Header Ads Widget

Tuhan Naik ke Surga, Gereja Diutus ke Dunia

oleh. RD. Paul Tan

Renungan Hari Raya Kenaikan Tuhan/A
MATIUS 28: 16-20

Jalatimur.com, - Hari Raya Kenaikan Tuhan sering dipahami sebagai perpisahan Yesus dengan para murid-Nya. Padahal, peristiwa ini justru menjadi awal dari sebuah tugas besar: Gereja dipanggil untuk melanjutkan karya kasih Allah di tengah dunia. Injil Matius menutup kisah hidup Yesus bukan dengan kesedihan, tetapi dengan harapan dan perutusan. Para murid yang kecil, rapuh, dan penuh keraguan itu diutus kepada segala bangsa dengan satu janji yang menguatkan: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Dari Perpisahan Menuju Perutusan
Injil Matius (28:16-20) menggambarkan saat-saat terakhir Yesus bersama para murid sebelum Ia naik ke surga. Namun keselamatan tidak berhenti pada kenaikan-Nya. Apa yang telah dimulai oleh Yesus kini diteruskan oleh para murid. Mereka diutus untuk membawa kabar baik kepada semua bangsa.

Menariknya, Yesus tidak menyerahkan tugas itu kepada orang-orang sempurna. Para murid sendiri masih diliputi keraguan. Mereka pernah takut, gagal memahami Yesus, bahkan salah satu dari mereka mengkhianati-Nya. Tetapi justru kepada komunitas kecil yang rapuh itulah Yesus mempercayakan misi besar Kerajaan Allah.

Di sinilah kita belajar bahwa Gereja tidak dibangun atas dasar kesempurnaan manusia, melainkan atas kesetiaan Allah.

Gereja Dipanggil Menjadi Satu
Salah satu ciri utama Gereja adalah persatuan. Para murid berkumpul sebagai satu komunitas di hadapan Yesus yang bangkit. Meski mereka memiliki kelemahan dan pengalaman pahit, mereka tetap tinggal bersama.

Kisah Yudas menjadi pelajaran penting. Tragisnya bukan hanya karena ia mengkhianati Yesus, tetapi karena ia memilih menjauh dan tidak kembali memohon belas kasih Tuhan. Andaikan ia tetap tinggal bersama komunitas para murid, kisah hidupnya mungkin berbeda.

Hari ini, tantangan persatuan masih nyata. Perpecahan sering lahir karena ambisi pribadi, ego kelompok, politik, atau merasa diri paling benar. Bahkan dalam kehidupan menggereja, perbedaan pendapat kadang berubah menjadi saling menyerang.

Padahal, persatuan bukan berarti semua orang harus sama. Gereja justru hidup dari keberagaman karunia, cara berpikir, dan pelayanan. Ada yang cenderung konservatif dan menjaga tradisi, ada pula yang progresif dan mendorong pembaruan. Selama semuanya tetap berakar pada Kristus dan mencari kebaikan bersama, perbedaan itu dapat menjadi kekayaan.

Persatuan sejati lahir ketika orang mau merendahkan diri, mendengarkan satu sama lain, dan menempatkan kasih di atas kepentingan pribadi.

Ekumenisme: Membangun Jembatan, Bukan Tembok
Yesus mengutus para murid kepada semua bangsa, bukan untuk menciptakan permusuhan baru. Karena itu, semangat ekumenisme menjadi penting: membangun persaudaraan antarumat Kristen.

Ekumenisme bukan soal mencari siapa yang paling benar, melainkan bagaimana bersama-sama mencari wajah Kristus yang sejati. Banyak luka dalam sejarah Gereja lahir dari sikap saling menghakimi dan menuduh.

Kita dipanggil untuk melihat hal-hal baik dalam sesama, bukan hanya kelemahannya. Dalam semangat itu, orang belajar menghargai perbedaan tradisi, cara berdoa, dan bentuk penghayatan iman.

Kasih Allah terlalu besar untuk dibatasi oleh kelompok tertentu. Tuhan tidak datang hanya untuk segelintir orang, tetapi untuk seluruh umat manusia.

Kesatuan Dibangun Lewat Kasih
Persatuan tidak dibangun terutama lewat aturan, tetapi lewat pelayanan kasih. Ketika orang sungguh melayani dengan tulus, banyak keraguan dan perbedaan dapat dipersatukan.

Seorang guru mungkin lelah mendidik murid yang sulit berubah. Orangtua bisa kecewa menghadapi anak yang keras kepala. Pasangan suami istri kadang bertanya apakah pengorbanan mereka masih berarti. Namun kasih yang sabar sering menjadi jawaban yang paling nyata.

Yesus sendiri menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari kedekatan dengan Bapa dan pelayanan kepada sesama.

Gereja akan tetap hidup bila umatnya mau saling menopang, bukan saling menjatuhkan.

Gereja untuk Semua Bangsa
Kenaikan Tuhan juga menegaskan bahwa Gereja bersifat universal. Para murid diutus kepada semua bangsa tanpa membedakan suku, ras, budaya, maupun status sosial.

Yesus sendiri dekat dengan orang miskin, orang berdosa, dan mereka yang disingkirkan masyarakat. Karena itu, Gereja dipanggil untuk terbuka kepada siapa saja.

Iman Kristiani tidak menghancurkan budaya, tetapi menyucikan dan menyempurnakannya. Setiap budaya memiliki nilai luhur yang dapat diperkaya oleh Injil. Sabda Yesus dapat berakar dalam berbagai tradisi manusia tanpa kehilangan kebenarannya.

Dalam konteks masyarakat kita, hal ini penting. Gereja tidak boleh menjadi tempat eksklusif bagi kelompok tertentu, melainkan rumah bersama bagi semua orang.

Kekudusan yang Nyata dalam Kehidupan
Kekudusan bukan pertama-tama soal penampilan religius, tetapi tentang cara hidup. Injil Matius menekankan bahwa mengikuti Yesus berarti menjalankan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Kekudusan tampak ketika orang memilih jujur, setia, mengampuni, menolong sesama, dan menolak menyalahgunakan kekuasaan. Kekudusan hadir dalam hal-hal sederhana: kesabaran orangtua, kejujuran pekerja, pengorbanan guru, atau kesetiaan pasangan suami istri.

Gereja memang tidak sempurna. Sejarah menunjukkan bahwa umat dan para pemimpinnya pun pernah jatuh dalam kesalahan. Tetapi kelemahan manusia tidak menghapus kesetiaan Tuhan.

Karena itu, memperbarui Gereja bukan hanya tugas imam atau uskup. Semua orang yang dibaptis memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan wajah Gereja yang lebih penuh kasih, rendah hati, dan melayani.

Yesus Tetap Menyertai
Pesan terakhir Yesus dalam Injil Matius menjadi sumber penghiburan terbesar: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Yesus memang naik ke surga, tetapi Ia tidak meninggalkan umat-Nya. Ia tetap hadir dalam Sabda, sakramen, komunitas, dan dalam setiap tindakan kasih.

Para murid dahulu memulai misi yang tampaknya mustahil. Mereka hanyalah kelompok kecil tanpa kekuatan politik dan tanpa pengaruh besar. Namun mereka percaya bahwa kuasa Tuhan bekerja melalui keterbatasan manusia.

Dan sejarah membuktikan: Injil terus hidup hingga hari ini. Kasih Tuhan tetap hadir di tengah orang miskin, mereka yang menderita, para pekerja kemanusiaan, keluarga-keluarga sederhana, dan komunitas-komunitas kecil yang setia melayani.

Kenaikan Tuhan mengingatkan kita bahwa iman bukan sekadar memandang langit, tetapi keberanian melanjutkan karya kasih Allah di bumi.

Selamat Merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan
Kiranya kita semua semakin berani menjadi Gereja yang bersatu, terbuka, kudus, dan setia melayani, karena Tuhan tetap menyertai umat-Nya sepanjang zaman.

RD. Paul Tan