Header Ads Widget

Kemuliaan di Balik Salib

oleh. RD. Paul Tan


Renungan Hari Minggu Paskah VII 
(Yohanes 17:1-11)

Jalatimur.com, - Bagi banyak orang, salib identik dengan penderitaan, kegagalan, dan kehinaan. Namun bagi Yesus, salib justru menjadi jalan kemuliaan. Dalam doa-Nya sebelum sengsara, Yesus berkata: “Bapa, telah tiba saatnya, permuliakanlah Anak-Mu.” Kata-kata ini terdengar mengejutkan, sebab yang menanti Yesus bukanlah mahkota duniawi, melainkan penderitaan dan wafat di kayu salib. Tetapi justru melalui salib itulah Yesus menunjukkan kasih Allah yang tanpa batas. Di sana, kemuliaan Tuhan dinyatakan bukan lewat kekuasaan, melainkan lewat cinta yang rela berkorban sampai akhir.

Salib yang Menjadi Kemuliaan
Dalam hidup manusia, sering kali kemuliaan diukur dari keberhasilan, jabatan, kekayaan, atau penghormatan dunia. Namun Yesus menunjukkan jalan yang berbeda. Bagi-Nya, puncak hidup bukanlah saat dipuji banyak orang, melainkan saat Ia memberikan diri-Nya sepenuhnya demi keselamatan manusia.

Salib menjadi kemuliaan Yesus karena di sanalah Ia menyelesaikan tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya. Ia datang ke dunia untuk menyatakan kasih Allah kepada manusia. Dan kasih itu tidak berhenti di tengah jalan. Yesus tidak mundur ketika penderitaan datang. Ia tetap setia, bahkan sampai wafat di kayu salib.

Andaikan Yesus menghindari salib, manusia mungkin akan berpikir bahwa kasih Allah memiliki batas. Tetapi dengan memanggul salib sampai akhir, Yesus menunjukkan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berhenti sekalipun harus melewati penderitaan.
Salib menjadi tanda bahwa Allah begitu mengasihi manusia.

Ketaatan yang Memuliakan Allah
Yesus memuliakan Bapa melalui ketaatan-Nya yang sempurna. Ia taat bukan karena terpaksa, melainkan karena cinta. Dalam diri Yesus, kita melihat bahwa kasih sejati selalu melahirkan kesetiaan.

Secara manusiawi, Yesus sebenarnya bisa menghindari penderitaan. Ia bisa saja tidak pergi ke Yerusalem. Tetapi Ia memilih tetap berjalan menuju salib karena itulah jalan kehendak Bapa.

Sering kali kita juga ingin mengikuti Tuhan hanya ketika jalan terasa mudah. Namun ketika pengorbanan, luka, atau kesulitan datang, iman kita mulai goyah. Kita ingin lari dari salib kehidupan: masalah keluarga, sakit penyakit, kegagalan, kekecewaan, atau pengkhianatan.

Yesus mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari menghindari salib, tetapi dari kesetiaan dalam memikulnya bersama Tuhan.

Kebangkitan Mengalahkan Rasa Malu Salib
Salib bukanlah akhir dari kisah Yesus. Setelah penderitaan datanglah kebangkitan. Inilah kemenangan Allah atas dosa dan kematian.

Manusia melakukan yang terburuk kepada Yesus: menghina, menyiksa, dan menyalibkan-Nya. Namun kebencian tidak mampu mengalahkan kasih. Allah membangkitkan Yesus dan menunjukkan bahwa kebenaran akhirnya menang.
Kebangkitan menjadi jawaban Allah terhadap salib. Apa yang dianggap dunia sebagai kehinaan, justru menjadi jalan menuju kemuliaan.

Harapan yang sama diberikan kepada kita. Dalam hidup ini mungkin ada luka yang terasa berat, pengorbanan yang tidak dihargai, atau perjuangan yang tampak sia-sia. Tetapi bersama Tuhan, penderitaan tidak pernah menjadi akhir cerita. Selalu ada harapan baru yang disediakan-Nya.

Hidup Kekal Dimulai dari Sekarang
Yesus berbicara tentang hidup kekal bukan sekadar kehidupan setelah kematian. Hidup kekal dimulai ketika manusia mengenal Allah dan hidup dalam hubungan yang dekat dengan-Nya.

Banyak orang mengenal Tuhan hanya sebatas pengetahuan. Mereka tahu tentang Tuhan, tetapi belum sungguh mengalami kasih-Nya. Padahal mengenal Allah berarti mengalami bahwa Dia adalah Bapa yang penuh kasih dan dekat dengan manusia.
Yesus datang untuk menunjukkan wajah Allah yang sesungguhnya. Ia memperlihatkan bahwa Tuhan bukan pribadi yang jauh dan menakutkan, melainkan Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya.

Ketika seseorang sungguh mengenal Tuhan, hidupnya berubah. Ketakutan digantikan oleh pengharapan. Kebencian diganti dengan kasih. Kegelisahan berubah menjadi damai.

Itulah awal hidup kekal: hidup bersama Allah mulai dari sekarang.

Yesus Menyatakan Wajah Allah
Dalam doa-Nya, Yesus berkata: “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada mereka.” Dalam tradisi Kitab Suci, “nama” bukan sekadar sebutan, melainkan menunjuk pada pribadi dan karakter seseorang.

Artinya, melalui Yesus, manusia dapat melihat siapa Allah sebenarnya. Dalam perkataan dan tindakan Yesus, kita melihat hati Allah yang penuh belas kasih.

Ketika Yesus mengampuni orang berdosa, menyembuhkan yang sakit, menerima orang kecil, dan menghibur yang menderita, Ia sedang memperlihatkan wajah Bapa kepada dunia.

Karena itu, mengikuti Yesus berarti belajar hidup seperti Dia: menghadirkan kasih, pengampunan, dan pengharapan bagi sesama.

Menjadi Murid yang Setia
Yesus juga berbicara tentang para murid-Nya. Menjadi murid berarti percaya bahwa Yesus sungguh datang dari Allah dan mau mendengarkan serta melaksanakan sabda-Nya.
Pemuridan bukan hanya soal pengetahuan iman, tetapi soal ketaatan hidup. Seorang murid belajar menyerahkan kehendaknya kepada Tuhan.
Hal ini tidak mudah. Manusia sering lebih suka mengikuti keinginannya sendiri daripada kehendak Allah. Namun justru di situlah letak kedewasaan iman: mau berjalan bersama Tuhan sekalipun jalan itu tidak selalu nyaman.

Menjadi murid juga berarti percaya bahwa Tuhan tetap bekerja melalui kelemahan manusia. Yesus mempercayakan misi besar kepada para murid yang sederhana dan penuh keterbatasan. Ia percaya bahwa kasih Allah dapat mengubah hidup manusia.

Karena itu, kita tidak perlu takut dengan kelemahan diri sendiri. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi hati yang mau setia.

Doa Yesus untuk Murid-Murid-Nya
Salah satu bagian paling indah dalam Injil ini adalah ketika Yesus berdoa bagi para murid-Nya. Ia tidak meminta agar mereka dibebaskan dari kesulitan, tetapi agar mereka dikuatkan dalam menghadapi dunia.

Yesus tahu bahwa menjadi murid tidak selalu mudah. Akan ada tantangan, penolakan, bahkan penderitaan. Namun Ia juga tahu bahwa kasih karunia Allah akan menyertai mereka.

Doa itu tidak hanya berlaku bagi para rasul dahulu, tetapi juga bagi kita hari ini. Yesus tetap mendoakan Gereja-Nya. Ia tetap menguatkan setiap orang yang berusaha hidup setia di tengah dunia yang sering menjauh dari Tuhan.

Kita dipanggil menjadi terang di tengah kegelapan, menjadi pembawa damai di tengah pertikaian, dan menjadi saksi kasih di tengah dunia yang terluka.

Salib Tidak Pernah Sia-Sia
Hari Minggu Paskah VII mengajak kita memandang salib dengan cara yang baru. Salib bukan tanda kekalahan, melainkan tanda kasih yang paling sempurna.

Setiap orang memiliki salib dalam hidupnya. Ada salib penderitaan, kegagalan, kehilangan, sakit penyakit, atau pergumulan batin yang tidak mudah dipahami orang lain. Namun bersama Yesus, salib itu dapat menjadi jalan menuju pertumbuhan iman dan kematangan kasih.

Ketika dipikul bersama Tuhan, salib tidak menghancurkan manusia, tetapi memurnikan hati dan mendekatkan kita kepada Allah.
Dan di balik setiap salib, selalu ada harapan kebangkitan.
Semoga kita tetap setia memikul salib kehidupan bersama Kristus, sebab bersama-Nya penderitaan tidak pernah menjadi akhir, melainkan jalan menuju kemuliaan dan kehidupan baru.

Damai sejahtera senantiasa bersama kita semua.
RD. Paul Tan