Header Ads Widget

ARAH BARU GEREJA KATOLIK KEUSKUPAN JAYAPURA: Tujuh Agenda Konkret Pasca-Sinode



JalaTimur.com., Jayapura — Sinode Keuskupan Jayapura ditutup dengan seruan keterlibatan, solidaritas, dan keberanian Go Public. Setelah berlangsung selama sepekan penuh, Sidang Sinode Keuskupan Jayapura yang digelar sejak 2 hingga 8 Februari 2026 resmi ditutup dalam Misa Akbar di Gedung Istora Papua Bangkit, Kampung Harapan, Minggu (8/2/2026). Penutupan Sinode ditandai dengan sambutan pastoral Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, yang menegaskan arah baru Gereja Katolik Keuskupan Jayapura sebagai Gereja Misioner yang Mandiri, Partisipatif, Solider, dan Terlibat di Tengah Masyarakat.

Dalam sambutannya di hadapan sekitar 5.000–6.000 umat Katolik, peserta sinode, serta para tamu undangan dari unsur pemerintah dan tokoh masyarakat, Mgr. Yan menyampaikan bahwa Sinode bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari pertobatan bersama dan pembaruan hidup menggereja di Keuskupan Jayapura.

Mgr. Yan menegaskan bahwa Sinode Keuskupan Jayapura telah merumuskan satu visi besar yang akan menjadi kompas perjalanan Gereja ke depan, yakni mewujudkan Gereja Misioner yang Mandiri, Partisipatif, Solider, dan Terlibat di Tengah Masyarakat. Visi ini kemudian dijabarkan ke dalam enam misi utama: (a) membangun Gereja yang mandiri di tengah masyarakat Papua; (b) menghadirkan Gereja yang solider dan terlibat aktif dalam realitas sosial; (c) menata persekutuan Gereja mandiri yang berorientasi misioner melalui keluarga, Komunitas Basis Gerejawi (KBG), dan persekutuan khas Papua; (d) membangun fasilitas serta tata kelola keuangan yang mendukung karya misi; (e) membina pelayan-pelayan pastoral yang berjiwa misioner; serta (f) membangun Gereja yang partisipatif dengan keterlibatan seluruh umat.

Suasana Sidang Sinode, 2-7 Februari 2026 di Aula BPSDA Provinsi Papua, Kotaraja

Selama hari-hari persidangan sinode, visi dan misi tersebut telah didalami secara komprehensif melalui telaah aspek teologis, kebijakan pastoral, dan program-program strategis yang akan menjadi pedoman pastoral Keuskupan Jayapura di masa mendatang.

Tujuh Agenda Aktualisasi Pasca-Sinode

Secara khusus, Mgr. Yan menguraikan tujuh hal konkret yang akan diaktualisasikan Keuskupan Jayapura pasca-Sinode.

Pertama, pendalaman iman umat melalui spiritualitas Santo Fransiskus Asisi, seiring penetapan Tahun 2026 sebagai Tahun Yubelium Fransiskan untuk memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus. Katekese umat ini diharapkan menumbuhkan kembali semangat hidup sederhana, damai, dan solider di tengah tantangan zaman.

Kedua, penyelenggaraan Kursus Misi atau Sekolah Misi untuk mempersiapkan kader-kader misionaris, baik tertahbis maupun awam, agar menjadi pewarta Injil yang hidup dan relevan di tengah masyarakat.

Ketiga, pembinaan kaum muda lintas agama dan budaya. Menurut Mgr. Yan, kaum muda adalah agen pembaruan Gereja dan masyarakat. Melalui pendidikan dan pembinaan yang inklusif—termasuk kehadiran Universitas Katolik Fajar Timur—kaum muda dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan yang beriman, bermoral, dan mampu merawat persaudaraan dalam keberagaman.

Keempat, perubahan struktur pelayanan Gereja, dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi kaum awam untuk terlibat aktif dalam kehidupan menggereja, bekerja sama secara sinodal dengan hirarki dan kaum religius.

Kelima, pembaruan statuta. Maksudnya adalah perubahan dari status Stasi kepada quasi Paroki di Samenage, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Hal ini bertujuan agar pelayanan kepada umat Katolik, termasuk pembinaan iman, sakramen-sakramen, dan pendidikan bagi anak-anak, semakin ditingkatkan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan statuta unit-unit karya keuskupan, bisa saja diperbaharui agar selaras dengan semangat visi-misi baru Keuskupan Jayapura.

Keenam, pemekaran paroki-paroki, terutama di wilayah-wilayah pinggiran pada empat dekenat—Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Keerom, dan Jayapura—agar pelayanan pastoral semakin dekat dengan umat yang selama ini kurang terjangkau.

Ketujuh, penguatan pelayanan sosial Gereja di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat melalui koperasi dan Credit Union sebagai gerakan kemandirian ekonomi.

Seruan Profetis: Jaga Tanah, Jaga Kehidupan

Dalam nada profetis yang kuat, Mgr. Yan juga menyerukan kepada umat, khususnya masyarakat asli Papua, untuk menjaga tanah, hutan, dan dusun sebagai sumber kehidupan.

 “Jaga tanah, jaga hutan dan dusun. Jangan jual, tetapi pelihara dan gunakan dengan baik untuk kelangsungan hidupmu sendiri,” tegasnya, disambut tepuk tangan umat.

Uskup Jayapura itu juga mengajak umat untuk mendukung karya misi melalui pemberian panggilan imam dan katekis, serta dukungan dana pastoral. Program Geser (Gerakan Seribu) ditegaskan akan terus dilanjutkan sebagai wujud tanggung jawab bersama membiayai misi Gereja.

Lebih jauh, Mgr. Yan menekankan bahwa Gereja Misioner Keuskupan Jayapura harus berani go public, hadir di tengah luka-luka sosial masyarakat, menyuarakan kebenaran, dan membela mereka yang miskin, menderita, serta tak terdengarkan. “Benar bilang benar, salah bilang salah. Itulah prinsip Matopai,” ujarnya.

Apresiasi dan Kado Penutupan Sinode

Pemberian SK Izin Operasional Universitas Katolik Fajar Timur dari Ketua Kopertis Wilayah VIII, Prof. Hamdan Juhannis, Ph.D kepada Ketua Yayasan P. Gabriel Ngga, OFM


Pada akhir sambutannya, Mgr. Yan menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak, termasuk Gubernur Papua, Gubernur Papua Tengah, Sekda Provinsi Papua, MRP, DPR, para kepala daerah, tokoh agama, adat, perempuan, panitia, peserta sinode, serta seluruh umat Katolik Keuskupan Jayapura.

Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada Dr. Suriel Samuel Mofu, S.Pd., M.Ed., TEFL, M.Phil (Oxon), Kepala LLDIKTI Wilayah XIV, yang membawahi wilayah Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, atas terbitnya Izin Perubahan Bentuk STFT Fajar Timur menjadi UNIKA Fajar Timur dengan nomor: 30/B/O/2026, per tanggal 9 Januari 2026, yang secara resmi diluncurkan pada sesi terakhir Sinode sebagai “kado istimewa” penutupan.

Dengan berakhirnya Sinode Keuskupan Jayapura, Gereja Katolik di Tanah Papua kini melangkah ke babak baru: menapaki jalan misi dengan semangat sinodal, keberanian profetis, dan keterlibatan nyata di tengah masyarakat. (Demmy Namsa)