Header Ads Widget

Bait Allah Yang Hidup: Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran

Oleh: Pater Paul Tan, Pr

Ilustrasi: Hari sebagai Bait Allah yang Hidup

Renungan 
Minggu Biasa Ke-32- Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran
Yohanes 2:13–22

Yesus tidak datang untuk menghancurkan rumah doa, tetapi untuk memurnikan maknanya. Ia ingin mengingatkan kita bahwa rumah Allah bukan hanya bangunan batu, melainkan hati yang dipenuhi kasih dan ketaatan kepada-Nya. Di mana pun kita berada—di rumah, di jalan, atau di tempat kerja—hadir Kristus yang menjadikan dunia ini Bait Allah yang hidup.

Hari ini Gereja merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Lateran—gereja katedral Paus di Roma, simbol kesatuan seluruh Gereja Katolik di dunia. Namun, lebih dari sekadar mengenang sebuah bangunan suci, pesta ini mengundang kita untuk merenungkan makna terdalam dari apa yang disebut Gereja dan Bait Allah.

Dalam Injil hari ini (Minggu, 09/11/2025), Yohanes mengisahkan bagaimana Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dari pelataran Bait Allah. “Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan,” sabda-Nya dengan tegas. Tindakan Yesus bukan sekadar luapan emosi, tetapi ungkapan cinta yang membara bagi kekudusan rumah Bapa-Nya. Ia marah bukan karena harga barang atau urusan ekonomi, melainkan karena tempat kudus—tempat perjumpaan manusia dengan Allah—telah kehilangan maknanya yang sejati.

Yesus menyingkapkan sesuatu yang baru: Bait Allah yang sejati bukan lagi bangunan batu yang berdiri di Yerusalem, melainkan diri-Nya sendiri. “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Murid-murid baru memahami kata-kata ini setelah kebangkitan-Nya. Tubuh-Nya yang bangkit adalah Bait Allah yang baru, tempat Allah dan manusia bertemu dalam kasih dan penebusan.

Menurut Yohanes, adegan ini terjadi pada awal pelayanan Yesus, pada kunjungan pertama dari empat kunjungan Yesus ke Yerusalem. Pada setiap kunjungan berikutnya, para penguasa Bait Suci menunggu Yesus, semakin bersemangat untuk menyingkirkan-Nya, tetapi tidak dapat melakukannya sampai Saat-Nya tiba. Injil-injil lain menempatkan insiden ini dan semua adegan lain tentang Yesus di Yerusalem sebagai klimaks terakhir. Mana pun yang benar, insiden inilah yang menjadi penyebab utama penangkapan dan kematian Yesus yang dinantikan.

Gambar ilustrasi: Yesus mengusir pedagang di Bait Allah


Melalui tindakan-Nya, Yesus telah menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan di Bait Suci sia-sia di mata Allah dan harus digantikan. Bagi para penguasa Bait Suci, hal ini tidak dapat ditoleransi, dan Ia harus disingkirkan. Sekali lagi, Yesus menuntut pembalikan standar sepenuhnya. Perkataan-Nya yang membingungkan tentang membangun kembali Bait Suci di dalam tubuh-Nya, akhirnya dipahami oleh para murid-Nya sebagai Bait Suci yang adalah tubuh-Nya, Gereja. Bangunan fisik yang sebelumnya menjadi pusat ibadah tidak lagi penting. Dan Sejak saat itu, semua ibadah akan dilakukan di mana pun, tetapi di dalam komunitas Kristen. Komunitas—atau Gereja—kini menjadi tempat pengudusan dan doa kepada Allah.

Pembersihan Bait Allah seperti dikisahkan dalam Injil hari ini, menunjukkan bahwa ibadat Bait Allah dengan segala upacara dan kurbannya tidak lagi sesuai dan tidak dapat membawa orang kepada Allah. Di sini Yesus menginginkan keruntuhan Bait Allah, buatan tangan manusia. Itu berarti bahwa dengan kedatangan Kristus berakhirlah semua upacara imamat dan kurban hewan serta menggantikannya dengan kenisah TubuhNya sendiri yang bukan dibangun oleh tangan manusia. Yesus akan memberikan kepada semua orang yang mengikuti Dia satu jalan untuk datang kepada Allah tanpa upacara dan usaha-usaha manusia. Ia telah datang untuk meruntuhkan Bait Suci di Yerusalem dan menjadikan seluruh dunia Bait Suci, di mana manusia dapat mengetahui kehadiran Allah yang hidup.

Kehadiran Kristus yang bangkit dan hidup itulah yang membuat dunia ini menjadi Bait Allah yang sebenarnya. Kenisah Tubuh-Nya mengungkapkan satu kebenaran bahwa hubungan kita dengan Allah, kebersamaaan kita dengan Dia dan pendekatan kita kepada-Nya sama sekali bukan bergantung dari segala sesuatu yang bisa dibuat oleh tangan manusia atau yang bisa direkayasa oleh akal budi manusia. Di manapun entah di jalan atau di rumah, di tempat kerja atau di gunung dan Gereja, kita mempunyai Bait Suci dalam diri kita, yaitu bahwa kehadiran Kristus yang bangkit sebab senantiasa menyertai kita.

Ketaatan yang tanpa syarat kepada kehendak Bapa-Nya dalam menerima kehidupan manusia dengan akibatnya benar-benar menjadi sumber air yang hidup. Semua orang boleh datang ke sumber itu, sebab ia mempunyai daya kekuatan untuk memuaskan segala dahaga mereka.

Yesus marah bukan karena diri-Nya dihina, tetapi karena kekudusan rumah Bapa-Nya (Bait Allah) telah dicemari dan diubah menjadi tempat mencari keuntungan material ("sarang penyamun"). Ia melihat hati para pedagang dan penukar uang yang lebih fokus pada laba daripada ibadah yang tulus.

Tindakan Yesus mengingatkan kita bahwa tempat ibadah (gereja, bait suci) harus dijaga kekudusannya dan fungsinya sebagai tempat persekutuan dengan Allah, bukan hanya sebagai pusat kegiatan atau transaksi duniawi. Murid-murid-Nya mengingat ayat, "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku" (Mazmur 69:10).

Demikian pula ketika orang-orang Yahudi menantang wewenang Yesus dan meminta tanda, Yesus menjawab, "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." (Ayat 19). Mereka mengira Ia berbicara tentang bangunan batu yang megah.

Gambar Ilustrasi: "Gereja=Tubuh" adalah Bait Allah yang Kudus

Yohanes menjelaskan bahwa yang dimaksudkan Yesus dengan "Bait Allah" adalah tubuh-Nya sendiri (Ayat 21). Kebangkitan-Nya pada hari ketiga adalah "mendirikan kembali" Bait Allah tersebut.

Oleh karena itu kehadiran Allah kini tidak lagi terbatas pada sebuah bangunan fisik, tetapi berdiam secara penuh dalam Pribadi Yesus Kristus. Ritual kurban di Bait Allah yang lama akan digenapi dan disempurnakan melalui kurban diri Kristus di kayu salib. Dialah dasar dan jaminan keselamatan yang hakiki. Kita dipanggil untuk tidak hanya memahami secara intelektual, tetapi untuk mempercayai Yesus sebagai Bait Allah yang baru, satu-satunya jalan menuju Bapa, dan menjadikan-Nya pusat hidup kita

Yesus membersihkan Bait Allah di Yerusalem sebagai sebuah tindakan profetik yang menunjukkan bahwa ibadah yang tulus dan hati yang murni jauh lebih penting daripada ritual dan bangunan fisik. Lebih lanjut, Ia menegaskan bahwa Dialah Bait Allah yang sejati, tempat perjumpaan antara Allah dan manusia. Maka jaga kekudusan tempat ibadah dan juga diri kita sendiri sebagai Bait Roh Kudus. Pastikan Yesus Kristus adalah fokus utama dari seluruh ibadah dan kehidupan kita, bukan keuntungan pribadi atau hal-hal duniawi lainnya. Amin