Oleh. Pater Paul Tan, Pr
Jalatimur.com, - Dalam keheningan ruang tertutup dan kegelisahan hati para murid, Yesus hadir membawa damai. Ia tidak menghakimi, tetapi mengampuni; tidak menjauh, tetapi mendekat —bahkan pada mereka yang ragu. Di Hari Minggu Kerahiman Ilahi ini, renungan Pater Paul Tan ini mengundang kita untuk percaya: bahwa kasih Tuhan lebih besar dari luka, dan kerahiman-Nya sanggup mengubah hidup kita.
HARI MINGGU PASKAH II/A
YOHANES 20:19-31
IMAN KEBANGKITAN
Pada hari Minggu setelah Paskah, kita akan melihat berbagai ekspresi dari pengalaman kebangkitan para murid dan pengikut Yesus. Seperti Kisah hari ini, sebagaimana dijelaskan oleh Yohanes, yang terdiri dari dua bagian: penampakan pertama Yesus pada malam Minggu Paskah, yang juga muncul dalam berbagai bentuk dalam Injil Matius dan Lukas. Dan penampilan kedua Yesus, delapan hari kemudian yang hanya ditemukan dalam Injil Yohanes, dan fokus dari kisah kedua ini adalah pada kata-kata penutup Yesus: "Berbahagialah mereka yang belum melihat dan belum percaya". Kata-kata ini terutama ditujukan untuk pembaca Yohanes dan bagi mereka yang datang setelah mereka seperti kita - yang diharapkan untuk percaya karena kesaksian para saksi pertama, tanpa melihat diri mereka sendiri.
ROH
Yohanes mengatakan bahwa pintu-pintu ditutup di tempat para murid karena takut kepada orang- orang Yahudi. Ketakutan ini akan hilang ketika Roh Kudus akan mengirim mereka untuk memberitakan Injil pada hari Pentakosta. Meskipun pintu-pintu ditutup, Yesus berdiri di tengah- tengah mereka. Apakah dia roh? Tidak, dia adalah Yesus yang bangkit, Yesus dari Nazaret, yang telah dibunuh dan dibangkitkan dari kematian. Jelas bahwa tubuhnya sekarang dalam keadaan yang berbeda. Ketika Yesus menampakkan diri kepada Maria dari Magdala, dia pikir dia adalah tukang kebun. Ketika Yesus berjalan di atas air, mereka mengira dia adalah roh. Namun Yesus makan bersama mereka. Ini semua adalah cara yang berbeda untuk menggambarkan sesuatu yang tidak dapat benar-benar dimasukkan ke dalam kata-kata manusia karena sulit dimegerti dari pengalaman indera kita.
MISI DAMAI
Yesus menyapa mereka dengan kata-kata “Damai sejahtera bagi kamu”. Ini lebih dari harapan yang saleh atau kata penghiburan. Itu adalah kata yang tidak hanya berarti kedamaian tetapi juga secara efektif memberikan kedamaian itu, kedamaian Roh Allah. Dan ini disertai dengan sebuah misi: "Seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu". Damai yang diberikan Tuhan bukanlah damai untuk duduk dan menjaga diri sendiri. Tidak, itu adalah kedamaian yang keluar dan membagikan pesan kebaikan dan cinta Tuhan.
Selama perayaan Ekaristi, kami juga saling mendoakan. Ini juga merupakan ekspresi dari saling berbagi kasih dan iman kita, bukan hanya keinginan yang saleh, tetapi pembukaan hati, konfirmasi bersama dari iman kita kepada Tuhan yang bangkit dan dalam Roh pemberi kehidupannya; ini adalah dorongan bersama untuk menunjukkan iman ini melalui cara kita berhubungan satu sama lain.
SEMANGAT PENGAMPUNAN
Setelah itu dia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus”. Nafas ini adalah referensi yang jelas untuk kisah penciptaan Kejadian, ketika Tuhan menghembuskan kehidupan ke manusia. Semua ini adalah tindakan simbolis yang menunjukkan dan menggambarkan sesuatu yang spiritual yang tidak dapat disentuh, tidak terlihat, kecuali dalam efeknya dalam cahaya yang diberikannya. Demikian juga, efek Roh Allah, Roh Yesus, harus terlihat dalam cara kita saling berurusan.
Kemudian Yesus melanjutkan:“untuk orang-orang yang dosanya kamu ampuni, mereka diampuni; untuk orang-orang yang dosanya kamu pertahankan, mereka tetap ditahan ”.
Kita mungkin bertanya-tanya: apa hubungan antara menerima Roh Kudus dan pengampunan dosa? Roh adalah hidup. Roh Tuhanlah yang membangkitkan Yesus kembali ke kehidupan. Dosa, di sisi lain, adalah kematian.Karena itu di mana kehidupan dirayakan, harus ada pengampunan dosa. Dalam misa kita berdoa: Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Persatuan dan ikatan dengan Yesus yang mulia hanyalah mungkin, bila orang diampuni dosanya. Dalam diri para rasul dilanjutkan tugas perutusan dari Allah Bapa: “Seperti Bapak telah mengutus Aku, demikian Aku mengutus kamu”. Penampakan-penampakan Yesus mendorong untuk melakukan tindak pengabdian dan melanjutkan karya penyelamatan. Jadi penampakan ininselalu bersifat social: agar dapat memberikan kesaksian tentang kebangkitan Kristus.
CINTA ADALAH IMAN?
Kemudian datang kisah terkenal tentang Tomas yang tidak percaya, yang menuntut bukti kebangkitan Yesus sebelum dia percaya. Thomas mewakili banyak dari kita. Kita memiliki kecenderungan untuk mengharapkan bukti dari Tuhan, tanda-tanda yang akan memberi kita kepastian. Adalah normal bahwa kadang-kadang keraguan muncul dalam pikiran kita tentang iman kita dan mungkin tidak pernah secara serius kita memikirkannya. Kita seharusnya tidak malu dengan keraguan kita. Lebih baik membaginya dengan seseorang yang kita percayai, sehingga kita dapat mencari kekuatan dan penegasan satu sama lain. Iman Kristen kita begitu penuh dengan misteri sehingga kita membutuhkan kepercayaan yang luar biasa akan kuasa Allah yang tiada akhir, dan bahkan lebih dalam kasih-Nya yang tak berkesudahan bagi umat manusia. Jika keselamatan harus datang dari akal semata, itu tidak akan berhasil.
Cinta punya alasan yang tidak bisa dimengerti oleh akal. Demikian juga dengan iman kita. Iman dan cinta memiliki banyak kesamaan. Berbahagialah mereka yang belum melihat dan belum percaya. Tindakan Iman yang kita ungkapkan dalam liturgi kita ini, semoga juga merupakan tindakan kasih kita yang sungguh bagi sesama.
Kristus yang bangkit bukan merupakan “bayangan” atau sekedar “impian”, melainkan tetap seorang pribadi yang utuh. Dengan demikian maka kebangkitan Kristus juga membawa arti bagi dunia manusia yang dibawa serta dalam pribadi itu.Terhadap Kristus yang bangkit itu para murid tidak mampu mengenali dengan kekuatan mereka sendiri. Kristus yang bangkit ternyata merupakan Dia yang tidak dikenali. Hanya bila Dia menyatakan diri dengan membiarkan diri dimengerti, dipahami, lalu orang itu mampu mengenal-Nya. Karena itu iman kepercayaan adalah sebuah karunia, tawaran ilahi bagi manusia. Ditekankan pula bahwa Persatuan dengan Kristus yang bangkit hanya mungkin dengan “pengampunan segala yang gagal pada manusia”. Tugas para rasul justeru mewartakan pengampunan ini, dan menyampaikan pengampunan itu berkat kekuatan Kristus yang bangkit. Karena itu penampakan adalah sebuah “panggilan” untuk karya penyelamatan Kristus yang terlaksana dalam Gereja. Penampakan bukan sekedar “audiensi” “privat”, melainkan memberikan kesaksian atas Kristus yang menjadi inti hidup mereka.
Pada hari pertama minggu itu (kalimat ini sangatlah penting). Pertama, Yesus bangkit pada hari pertama dalam minggu. Kedua, setelah kebangkitanNya, Yesus menampakkan diriNya beberapa kali kepada murid-muridNya pada hari pertama dalam minggu. Ketiga, Roh Kudus turun atas para rasul juga pada hari minggu. Keempat, kita ingin mendahulukan Tuhan dalam kehidupan kita dengan memberikannya hari pertama di dalam minggu. Bagi orang Katolik, hari pertama dalam minggu adalah hari yang sangat penting. Karena itu kita ingin menguduskan hari itu untuk Tuhan. Pada hari itu kita sebagai satu persekutuan umat Allah berkumpul di Gereja untuk merayakan Ekaristi untuk menimba kasih Tuhan yang boleh menyertai kita dalam perjalanan seminggu.
Hari ini kita merayakan hari Minggu Kerahiman Ilahi. Salah satu bentuk kerahiman Tuhan bagi kita ialah kesabaranNya dalam menemani Ketakutan, Ketidak-berdayaan dan Luka-luka kita.
Hari ini, Yesus berkata tiga kali kepada kita: “Damai sejahtera bagi kamu”. Damai sejahtera yang pertama mengatasi ketakutan kita. Yesus ada untuk kita. Damai sejahtera yang kedua mengatasi ketakberdayaan kita karena Roh Kudus menguatkan kita. Damai sejahtera yang ketiga ialah pertolongan Tuhan yang dengan penuh kuasa menyembuhkan luka-luka kita.
Kita adalah penerima kerahiman Allah. Allah berbelas kasih kepada kita. Salah satu hal yang perlu kita sadari dalam hidup beriman ialah tindakan kasih Allah dalam hidup kita. Menyadari tindakan belas kasih Allah atas hidup kita adalah hal yang amat penting. Karena ketika kita menyelam begitu dalam ke dalam misteri lautan belas kasih Allah, kita akan “diubah” oleh kasih Allah itu sendiri sehingga kita menjadi pengasih yang sejati.
MINGGU KERAHIMAN ILAHI
DOA KEPADA ALLAH YANG MAHARAHIM
Allah yang maharahim, Kebaikan yang tak terbatas,
Hari ini seluruh umat manusia berseru
Dari jurang kepapaannya kepada kerahiman-Mu, Kepada belas kasih-Mu, ya Allah.
Mereka berseru dengan suara kepapaan yang memilukan.
Ya Allah yang murah hati,
Janganlah menolak doa kaum buangan di bumi ini.
Ya Tuhan, kebaikan yang melampaui pengertian kami, Engkau sungguh-sungguh mengenal kepapaan kami Dan Engkau mengetahui bahwa
Dengan kekuatan kami sendiri Kami tidak mampu menghadap Engkau.
Maka kami mohon kepada-Mu: Limpahilah kami dengan rahmat-Mu
Dan tingkatkanlah selalu kerahiman-Mu dalam diri kami Supaya kami setia melaksanakan kehendak-Mu yang kudus Sepanjang hidup kami dan pada saat kematian kami.Amin.
@RD. Paul Tan
