Header Ads Widget

CAHAYA BESAR TERLIHAT

Oleh: Pater Paul Tan, Pr


Refleksi Hari Minggu Biasa III/A
Matius 4:12–23

Dalam Injil Hari Minggu ini, kita menyaksikan Yesus memulai karya perutusan-Nya bukan di tempat yang aman, mapan, atau terhormat, melainkan di Galilea—wilayah yang dipandang rendah, dicurigai, bahkan dianggap “tanah kegelapan.” Namun justru di sanalah cahaya besar itu mulai bersinar. Ketika Yohanes Pembaptis ditangkap karena gaya hidup Herodes, Yesus tidak melawan secara frontal, tetapi menyingkir ke Galilea. Ia tidak mundur karena takut, melainkan menunggu saat yang tepat, setia pada rencana Bapa.

Di sini kita belajar bahwa kesetiaan pada panggilan tidak selalu berarti bertindak cepat, tetapi bertindak bijaksana. Ada masa untuk melangkah, ada masa untuk menunggu. Ada waktu untuk berbicara, dan ada waktu untuk mempersiapkan diri dalam diam. Dalam hidup kita pun demikian. Tidak semua persoalan harus segera dihadapi. Tidak semua panggilan harus dijawab dengan tergesa-gesa. Tuhan sering membentuk kita justru dalam proses penantian.

Persiapan yang Mematangkan Iman

Yesus tidak memulai misi-Nya secara sembrono. Ia sadar bahwa karya keselamatan membutuhkan kesiapan batin, kedewasaan, dan keteguhan hati. Hal ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap panggilan—baik pernikahan, pekerjaan, pelayanan, maupun hidup beriman—persiapan adalah bagian dari kesetiaan.
Cinta yang sejati tidak cukup dibangun di atas perasaan sesaat. Demikian pula iman. Iman tidak hanya bertumpu pada emosi religius, tetapi pada kedewasaan rohani, tanggung jawab, dan komitmen. Dunia sering mengajarkan kemudahan: cepat mencinta, cepat memilih, cepat menyerah. Injil mengajak kita untuk sebaliknya: mendalami, menimbang, dan bertumbuh.
Terang di Tengah Kegelapan

Dunia yang tegang, Yesus hadir meneguhkan iman dan harapan

Galilea adalah simbol dunia kita hari ini: penuh ketegangan, ketidakadilan, konflik, dan kecurigaan. Banyak orang hidup dalam luka, kekecewaan, dan keputusasaan. Dalam situasi seperti ini, menjadi orang baik dan beriman sering terasa tidak mudah. Namun justru di sanalah Yesus hadir dan memanggil kita.

Yesus tidak menunggu dunia menjadi sempurna sebelum Ia hadir. Ia datang sebagai terang di tengah kegelapan. Ia melihat potensi, bukan hanya kekurangan. Ia percaya pada manusia, bahkan ketika manusia meragukan dirinya sendiri.
Kita dipanggil untuk memiliki cara pandang yang sama: tidak cepat menghakimi, tidak mudah putus asa, tetapi berani percaya bahwa Tuhan masih bekerja di tengah dunia yang terluka. Kehadiran kita—yang jujur, penuh harapan, dan berbelas kasih—dapat menjadi cahaya kecil yang mengubah suasana.

 

“Bertobatlah”: Panggilan untuk Berubah

Yesus mewartakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Pertobatan bukan pertama-tama soal rasa bersalah, melainkan perubahan arah hidup. Mengubah cara berpikir, cara menilai, dan cara mencintai. Ini adalah ajakan untuk keluar dari kelekatan pada diri sendiri, pada harta, kekuasaan, dan kenyamanan, menuju hidup yang lebih terbuka bagi Allah dan sesama.

Tanpa pertobatan, Kerajaan Allah tidak mungkin tumbuh. Tanpa perubahan hati, iman menjadi rutinitas kosong.

Yesus memanggil para nelayan sederhana: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Mereka bukan orang-orang istimewa menurut ukuran dunia. Mereka tidak sempurna, tetapi bersedia. Mereka tidak menunda, tidak bernegosiasi, tidak menunggu waktu yang “lebih baik.” Mereka langsung meninggalkan jala dan mengikuti Yesus.

Panggilan Tuhan tidak menunggu kita sempurna. Justru dalam keterbatasan kita, kasih karunia-Nya bekerja. Kerendahan hati lahir ketika kita sadar bahwa semua adalah anugerah.

Panggilan untuk Persaudaraan dan Pelayanan

Yesus memanggil dua pasang saudara. Ini bukan kebetulan. Mengikuti Yesus berarti membangun relasi, bukan persaingan; persaudaraan, bukan kecemburuan. Di dalam keluarga, komunitas, dan Gereja, kita belajar melayani, bukan menguasai.
Pelayanan sejati dimulai dari hal-hal sederhana: di rumah, di tempat kerja, di lingkungan sekitar. Kita semua dipanggil menjadi “penjala manusia” dengan cara kita masing-masing—sebagai orang tua, guru, pekerja, pemimpin, atau tetangga yang peduli.
Hidup yang Berbeda, tetapi Tetap di Dunia



Mengikuti Yesus tidak menjauhkan kita dari dunia, tetapi mengubah cara kita hidup di dalamnya. Kita tetap bekerja, menikah, berkarya, dan berjuang, namun tidak lagi dikuasai oleh ambisi egois. Setiap situasi menjadi kesempatan untuk memilih: mengikuti Kristus atau melewatkannya begitu saja.

Yesus mengajar, mewartakan Kerajaan Allah, dan menyembuhkan. Ia menyentuh pikiran, bibir, dan hati manusia. Maka iman kita pun dipanggil untuk utuh: dipikirkan, diwartakan, dan dihidupi dengan kasih. Kesaksian iman yang paling kuat bukanlah argumen, melainkan kehadiran yang menyembuhkan.

Dunia kita masih dibayangi kegelapan: kerusakan alam, ketidakadilan, perpecahan, krisis keluarga, dan hilangnya harapan. Namun Injil hari ini menegaskan: terang itu sudah datang, dan terang itu kini dipercayakan kepada kita.
Seperti Yesus yang setia pada misi-Nya, kita pun dipanggil untuk setia pada panggilan kita—di mana pun kita berada. Jika kita setia, Tuhan akan menjadikan hidup kita cahaya yang menuntun banyak orang.

Selamat Hari Minggu.
Semoga cahaya Kristus meneguhkan iman kita dan memampukan kita menjadi terang bagi sesama. Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita.

RD. Paul Tan