Oleh: Martinus Join, S.Fil*
Jayapura, JalaTimur.com., — SMP YPPK Bonaventura Sentani kembali menghidupi semangat pembinaan karakter melalui kegiatan rekoleksi siswa-siswi yang akan berlangsung selama enam hari. Di mulai Selasa, 24 Februari 2026 sampai Selasa, 03 Maret 2026. Mengusung tema “Belajar Menjadi Manusia, Bukan Sekadar Murid”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi mendalam bagi peserta didik untuk menumbuhkan kematangan hati di tengah tantangan zaman. Rekoleksi dilaksanakan di Aula Paroki Gereja Sang Penebus Sentani, sebuah tempat yang sarat nuansa rohani dan keheningan. Lingkungan gereja yang teduh dan kontemplatif membantu para siswa keluar sejenak dari rutinitas akademik, memasuki suasana refleksi, doa, dan pembinaan batin.
Berkaca pada realita, dengan derasnya tuntutan nilai, peringkat, dan kemajuan teknologi, rekoleksi siswa-siswi SMP YPPK Bonaventura dengan tema yang menggugah, mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya. Apakah sekolah hanya tempat mengejar angka, atau ruang untuk membentuk hati? Apakah menjadi murid cukup dengan hadir di kelas dan mengerjakan tugas, ataukah ada panggilan lebih dalam untuk belajar jujur, menghargai sesama, mengendalikan emosi, dan menemukan jati diri? Jika kecerdasan intelektual bisa diuji dengan soal, di manakah empati, tanggung jawab, dan iman ditempa? Dan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, sudahkah kita sungguh bertumbuh sebagai manusia, atau baru sekadar menjalankan peran sebagai murid dan guru tanpa menyentuh kedalaman makna hidup itu sendiri?
Mendobrak Tantangan Zaman
Dalam refleksi tema, pemateri menyoroti realitas zaman yang semakin kompleks. Dunia teknologi berkembang sangat pesat. Media sosial membuka ruang komunikasi tanpa batas, tetapi juga berpotensi melahirkan ujaran kebencian, perundungan, dan hilangnya empati. Konteks Kurikulum Merdeka yang memberi kebebasan belajar menjadi peluang besar bagi kreativitas siswa. Namun kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi sikap masa bodoh terhadap etika dan penghormatan. Dalam dinamika pendidikan modern, sering kali muncul situasi di mana undang-undang dan pasal-pasal perlindungan murid disalahpahami, sehingga relasi hormat terhadap guru semakin memudar.
Rekoleksi ini menegaskan kembali bahwa kebebasan sejati tidak berarti bebas tanpa batas, melainkan kebebasan yang disertai kedewasaan dan tanggung jawab moral. Seperti ditegaskan dalam Kitab Amsal: “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” (Amsal 1:7). Artinya, kebijaksanaan lahir dari hati yang sadar akan nilai dan batas. Kepala SMP YPPK Bonaventura, Bapak Indra Muliawan, S.Pd dalam arahannya saat pembukaan, menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter. “Sekolah boleh memiliki kurikulum yang merdeka, tetapi hati tetap harus berakar pada nilai hormat, tanggung jawab, dan kasih. Guru harus dihargai sebagai pendamping pertumbuhan, dan murid dibina menjadi pribadi yang berintegritas,” tegasnya.
Spiritualitas Fransiskan yang Membumi
Rekoleksi ini dipandu oleh Pater Lambertus Klau OFM, yang dikenal dengan kedalaman spiritualitas Fransiskan. Terinspirasi oleh teladan Fransiskus dari Assisi, ia mengajak siswa-siswi untuk belajar kerendahan hati, kesederhanaan, dan kebaikan sebagai dasar hidup bersama. Dalam salah satu sesinya, Pater Lamber menekankan bahwa Yesus yang menulis di tanah sedang mengajar dunia tentang refleksi batin. “Sebelum menilai orang lain, tulislah dahulu di tanah hatimu sendiri,” ujarnya. Spiritualitas ini menjadi angin segar yang menyejukkan suasana pembinaan.
Dalam setiap sesi rekoleksi Pater Lamber di selingi dengan permainan. Permainan seperti, lari zigzag dan memecahkan plastik yang ditiupkan menggambarkan bahwa hidup tidak selalu lurus dan mudah. Setiap orang pasti menghadapi rintangan, kebingungan arah, bahkan tekanan. Plastik yang harus dipecahkan melambangkan ketakutan, rasa malas, ego, dan sikap menyerah yang sering menghalangi pertumbuhan. Untuk menjadi manusia sejati, seseorang harus berani menghadapi dan menembus batas dirinya sendiri. Ketika tema rekoleksi dijelaskan, peserta diajak menyadari bahwa menjadi murid hanyalah sebuah status, tetapi menjadi manusia adalah sebuah panggilan. Murid bisa saja pintar secara akademik, tetapi manusia sejati adalah pribadi yang memiliki karakter, empati, tanggung jawab, dan hati nurani.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju, kurikulum yang terus berubah, serta aturan-aturan yang mengatur kehidupan sekolah, pendidikan tidak boleh kehilangan rohnya. Pendidikan sejati adalah pembentukan hati, bukan hanya pengisian kepala. Permainan cerita dan pindah arah mengajarkan pentingnya mendengar dengan baik dan mengikuti instruksi dengan penuh perhatian. Dalam kehidupan nyata, sering kali kita salah langkah karena tidak sungguh-sungguh mendengar. Hidup bisa berubah arah kapan saja, dan hanya orang yang fokus serta rendah hati yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan tujuan.
Selian itu, permainan pingpong head challenge melatih konsentrasi, keseimbangan, dan kesabaran. Bola yang mudah jatuh melambangkan tanggung jawab yang rapuh ketika tidak dijaga dengan serius. Gelas yang diikat di kepala menjadi simbol pikiran dan kesadaran diri. Tanpa fokus dan pengendalian diri, apa yang kita jaga bisa terjatuh. Dari sini peserta belajar bahwa proses lebih penting daripada kecepatan, dan kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari latihan menjadi dewasa. Permainan cerita dan pindah posisi semakin memperdalam kesadaran akan empati. Ketika peserta harus berpindah tempat mengikuti peran dalam cerita, mereka belajar melihat dari sudut pandang orang lain. Hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang memahami, menghargai, dan berjalan bersama.
Akhirnya, diskusi kelompok dan presentasi melatih keberanian untuk bersuara sekaligus kerendahan hati untuk mendengarkan. Di sana para siswa belajar berdialog, bukan saling menghakimi. Mereka diajak berpikir, merefleksikan pengalaman, dan menyampaikan pemahaman mereka tentang arti menjadi manusia. Seluruh rangkaian rekoleksi ini menegaskan satu pesan mendalam. Sekolah bukan hanya tempat mencari nilai, tetapi tempat membentuk hati dan karakter. Dunia mungkin akan melihat rapor, tetapi Tuhan dan sesama melihat sikap, tindakan, dan kasih yang kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi murid itu penting, tetapi menjadi manusia yang utuh, beriman, dan berbelas kasih jauh lebih penting.
Suara Hati Para Peserta
 |
| Rekoleksi diselingi dengan permainan (dok, pen) |
Alvaro, siswa kelas VIII E, mengungkapkan kesannya,
“Kegiatan ini menumbuhkan semangat dan motivasi baru bagi kami untuk melangkah menjadi murid yang berhati mulia. Saya belajar bahwa menjadi pintar saja tidak cukup, tetapi harus punya hati yang baik.”
Sementara itu, Juanita dari kelas IX C menyoroti indahnya persaudaraan lintas iman yang dirasakan selama rekoleksi.
“Meski kami terdiri dari berbagai agama: Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha, tema ini membuat kami semakin erat dalam persaudaraan tanpa memandang perbedaan. Seperti Yesus mengampuni orang berdosa, kami belajar untuk saling menerima dan merangkul satu sama lain.”
Samuel kelas VII F dalam sesi pinpong head challenge menyampaikan aspirasinya:
“Permainan ini bukan sekedar pemindahan bola, tetapi melatih kami untuk fokus, kesabaran, keseimbangan, kerja sama tim, tidak mudah menyerah saat jatuh, dan penting mengendalikan diri juga emosi”.
Dalam hidup bukan hanya soal cepat, tapi soal seimbang, fokus, dan sabar dalam proses. Sama seperti Bapa/Ibu guru mendidik kami untuk tetap sabar dan setia mendampingi, meski kami terus berbuat kesalahan. Kekompakan Bapa/Ibu guru mendampingi selama kegiatan berlangsung menjadi motivasi dan kekuatan tersendiri bagi kami, tegasnya.
Ditutup dengan Perayaan Ekaristi
Pada hari terakhir, Rabu, 04 Maret 2026, rekoleksi akan ditutup dengan Perayaan Ekaristi bersama. Dalam iman Katolik, Ekaristi dipahami sebagai puncak dan sumber kehidupan Kristiani, perayaan syukur atas kasih Allah yang nyata dalam pengorbanan Kristus (bdk. KGK, no. 1324-1327). Ekaristi bukan sekadar ritual, melainkan perjumpaan nyata dengan Kristus yang menghadirkan kasih, pengampunan, dan pembaruan hidup. Dalam perjamuan kudus, para siswa diajak menyadari bahwa hidup sebagai manusia berarti hidup yang rela berbagi, berkorban, dan membangun persekutuan. Sebagaimana ditegaskan dalam Injil Lukas 22:19; “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
Bagi siswa-siswi, Ekaristi menjadi cermin bahwa mereka dipanggil bukan hanya untuk menjadi murid yang mengejar nilai, tetapi pribadi yang rela berbagi, peduli, dan berkorban bagi sesama. Makna Ekaristi bagi mereka sangat konkret. Pertama, mereka belajar bahwa kebersamaan yang mereka alami selama rekoleksi adalah gambaran Gereja. Sebuah komunitas yang saling mendukung dan menguatkan. Kedua, mereka menyadari bahwa setiap usaha kecil untuk berubah menjadi lebih baik, sekecil apa pun, dipersembahkan kepada Tuhan seperti roti dan anggur yang sederhana namun bermakna besar. Ketiga, mereka dipanggil untuk membawa semangat rekoleksi itu kembali ke ruang kelas, keluarga, dan lingkungan pergaulan.
Dengan ditutupnya rekoleksi melalui Ekaristi, para siswa tidak hanya “mengakhiri sebuah kegiatan”, tetapi menerima perutusan. Mereka diutus untuk menjadi terang dan garam di sekolah, untuk lebih menghargai guru, lebih menghormati orang tua, lebih jujur dalam belajar, dan lebih peduli terhadap teman yang lemah. Ekaristi mengingatkan bahwa hidup yang diberkati adalah hidup yang dibagikan. Maka rekoleksi tidak berhenti di aula atau gereja, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud nyata menjadi manusia, bukan sekadar murid.
Persaudaraan Tanpa Sekat
Rekoleksi ini menjadi pesan kuat bahwa SMP YPPK Bonaventura bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi rumah persaudaraan. Di sekolah ini, persahabatan tidak dikotak-kotakkan oleh perbedaan budaya, suku, agama, latar belakang sosial, maupun ekonomi. Dalam dunia yang mudah terpecah oleh identitas dan perbedaan, para siswa diajak membangun persahabatan sejati. Tentang persahabatan yang menghargai, merangkul, dan meneguhkan. Seperti Yesus yang tidak melempar batu, tetapi mengangkat martabat manusia, demikian pula siswa-siswi Bonaventura dipanggil untuk menjadi generasi yang menghadirkan damai. Belajar menjadi manusia berarti berani mengampuni, berani menghormati, dan berani bersahabat tanpa sekat. Di tengah kemajuan teknologi dan kompleksitas zaman, persaudaraan tetap menjadi cahaya yang menyatukan.
 |
| Dokumentasi kegiatan rekoleksi (foto, Pen) |
Rekoleksi ini dihadirkan sebagai ruang refleksi bagi para siswa untuk berhenti sejenak dari tekanan akademik dan hiruk-pikuk digital, serta menumbuhkan kesadaran bahwa menjadi murid yang pintar harus berjalan seiring dengan proses belajar menjadi manusia. Manusia yang mampu menghormati guru, menggunakan teknologi secara bijak, menolak bullying, dan membangun relasi yang sehat dengan sesama. Rekoleksi ini diharapkan membantu siswa bertumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dewasa secara sikap dan manusiawi dalam tindakan, sehingga nilai iman dan kemanusiaan sungguh hidup dalam keseharian di sekolah. Melalui tema “Belajar Menjadi Manusia, Bukan Sekedar Murid”, rekoleksi ini diharapkan menjadi sarana refleksi bersama agar sekolah sungguh menjadi ruang pembelajaran hidup, tempat siswa tidak hanya menimbah ilmu pengetahun, tetapi juga belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab, berempati, dan bermartabat.
*Martinus Join, S.Fil adalah staf pengajar pada SMP YPPK Bonaventura Sentani