Pater Paul Tan, Pr
Renungan Minggu Biasa II, 18 Jan 2026
Yesus Kristus disebut Anak Domba Allah bukan sekadar gelar simbolik, melainkan kunci untuk memahami seluruh karya keselamatan. Dari pengorbanan di kayu Salib hingga kehadiran-Nya yang nyata dalam Sakramen Ekaristi, Kristus terus mempersembahkan diri-Nya demi hidup manusia. Melalui renungan Pater Paul Yan, yang menarik ini, kita diajak menyadari bahwa pengorbanan Kristus bukan kisah masa lalu, melainkan peristiwa keselamatan yang terus berlangsung dalam hidup Gereja dan umat beriman, terutama saat merayakan Perjamuan Ekaristi Kudus.
Berbeda dengan Injil-injil lain, di mana pembaca mengamati para murid secara bertahap menemukan siapa Yesus, Yohanes memberi kita waktu seminggu antara baptisan dan pesta pernikahan di Kana, di mana Yesus diberi gelar-gelar yang semakin penting oleh orang-orang yang bertemu dengannya: Rabi, Mesias, Putra Allah, Raja Israel. Mungkin yang paling penting dari semuanya adalah gelar-gelar yang diberikan oleh Yohanes Pembatis sendiri, Anak Domba Allah dan Yang Terpilih dari Allah. Anak Domba Allah mencangkup seluruh Injil, karena gelar ini muncul lagi pada saat Penyaliban.
Menurut Yohanes, Yesus wafat pada saat domba Paskah disembelih di Bait Suci, dan hanya Yohanes yang mengutip perkataan dalam Kitab Suci, “Tidak satu tulang pun dari-Nya akan patah’ (Yohanes 19:36), yang awalnya merupakan bagian dari petunjuk untuk pengorbanan domba pada Perayaan Paskah (Keluaran 12:46). Dalam Kitab Wahyu, Yesus digambarkan berdiri “seperti Anak Domba yang seolah-olah telah dikorbankan’. Oleh karena itu, ini merupakan gambaran baik tentang penderitaan maupun kemenangan-Nya. Hal ini berkaitan dengan gambaran Yesus sebagai Hamba Tuhan yang Menderita, yang melewati penderitaan dan penghinaan menuju pembenaran dan kemenangan Allah.
Dalam Injil, Yesus digambarkan sebagai seorang tokoh yang dapat mendamaikan semua orang dengan Allah, sebagai satu-satunya orang yang dapat membebaskan manusia dari dosa. Dalam Perjanjian Lama, anak domba adalah lambang kemenangan, yang membinasakan kejahatan. Di samping itu juga, “anak domba” lambang kelemahlembutan, lambang hamba yang menderita, yang tanpa suara dan penuh penyerahan diri diantar kepada kematian.
Yesus mengambil fungsi domba yang dikorbankan itu. Dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa, Yesus telah mengorbankan hidup-Nya guna menghapus dosa-dosa dunia. Sebagaimana darah anak domba telah meluputkan nenek moyang orang Yahudi dari kematian, demikian pula Darah Yesus yang dikorbankan di kayu Salib meluputkan manusia dari kematian kekal. Pengorbanan yang telah dilakukan Yesus itu, telah memulihkan hubungan Allah dan manusia. Namun, pengorbanan Yesus itu bukan melulu suatu peristiwa masa lalu, melainkan peristiwa yang terjadi pada saat ini, ketika Sakramen Ekaristi dirayakan.
![]() |
| Yesus sebagai Anak Domba yang dikurbankan untuk menebus dosa manusia |
Dalam Perayaan Ekaristi, kita menghadirkan kembali korban Kristus. Hal itu berarti bahwa melalui Ekaristi, peristiwa masa lampau yakni pengorbanan Yesus di atas kayu salib bukan cuma dikenang kembali melainkan dihidupkan kembali atau dibuat menjadi suatu kenyataan yang hidup. Karena itu, ketika Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku, maka Dia sungguh-sungguh ingin mengatakan, “Inilah AKU dan jika kamu makan tubuh-Ku ini, maka Aku akan tinggal dalam kamu”. Demikian pula dengan “darah-Nya”,”Akulah yang telah menumpahkan darah untuk kamu supaya kamu memperoleh hidup”. Karena itu perayaan Ekaristi bukanlah merupakan suatu pergulangan atas perjamuan malam terakhir melainkan satu sakramen yang membawa keselamatan kepada orang yang merayakannya.
Kesaksian ini pula yang harus menjadi tugas umat Kristiani sekarang. Siapa yang mengenal nilai silih dan pribadi Yesus Kristus yang Ilahi, tentu saja tidak cukup menyimpannya di dalam hati, melainkan harus mengungkapkan di dalam kesaksian hidupnya. Iman kepercayaan Kristiani mempunyai dimensi sosial yang jelas, karena Kristus memang mau menjadi penyelamat bagi semua orang.

