadi percaya, dan dari kematian menuju kehidupan yang penuh harapan, sebuah undangan bagi kita untuk hidup dalam kasih, melayani dengan rendah hati, dan membangun relasi yang memulihkan sesama serta dunia.
KAMIS PUTIH
YOHANES 13:1-15
Perayaan Paskah dimanfaatkan oleh Yesus sebagai kesempatan baginya untuk membuat perjanjian baru-Nya sendiri, memenuhi janji-janji yang dibuat oleh para nabi tentang perjanjian baru untuk menggantikan perjanjian lama yang telah dilanggar secara definitif pada masa Pengasingan Babel. Yesus sendiri adalah Anak Domba yang akan dikorbankan, dan perjanjian baru-Nya dimeteraikan, bukan dengan darah yang dipercikkan tetapi dengan darah-Nya sendiri yang dikonsumsi. Itu adalah sebuah "peringatan", yaitu, sebuah pengulangan yang efektif, yang benar-benar memperbarui tindakan pengabdian dan persatuan.
Gestur luar biasa Yesus yang tercatat dalam Injil Yohanes menunjukkan kepada kita makna penuh dari apa yang Dia lakukan. Narasi tersebut menekankan bahwa Yesus tahu apa yang akan terjadi; Dia menunjukkan kepada murid-murid-Nya makna dari peristiwa-peristiwa tersebut. Dengan tindakan bangkit dari meja dan melakukan tindakan yang merendahkan diri yaitu menanggalkan pakaian dan membasuh kaki para pengikut-Nya, para tamu-Nya, Dia menunjukkan makna dari peristiwa-peristiwa mengerikan yang akan datang – kengerian Petrus mengatakan semuanya, tetapi ada hal yang jauh lebih buruk yang akan datang. Itu adalah pendahuluan dari tindakan besarnya dalam melayani komunitasnya, keluarga baru yang diikatNya pada diriNya sendiri melalui perjanjian baru ini, tindakan pelayanan mendasar di dalam Gereja.
CINTA YESUS TANPA BATAS
Tanda kasih Kristus akan dunia diwujudkan dalam Perayaan Ekaristi sebagai Syukur atas anugerah “penyerahan Tubuh dan Darah Kristus untuk damai kita”. Syukur sebab Allah menerima penyerahan diri Kristus dan merelakan setiap orang Kristen menyampaikan pujian dan syukur kepadaNya.
Kita menyatakan syukur kita yang paling luhur, karena Kristus telah mengurbankan diri sepenuhnya kepada Allah Bapa, seperti yang diimani oleh Paulus: “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu mewartakan kematian Kristus”.
Kerelaan Kristus menyerahkan seluruh diriNya kepada Bapa harus memberanikan kita mengikuti jalan yang sudah ditempuhNya sendiri. Sebagai murid-murid Yesus kita yakin bahwa tak ada jalan lain yang lebih menjamin keselamatan, selain menyatukan diri dengan Kristus dalam hidupNya dalam tubuh dan darahNya.
Santo Yohanes mengembangkan “penyerahan diri Kristus” dalam bentuk pelayanan kasih, yang harus menjadi dasar sikap para murid Yesus, dalam pelayanan mereka terhadap sesama. Dalam perjamuan perpisahan ini Yesus tidak mewariskan pesan-pesan berupa pidato dan ceramah, melainkan meninggalkan sebuah kenangan yang indah, yaitu CINTA KASIH: “Aku telah memberikan teladan bagimu, supaya kamu juga berbuat yang sama seperti yang telah Aku lakukan”. Demi pengabdian kepada sesama, Yesus bukan saja rela menjadi seorang hamba, melainkan juga bersedia mengangkat beban orang lain. Dalam pengabdian dan pelayanan, para pengikut Yesus harus mencintai sesama, seperti Kristus mencintai mereka sehabis-habisnya
JUMAT AGUNG
YOHANES 18:1-19:42
Narasi Yohanes tentang Sengsara Yesus berbeda dari Injil Sinoptik dalam beberapa hal penting. Beberapa perbedaan ini berkaitan dengan penekanan, sementara yang lain muncul dari serangkaian fakta yang berbeda. Setelah keputusan Kayafas, tidak ada adegan pengadilan Yahudi di hadapan imam besar, tidak ada pertemuan Sanhedrin untuk mempersiapkan dakwaan yang akan diajukan kepada Pilatus. Sebaliknya, Yohanes memberikan interogasi di hadapan Annas, mantan imam besar dan mertua Kayafas. Pengadilan di hadapan Pilatus mungkin dibangun berdasarkan kejadian yang sama seperti dalam Injil Sinoptik, tetapi dalam Injil Yohanes, hal itu diuraikan secara lebih rinci karena alasan teologis.
Kisah Yohanes bukanlah kisah tentang seorang penjahat yang dihukum mati yang diseret menuju kematian yang memalukan dan disiksa yang diperuntukkan bagi budak. Yesus adalah raja yang agung, yang dengan megah menuju kemenangan-Nya dalam kematian. Tidak ada doa yang menyakitkan untuk pembebasan di Getsemani.
Sejak awal ditekankan bahwa Yesus sepenuhnya menyadari apa yang akan terjadi. Sebelum ditangkap, para penangkapnya berulang kali jatuh ke tanah sebagai isyarat penghormatan yang tak disengaja ketika Yesus menyebut nama ilahi-Nya, "Akulah Dia". Yesus memerintahkan mereka untuk melepaskan para pengikut-Nya, dan ditangkap hanya ketika Dia memberi perintah (18:11).
Unsur-unsur yang memalukan dalam catatan lain, seperti pemukulan, ludahan, dan tantangan terhadap nubuat, telah hilang. Yesus dengan tegas dinyatakan sebagai raja dalam tiga bahasa besar dunia oleh orang yang menghukum mati-Nya (19:20-22). Yohanes bahkan mencatat bahwa proklamasi itu diakui secara publik oleh "banyak pengikut Yesus". Yesus bukan hanya raja; Dia juga melanjutkan peran-Nya sebagai pewahyuan dan hakim. Dalam wawancara dengan Annas, Yesuslah yang menantang dan mempertanyakan imam besar, mengulangi ajaran-Nya sendiri yang telah Dia berikan untuk didengar seluruh dunia.
Demikian pula pada pengadilan di hadapan Pilatus, Yesus mempertanyakan gubernur dan menunjukkan kendali-Nya, sampai Pilatus menyerah dengan jawaban lemah, "Apakah kebenaran itu?" – sebuah penghukuman diri yang memalukan dalam Injil kebenaran ini. Penghakiman mencapai puncaknya ketika para pemimpin Yahudi, dalam adegan yang formal dan seimbang, menghukum diri mereka sendiri di hadapan Yesus: Ia ditahbiskan di kursi penghakiman sebagai hakim dan dimahkotai – dengan duri – sebagai raja, masih mengenakan jubah ungu kerajaan yang menjadi bahan ejekan, sementara mereka menyangkal keberadaan Yudaisme dengan menyatakan, “Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar” (19:15). Jika Allah Israel bukanlah raja universal, maka Israel tidak mempunyai tujuan atau maksud.
Adegan terakhir memiliki makna khusus. Yesus memikul salib-Nya sendiri, tanpa bantuan, dan bertahta di atasnya – tanpa detail menyakitkan tentang pemakuan dan pengangkatan – di antara dua pelayan. Tidak ada kutipan mazmur terakhir yang tampak putus asa (seperti dalam Markus dan Matius) atau pasrah (seperti dalam Lukas), tidak ada "tangisan hebat" tanpa kata-kata saat Yesus menghembuskan napas terakhir. Dalam Injil Yohanes, Yesus mempersiapkan komunitas masa depan. Berbeda dengan Injil-injil lainnya, Maria dan murid yang dikasihi berdiri di kaki salib dan dipercayakan untuk saling menjaga satu sama lain untuk membentuk komunitas Kristen pertama, perempuan dan laki-laki, ibu dan murid yang ideal. Hal ini diperkuat oleh karunia Roh Kudus, ketika Yesus – dengan ambiguitas khas Yohanes – "menyerahkan Roh-Nya". Apakah ini berarti "menghembuskan napas terakhir-Nya" atau "memberikan Roh Kudus kepada mereka"? Hanya kemudian Yesus setuju untuk mati, dengan kata-kata, "Sudah genap".
DERITA KRISTUS ADALAH SUMBER PENYELAMATAN
Hamba Allah yang ditampilkan oleh nabi Yesya sungguh merupakan seorang abdi Allah yang perkasa, tidak takut akan ancaman maut. Ia betul yakin bahwa setiap kesengsaraan betapapun getirnya mempunyai nilai kemuliaan sebagaimana tertulis: “sesudah menderita sengsara, ia akan melihat sinar cahaya dan akan dipuaskan”. Semua derita yang ditanggung dengan sabar dan dijiwai oleh cinta kasih mempunyai nilai penyilihan, yaitu sebagai “kurban penghapusan dosa dunia”.
Hamba Allah yang menderita sengsara yang ngeri, oleh surat kepada orang Ibrani disebut Iman Agung yang baik hati, yang seperasaan dan sepenanggungan dengan manusia. Dia sendiri dicobai dalam segala hal, hanya Ia tidak berdosa. Ia betul-betul turut merasakan kelemahan-kelemahan kita: Ia mengalami kesedihan, ditolak, dilukai, dibuang dan dikhianati serta merasa takut menghadapi maut. Sifat yang tak ada tandingannya ialah taat dalam penderitaan.KesetiaanNya bersaksi tentang kasih Allah itulah yang menjadi sumber keselamatan bagi semua orang yang taat kepadaNya. Ia menyerahkan hidup seutuhnya kepada Allah dan dengan demikian manusia diselamatkan.Sebagai imam Agung Kristus menjadikan semua orang yang percaya layak di hadapan Allah. Maka orang Kristen tidak perlu takut kehilangan nyawa, melainkan harus dengan gigih berjuang, tahan uji, tabah dalam kegagalan dan kekecewaan, karena berjuang dengan Tuhan, tidak akan dikecewakan.
Santo Yohanes melihat salib dan sengsara sebagai jalan satu-satunya menuju kemuliaan. Kisah Sengsara Kristus mengungkapkan janji setia Kristus pada kehendak Bapa-Nya. Dari permenungannya tentang perjalanan Kristus dari Bapa ke dunia, Yohanes menyimpulkan bahwa tidak ada kemuliaan tanpa salib dan penderitaan, tiada kebangkitan tanpa kematian.
Karena itu, bagi umat beriman, salib dan sengsara janganlah dipandang sebagai malapetaka atau pengalaman kegagalan yang harus dihindari, melainkan benar-benar merupakan sumber yang mengalirkan kekuatan yang membebaskan. Sebagaimana Allah Bapa surgawi telah menjadikan Kristus orang yang amat kesepian dan terbuang sebagai tanda kehidupan, demikian juga setiap orang beriman yang mengandalkan Kristus yang bersengsara, tidak pernah ditinggalkan.
MALAM PASKA
MATIUS 28:1-10
KEBANGKITAN DALAM RELASI
Kebangkitan Tuhan yang kita rayakan pada malam Paska ini tidak hanya mempunyai arti penting bagi diri kita masingmasing secara individu, tetapi juga membawa makna khusus bagi kita dalam relasi dengan orang lain dan dalam hubungan dengan alam sekitar kita. Dalam Injil kita mendengar bahwa sejumlah wanita seperti Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi ke kubur Tuhan Yesus untuk mengetahui dari dekat keadaan Tuhan Yesus di sana. Setibanya mereka di sana mereka mengalami bahwa "Ia telah bangkit dari antara orang mati" (Mat 28:7).
Pengalaman mengenai kebangkitan Tuhan ini membawa sejumlah wanita itu dalam kontak dengan para murid Tuhan sendiri. Sesudah mereka sendiri mengalami kebangkitan Tuhan mereka disuruh oleh malaikat Tuhan untuk mencari para murid Tuhan dan memberitahukan kepada mereka peristiwa kebangkitan Tuhan itu. Dengan demikian kebangkitan Tuhan tidak hanya menjadi pengalaman iman pribadi yang individual, tetapi juga menjadi pengalaman iman bersama untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain, dengan sesama kita.
Selain hubungan baik dengan sesama manusia kebangkitan Tuhan juga membawa kita dalam suatu relasi yang harmonis dengan dunia sekitar kita atau dengan lingkungan alam di sekitar kita. Bacaan I dari Kitab Kejadian menempatkan manusia selaku gambar Allah atau rupa Allah sendiri di tengah-tengah alam semesta untuk "berkuasa atas ikanikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kej 1:26). Manusia juga ditempatkan di tengah-tengah alam semesta untuk menguasai "segala tumbuhtumbuhan dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji" (Kej 1:29).
Dengan ini ada dua dimensi hubungan manusia sebagai buah kebangkitan Tuhan dalam hidup kita yang horizontal. Dimensi pertama adalah hubungan manusiawi dengan sesama atau dengan orang lain. Dimensi kedua adalah hubungan harmonis dengan lingkungan hidup di sekitar manusia. Hubungan manusia dalam dua dimensi horizontal ini dapat berjalan dengan baik apabila diandaikan adanya suatu dimensi lain, dimensi religius, yakni hubungan spiritual dengan Allah. Hanya dengan hubungan yang positif dengan Tuhan, manusia dapat membangun relasi yang harmonis dengan sesamanya dan dengan lingkungan hidupnya.
Untuk maksud inilah maka kebangkitan Tuhan kiranya menjadi semangat hidup kita manusia dalam menciptakan sebuah hubungan hidup yang baik dengan sesama manusia dan dengan alam semesta atau lingkungan di sekitar kita.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita ialah "bagaimana kebangkitan Tuhan menjadi semangat hidup kita dalam membangun relasi horizontal dengan sesama dan dengan lingkungan hidup"? Ini pertanyaan refleksi pertama. Pertanyaan refleksi kedua adalah "bagaimana model relasi yang positif yang dijiwai atau dibangun oleh semangat kebangkitan Tuhan itu"?
Untuk menjadikan kebangkitan Tuhan semangat hidup kita dalam membangun relasi yang hidup dengan sesama dan lingkungan di sekitar, kita perlu seperti wanita-wanita di Yerusalem pergi "mencari Yesus yang disalibkan" (Mat 28:5) dan yang dibangkitkan. Lebih dari sekadar mencari Dia, kita juga menjadi satu dengan Dia. "Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya" (Rm 6:5).
Apabila kita mencari Tuhan Yesus dan "menjadi satu" dengan Dia dalam seluruh misteri kehidupan-Nya, maka "kita akan hidup dalam hidup yang baru" (Rm 6:4) baik dalam relasi dengan sesama manusia maupun dalam relasi dengan dunia di sekitar kita. "Mencari Yesus" dan "hidup dalam persekutuan dengan-Nya, "membuat kebangkitan Tuhan Yesus menjadi semangat hidup kita yang baru dalam membangun relasi horizontal yang positif dengan sesama dan lingkungan hidup kita.
Dengan mencari Tuhan Yesus dan bersatu dengan Dia, maka di dalam relasi kita dengan sesama dan dengan alam di sekitar kita, mesti tercermin dalam seluruh pola tingkah laku dan pada hidup kita bahwa "hidup-Nyalah yang berbicara, kemanusiaan-Nya, kesetiaan-Nya terhadap kebenaran, cinta kasih-Nya yang merangkul segalanya."
Dengan inilah kebangkitan Tuhan Yesus menjadi semangat hidup kita dalam relasi horizontal dengan sesama dan dengan dunia di sekitar kita. Apabila kebangkitan Kristus menjadi semangat hidup kita yang baru, maka bagaimanakah model relasi kita yang baik sesuai dengan semangat kebangkitan Tuhan itu?
Dalam Kitab Kejadian manusia diciptakan "menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26) untuk menjadi "penolong" (Kej 2:18) bagi orang lain atau bagi sesamanya. Dengan dasar ini, relasi antara manusia yang dijiwai oleh kebangkitan mengandung muatan untuk saling membantu atau menolong satu sama lain. Sebab itu "bertolong-tolonglah kamu menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus" (Gal 6:2). Kebangkitan adalah hukum Kristus yang mengharuskan atau mewajibkan kita untuk saling menolong dalam menanggung beban hidup kita setiap hari. Inilah nilai kebangkitan Tuhan bagi relasi kita dengan orang lain di dalam hidup bersama.
Selain dalam hubungan dengan orang lain, kebangkitan Tuhan kiranya menjiwai juga hubungan kita dengan alam lingkungan sekitar kita. Dalam Kitab Kejadian Allah memang memberi wewenang kepada manusia untuk "berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kej 1:26). Wewenang dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia meliputi alam semesta dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Dengan wewenang dan kekuasaan yang diterima dari Tuhan, manusia mendapat hak dan kewajiban untuk menguasai dan menaklukkan alam semesta dan segala isinya. "Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi" (Kej 1:28). Inilah jaminan sabda Allah sendiri yang memberikan hak dan kewajiban kepada manusia untuk menguasai dan menaklukkan alam semesta dam segala isinya.
Namun demikian, hak dan kewajiban manusia untuk menguasai dan menaklukkan alam semesta dan segala isinya itu tidak pernah bersifat mutlak dan absolut dalam realisasi atau prakteknya. Hakikat diri manusia sebagai gambar atau rupa Allah tidak pernah memberikan otonomi yang mutlak bagi manusia. Sebagai gambar dan rupa Allah "manusia dan kegiatannya ada di bawah Allah.
"Sebab itu dalam menggunakan hak dan kewajibannya manusia hendaknya selalu mengacu kepada Allah, "sumber kebahagiaan manusia ... kepenuhan kehidupan, tujuan terakhir dari kegiatan manusia dan yang menyempurnakan kebahagiaan" manusia itu sendiri. Dengan mengacu kepada Allah, sumber kebahagiaan manusia, "manusia mempunyai tanggung jawab khusus atas alam tercipta yang oleh Allah disediakan untuk melayani martabat pribadinya, hidupnya, bukan hanya bagi angkatan masa kini, melainkan juga bagi generasi masa depan."
Tanggung jawab terhadap lingkungan hidup perlu diperhatikan dan dilakukan oleh manusia, sebab lingkungan hidup itu senantiasa melayani martabat pribadi dan hidup manusia. Kitab Kejadian mencatat bahwa "segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji ... akan menjadi makanan" (Kej 1:29) bagi manusia. Bukan hanya tumbuhan berbiji atau pohon yang berbuah menjadi makanan manusia, melainkan juga segala jenis burung di udara, hewan di darat dan ikan di laut. Manusia tidak akan sehat kalau tidak makan daging, burung atau ikan. Manusia juga sulit "makan kosong" tanpa lauk pauk, entah daging atau ikan. Nafsu makannya hilang bila di atas meja makan tidak kelihatan sepotong daging atau seekor ikan atau sebutir telur burung, ayam atau itik. Sebab itu manusia harus bertanggung jawab untuk selalu memelihara lingkungan hidup agar lingkungan hidup senantiasa memasok makanan kehidupan kepada manusia.
Semoga kebangkitan Tuhan membangun relasi yang sehat dengan lingkungan hidup kita melalui tanggung jawab kita yang besar terhadapnya.
SELAMAT PESTA PASKAH: TUHAN SUDAH BANGKIT – ALLELUIA-ALLELUIA
HARI MINGGU PASKAH
YOHANES 20:1-9
PERAYAAN TERBESAR UMAT KRISTEN
Pesta kebangkitan Tuhan kita Yesus adalah pesta terbesar tahun ini bagi orang Kristen, lebih besar dari pesta keagamaan lainnya, termasuk Natal. Mengapa? Banyak orang akan mengatakan bahwa kita diselamatkan karena Yesus mati untuk kita. Ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sangat tidak lengkap. Karena jika kematian Yesus adalah akhir, bagaimana dia bisa menyelamatkan kita? Yang benar adalah bahwa Yesus menyelamatkan kita melalui hidup-Nya, penderitaan dan kematian- Nya, dan kebangkitan-Nya dari kematian, seluruhnya. Tanpa kebangkitan-Nya dari maut tidak ada artinya bagi keselamatan kita.
HIDUP BARU BAGI KAMI JUGA

Namun, hari raya kebangkitan Yesus dari kematian hari ini adalah puncak karya keselamatan Tuhan. Itu memengaruhi setiap orang dari kita di inti terdalam dari keberadaan kita, karena itu membuka jalan bagi kita menuju kehidupan kekal di dalam Tuhan. Tanpa kehidupan dan kebangkitan Yesus tidak ada harapan sama sekali. Dalam Pengakuan Iman Rasuli, kami mengakui iman kami bahwa Yesus akan datang kembali di akhir zaman untuk menghakimi setiap orang, “menghakimi yang hidup dan yang mati”.
Yesus adalah yang sulung dari kematian, dan melalui dia kita akan bangkit untuk hidup yang kekal. Namun, ada satu syarat penting: percaya padanya. Tetapi percaya kepada Yesus bukan hanya sekedar mengaku bahwa Ia adalah Anak Allah dan Juruselamat dunia. Itu lebih berarti: untuk mengakui dia dengan hati kita dan dengan hidup kita, dengan mengikuti perintah-perintahnya, di atas semua perintah barunya: saling mencintai seperti aku telah mencintaimu.
"Dalam hal ini kamu akan menunjukkan bahwa kamu adalah murid-muridKu, jika kamu saling mencintai." Inilah cara kami menunjukkan iman sejati kami kepadanya.
YOHANES MELIHAT DAN PERCAYA
Kasih satu sama lain ini sangat berkaitan dengan kebangkitan Yesus, dengan kesadaran bahwa Ia hidup dan hadir di tengah-tengah kita. Itu adalah pokok keimanan yang tidak dapat dibuktikan, baik oleh akal budi maupun oleh sejarah. Bahkan Injil tidak memberi kita bukti rasional tentang kebangkitan Yesus. Sebenarnya, ini adalah bagian dari maksud Yohanes dalam Injil hari ini! Ada beberapa hal menarik yang mungkin luput dari perhatian kita ketika mendengarkan Injil.
Yang pertama adalah reaksi Maria Magdalena saat mengetahui bahwa makam itu terbuka dan kosong. "Itu masih sangat awal ... dan kami tidak tahu di mana mereka menempatkannya". Yohanes ingin menunjukkan bahwa penemuan kubur yang kosong tidak membuat Maria beriman akan kebangkitan.
Kemudian muncul bagian kedua: "Jadi Petrus berangkat". Sebenarnya Yohanes tidak mengatakan bahwa Petrus tidak percaya. Dia hanya mengatakan, sebaliknya, bahwa murid yang lain “melihat, dan percaya”. Iman membuat semua perbedaan, makam atau tidak ada makam. Bagi Maria dari Magdala dan Petrus, kubur yang kosong tidak membuat mereka beriman akan kebangkitan Yesus. Tetapi untuk murid yang lain (Yohanes sendiri), iman yang melakukannya: dia melihat, dan dia percaya. Pengalaman iman ini selanjutnya akan diteguhkan dalam penampakan Yesus sebagai Tuhan yang bangkit. Kita akan melihat ini nanti pada hari Minggu yang akan datang.
TUHAN YANG BANGKIT MASIH BERSAMA KITA
Dalam beberapa kasus, penampakan Yesus setelah kematian-Nya merupakan peneguhan iman para murid. Dalam kasus lain, penampakan Yesus membawa perubahan dari ketidakpercayaan menjadi percaya: kita dapat berpikir misalnya Tomas yang tidak percaya, atau Paulus yang bahkan telah menganiaya para pengikut Yesus.
Kami tidak percaya pada kubur kosong, tetapi pada Kristus yang hidup, yang kami alami melalui iman yang hidup dalam sabda-Nya, dalam Ekaristi, dan dalam Gereja-Nya. Dia berkata: "di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaku, aku ada di tengah-tengahmu".
Statistik menunjukkan bahwa terutama di negara-negara Barat, di antara mereka yang menyebut diri mereka Kristen, 50 sampai 70% tidak percaya bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian. Mereka adalah orang-orang yang melihat kubur yang kosong, sehingga mereka hanya melihat kubur yang kosong, tidak ada bukti apa-apa. Mereka tidak melihat Tuhan Yesus yang telah bangkit. Maka tentu saja mereka tidak dapat mempercayai kehadiran-Nya dalam Sabda-Nya, atau dalam Ekaristi, atau dalam komunitas yang berkumpul atas namanya.
Entah itu kekosongan atau kepenuhan, kegelapan atau terang, keputusasaan atau harapan, frustrasi atau janji. Paulus berkata: jika Kristus tidak dibangkitkan dari kematian, iman kita sia-sia dan kosong.
Itulah sebabnya Hari Raya Kebangkitan Yesus hari ini adalah yang terbesar dari semua hari raya. Namun maknanya hanya jika itu adalah perayaan Yesus Kristus yang hidup, yang mengundang kita untuk mengikuti Dia untuk berbagi dalam hidup-Nya secara penuh.
SELAMAT PASKAH : KASIH TUHAN TIDAK PERNAH BERKESUDAHAN
HARI MINGGU PASKAH II/A
YOHANES 20:19-31
IMAN KEBANGKITAN
Pada hari Minggu setelah Paskah, kita akan melihat berbagai ekspresi dari pengalaman kebangkitan para murid dan pengikut Yesus. Seperti Kisah hari ini, sebagaimana dijelaskan oleh Yohanes, yang terdiri dari dua bagian: penampakan pertama Yesus pada malam Minggu Paskah, yang juga muncul dalam berbagai bentuk dalam Injil Matius dan Lukas. Dan penampilan kedua Yesus, delapan hari kemudian yang hanya ditemukan dalam Injil Yohanes, dan fokus dari kisah kedua ini adalah pada kata-kata penutup Yesus: "Berbahagialah mereka yang belum melihat dan belum percaya". Kata-kata ini terutama ditujukan untuk pembaca Yohanes dan bagi mereka yang datang setelah mereka seperti kita - yang diharapkan untuk percaya karena kesaksian para saksi pertama, tanpa melihat diri mereka sendiri.
ROH
Yohanes mengatakan bahwa pintu-pintu ditutup di tempat para murid karena takut kepada orang- orang Yahudi. Ketakutan ini akan hilang ketika Roh Kudus akan mengirim mereka untuk memberitakan Injil pada hari Pentakosta. Meskipun pintu-pintu ditutup, Yesus berdiri di tengah- tengah mereka. Apakah dia roh? Tidak, dia adalah Yesus yang bangkit, Yesus dari Nazaret, yang telah dibunuh dan dibangkitkan dari kematian. Jelas bahwa tubuh-Nya sekarang dalam keadaan yang berbeda. Ketika Yesus menampakkan diri kepada Maria dari Magdala, dia pikir dia adalah tukang kebun. Ketika Yesus berjalan di atas air, mereka mengira dia adalah roh. Namun Yesus makan bersama mereka. Ini semua adalah cara yang berbeda untuk menggambarkan sesuatu yang tidak dapat benar-benar dimasukkan ke dalam kata-kata manusia karena sulit dimengerti dari pengalaman indera kita.
MISI DAMAI
Yesus menyapa mereka dengan kata-kata “Damai sejahtera bagi kamu”. Ini lebih dari harapan yang saleh atau kata penghiburan. Itu adalah kata yang tidak hanya berarti "kedamaian" tetapi juga secara efektif memberikan kedamaian itu, kedamaian Roh Allah. Dan ini disertai dengan sebuah misi: "Seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu". Damai yang diberikan Tuhan bukanlah damai untuk duduk dan menjaga diri sendiri. Tidak, itu adalah kedamaian yang keluar dan membagikan pesan kebaikan dan cinta Tuhan.
Selama perayaan Ekaristi, kami juga saling mendoakan. Ini juga merupakan ekspresi dari saling berbagi kasih dan iman kita, bukan hanya keinginan yang saleh, tetapi pembukaan hati, konfirmasi bersama dari iman kita kepada Tuhan yang bangkit dan dalam Roh pemberi kehidupannya; ini adalah dorongan bersama untuk menunjukkan iman ini melalui cara kita berhubungan satu sama lain.
SEMANGAT PENGAMPUNAN
Setelah itu dia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus”. Nafas ini adalah referensi yang jelas untuk Kisah Penciptaan (Kejadian), ketika Tuhan menghembuskan kehidupan ke manusia. Semua ini adalah tindakan simbolis yang menunjukkan dan menggambarkan sesuatu yang spiritual yang tidak dapat disentuh, tidak terlihat, kecuali dalam efeknya dalam cahaya yang diberikannya. Demikian juga, efek Roh Allah, Roh Yesus, harus terlihat dalam cara kita saling berurusan.
Kemudian Yesus melanjutkan: “untuk orang-orang yang dosanya kamu ampuni, mereka diampuni; untuk orang-orang yang dosanya kamu pertahankan, mereka tetap ditahan ”.
Kita mungkin bertanya-tanya: apa hubungan antara menerima Roh Kudus dan pengampunan dosa? Roh adalah hidup. Roh Tuhanlah yang membangkitkan Yesus kembali ke kehidupan. Dosa, di sisi lain, adalah kematian. Karena itu di mana kehidupan dirayakan, harus ada pengampunan dosa. Dalam misa kita berdoa: Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Persatuan dan ikatan dengan Yesus yang mulia hanyalah mungkin, bila orang diampuni dosanya. Dalam diri para rasul dilanjutkan tugas perutusan dari Allah Bapa: “Seperti Bapak telah mengutus Aku, demikian Aku mengutus kamu”. Penampakan-penampakan Yesus mendorong untuk melakukan tindak pengabdian dan melanjutkan karya penyelamatan. Jadi penampakan ini selalu bersifat sosial: agar dapat memberikan kesaksian tentang kebangkitan Kristus.
CINTA ADALAH IMAN?
Kemudian datang kisah terkenal tentang Thomas yang tidak percaya, yang menuntut bukti kebangkitan Yesus sebelum dia percaya. Thomas mewakili banyak dari kita. Kita memiliki kecenderungan untuk mengharapkan bukti dari Tuhan, tanda-tanda yang akan memberi kita kepastian. Adalah normal bahwa kadang-kadang keraguan muncul dalam pikiran kita tentang iman kita dan mungkin tidak pernah secara serius kita memikirkannya. Kita seharusnya tidak malu dengan keraguan kita. Lebih baik membaginya dengan seseorang yang kita percayai, sehingga kita dapat mencari kekuatan dan penegasan satu sama lain. Iman Kristen kita begitu penuh dengan misteri sehingga kita membutuhkan kepercayaan yang luar biasa akan kuasa Allah yang tiada akhir, dan bahkan lebih dalam kasih-Nya yang tak berkesudahan bagi umat manusia. Jika keselamatan harus datang dari akal semata, itu tidak akan berhasil.
Cinta punya alasan yang tidak bisa dimengerti oleh akal. Demikian juga dengan iman kita. Iman dan cinta memiliki banyak kesamaan.
Berbahagialah mereka yang belum melihat dan belum percaya. Tindakan Iman yang kita ungkapkan dalam liturgi kita ini, semoga juga merupakan tindakan kasih kita yang sungguh bagi sesama.
Kristus yang bangkit bukan merupakan “bayangan” atau sekedar “impian”, melainkan tetap seorang pribadi yang utuh. Dengan demikian maka kebangkitan Kristus juga membawa arti bagi dunia manusia yang dibawa serta dalam pribadi itu. Terhadap Kristus yang bangkit itu para murid tidak mampu mengenali dengan kekuatan mereka sendiri. Kristus yang bangkit ternyata merupakan Dia yang tidak dikenali. Hanya bila Dia menyatakan diri dengan membiarkan diri dimengerti, dipahami, lalu orang itu mampu mengenal-Nya. Karena itu iman kepercayaan adalah sebuah karunia, tawaran ilahi bagi manusia.
Ditekankan pula bahwa Persatuan dengan Kristus yang bangkit hanya mungkin dengan “pengampunan segala yang gagal pada manusia”. Tugas para rasul justru mewartakan pengampunan ini, dan menyampaikan pengampunan itu berkat kekuatan Kristus yang bangkit. Oleh sebab itu, penampakan adalah sebuah “panggilan” untuk karya penyelematan Kristus yang terlaksana dalam Gereja. Penampakan bukan sekedar “audiensi” “privat”. Melainkan memberikan kesaksian atas Kristus yang menjadi inti hidup mereka.
Pada hari pertama minggu itu (kalimat ini sangatlah penting). Pertama, Yesus bangkit pada hari pertama dalam minggu. Kedua, setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri-Nya beberapa kali kepada murid-murid-Nya pada hari pertama dalam minggu. Ketiga, Roh Kudus turun atas para rasul juga pada hari minggu. Keempat, kita ingin mendahulukan Tuhan dalam kehidupan kita dengan memberikannya hari pertama di dalam Minggu.
Bagi orang Katolik, hari pertama dalam minggu adalah hari yang sangat penting. Karena itu kita ingin menguduskan hari itu untuk Tuhan. Pada hari itu, kita sebagai satu persekutuan umat Allah berkumpul di Gereja untuk merayakan Ekaristi untuk menimba kasih Tuhan yang boleh menyertai kita dalam perjalanan seminggu.
Hari ini kita merayakan hari minggu Kerahiman Ilahi. Salah satu bentuk Kerahiman Tuhan bagi kita ialah kesabaran-Nya dalam menemani Ketakutan, Ketidak berdayaan dan Luka-luka kita.
Hari ini, Yesus berkata tiga kali kepada kita: “Damai sejahtera bagi kamu”. Damai sejahtera yang pertama mengatasi ketakutan kita. Yesus ada untuk kita. Damai sejahtera yang kedua mengatasi ketakberdayaan kita karena Roh Kudus menguatkan kita. Damai sejahtera yang ketiga ialah pertolongan Tuhan yang dengan penuh kuasa menyembuhkan luka-luka kita.
Kita adalah penerima Kerahiman Allah. Allah berbelas kasih kepada kita. Salah satu hal yang perlu kita sadari dalam hidup beriman ialah tindakan kasih Allah dalam hidup kita. Menyadari tindakan belas kasih Allah atas hidup kita adalah hal yang amat penting. Karena ketika kita menyelam begitu dalam ke dalam misteri lautan belas kasih Allah, kita akan “diubah” oleh kasih Allah itu sendiri sehingga kita menjadi pengasih yang sejati. Marilah kita berdoa bersama: Doa Kepada Allah Yang Maharahim.
MINGGU KERAHIMAN ILAHI
DOA KEPADA ALLAH YANG MAHARAHIM
Allah yang Maharahim, Kebaikan yang tak terbatas,
Hari ini seluruh umat manusia berseru dari jurang kepapaannya kepada kerahiman-Mu,
Kepada belas kasih-Mu, ya Allah; Mereka berseru dengan suara kepapaan yang memilukan.
Ya Allah yang murah hati,
Janganlah menolak doa kaum buangan di bumi ini.
Ya Tuhan, kebaikan yang melampaui pengertian kami,
Engkau sungguh-sungguh mengenal kepapaan kami
dan Engkau mengetahui bahwa dengan kekuatan kami sendiri, kami tidak mampu menghadap Engkau.
Maka kami mohon kepada-Mu:
Limpahilah kami dengan rahmat-Mu
dan tingkatkanlah selalu kerahiman-Mu dalam diri kami,
Supaya kami setia melaksanakan kehendak-Mu yang kudus,
Sepanjang hidup kami dan pada saat kematian kami.
Amin.
