Oleh. RD. Paul Tan
(Renungan Hari Minggu Paskah V – Yohanes 14:1-12)
Jalatimur.com, — Ada saat-saat dalam hidup ketika hati manusia dipenuhi kegelisahan. Kita merasa seolah kehilangan arah, seperti berjalan dalam kabut yang tebal, tanpa tahu ke mana harus melangkah. Para murid Yesus pernah berada dalam situasi seperti itu. Mereka telah meninggalkan segalanya untuk mengikuti Dia, namun kini Yesus berbicara tentang kepergian-Nya. Dunia mereka seperti runtuh perlahan.
Dalam situasi itu, Yesus tidak memberikan penjelasan panjang yang memuaskan akal, melainkan sentuhan yang menenangkan hati: “Janganlah gelisah hatimu.” Ia mengundang mereka untuk percaya—percaya kepada Allah dan percaya kepada-Nya. Sebab iman bukan sekadar jawaban atas semua pertanyaan, melainkan keberanian untuk tetap berdiri teguh ketika jawaban belum sepenuhnya tampak.
Hidup kita pun sering seperti itu. Kita tidak selalu memahami jalan yang terbentang di depan kita. Namun iman memberi kita keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendirian. Tuhan mengetahui di mana kita berada, bahkan ketika kita sendiri merasa tersesat. Ia seperti suara yang menembus sunyi, meyakinkan kita bahwa pertolongan sedang menuju kita.
Rumah yang Terbuka untuk Semua
Yesus melanjutkan sabda-Nya dengan gambaran yang begitu menghibur: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.” Ini bukan sekadar janji tentang masa depan, tetapi juga pewahyuan tentang hati Allah. Hati itu luas, tidak sempit. Hati itu merangkul, bukan menolak.
Keselamatan bukanlah hak istimewa segelintir orang yang “layak”, melainkan anugerah yang terbuka bagi semua yang mau datang. Di dalam sejarah iman Gereja, kita melihat betapa beragamnya jalan menuju kekudusan. Ada orang-orang yang cemerlang dalam intelektualitas, ada pula yang sederhana tanpa pendidikan tinggi. Ada yang setia sejak muda, ada pula yang bertobat di saat-saat terakhir hidupnya.
Semua ini menunjukkan satu hal: yang dicari Tuhan bukan kesempurnaan manusiawi, tetapi hati yang terbuka. Ia tidak menilai kita dari pencapaian, melainkan dari relasi, apakah kita hidup dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama.
Jika rumah Bapa memiliki banyak ruang, maka tidak ada alasan bagi kita untuk merasa tidak layak datang kepada-Nya.
Beragam Jalan, Satu Tujuan
Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghidupi imannya. Ada yang menemukan Tuhan dalam doa yang hening, ada yang dalam pelayanan kepada sesama, ada yang dalam perjuangan keadilan, dan ada pula dalam kesetiaan menjalani tugas-tugas kecil setiap hari.
Perbedaan ini bukanlah kelemahan, melainkan kekayaan. Tuhan tidak menciptakan manusia dengan pola yang seragam. Ia menanamkan dalam setiap pribadi bakat, kecenderungan, dan panggilan yang unik.
Namun di balik keragaman itu, ada satu kesamaan yang tidak boleh hilang: kasih. Apa pun jalan yang kita tempuh, jika tidak membawa kita kepada kasih, maka kita telah kehilangan arah. Sebaliknya, jika hidup kita memancarkan kasih, maka kita sedang berjalan menuju Tuhan.
Kesadaran ini juga menuntun kita untuk tidak mudah menghakimi. Kita tidak selalu tahu bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup orang lain. Bahkan mereka yang berada di luar lingkaran kita mungkin memiliki kerinduan akan Allah yang tulus dan mendalam.
Seberapa Luas Hati Kita?
Yesus berbicara tentang rumah Bapa yang luas. Namun pertanyaannya: apakah hati kita juga luas?
Sering kali, hati kita dipenuhi oleh hal-hal yang membuatnya sempit, kekecewaan, luka lama, kepahitan, dan penolakan. Kita menyimpan semua itu, seolah-olah tidak ingin melepaskannya. Padahal, semua itu justru menghalangi kita untuk mencintai.
Mengampuni bukanlah hal yang mudah. Tetapi tanpa pengampunan, hati kita tidak pernah benar-benar bebas. Kita seperti menyimpan bunga yang telah layu, tidak lagi indah, tetapi tetap melukai.
Sebaliknya, ketika kita memberi ruang bagi orang lain, ketika kita berani membuka kembali pintu hati kita, kita menemukan kembali keindahan hidup. Kasih selalu membawa pembaruan. Ia memberi kesempatan kedua, bahkan ketiga, dan seterusnya.
Kita Sebenarnya Tahu Jalannya
Ketika Yesus berkata bahwa para murid tahu jalan ke tempat Ia pergi, Thomas langsung meragukannya. Ia ingin kepastian. Ia ingin kejelasan.
Namun sering kali, kita tidak jauh berbeda dari Thomas. Kita berkata tidak tahu, padahal sebenarnya kita tahu, setidaknya dalam hati kecil kita. Kita tahu apa yang benar, kita tahu apa yang seharusnya kita lakukan. Namun kita sering memilih untuk mengabaikannya.
Yesus kemudian memberikan jawaban yang menjadi pusat iman kita: “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.” Ia tidak sekadar menunjukkan jalan, tetapi menjadi jalan itu sendiri. Ia tidak hanya mengajarkan kebenaran, tetapi hidup dalam kebenaran itu. Ia tidak hanya memberi hidup, tetapi adalah sumber hidup itu.
Ini berarti bahwa mengikuti Yesus bukan hanya soal mengetahui ajaran-Nya, tetapi hidup bersama-Nya. Kita dipanggil untuk menjadikan cara berpikir dan cara hidup-Nya sebagai milik kita.
Yesus yang Berjalan Bersama Kita
Banyak orang dalam hidup kita mungkin menunjukkan arah, tetapi tidak semua mau berjalan bersama kita. Yesus berbeda. Ia tidak meninggalkan kita sendirian.
Ia hadir dalam setiap langkah, bahkan dalam saat-saat paling sulit. Ia tidak menjanjikan jalan yang mudah, tetapi Ia menjanjikan bahwa kita tidak akan berjalan sendirian.
Kesadaran ini memberi kekuatan bagi kita untuk terus melangkah, meskipun jalan terasa berat. Sebab yang terpenting bukanlah seberapa mudah jalan itu, tetapi siapa yang berjalan bersama kita.
Kita Pun Menjadi Jalan
Tanpa kita sadari, hidup kita menjadi jalan bagi orang lain. Cara kita berbicara, bersikap, dan bertindak memengaruhi mereka yang ada di sekitar kita.
Jika kita hidup dalam kasih, kita membuka jalan yang memudahkan orang lain untuk menemukan Tuhan. Namun jika kita hidup dalam egoisme, kita justru menjadi batu sandungan.
Keluarga, komunitas, dan lingkungan kerja kita adalah tempat di mana jalan itu dibangun. Di sanalah kita dipanggil untuk menghadirkan kebaikan, kejujuran, dan kasih.
Tetap Berjalan, Apa pun yang Terjadi
Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Banyak hal terjadi di luar kendali kita—kehilangan, kegagalan, sakit hati, dan kekecewaan.
Namun iman mengajarkan kita untuk tidak berhenti. Kita dipanggil untuk terus berjalan, meskipun langkah terasa berat.
Yesus tidak meminta kita untuk memahami semuanya, tetapi untuk tetap setia. Sebab setiap langkah yang kita ambil dalam iman membawa kita semakin dekat kepada tujuan kita: rumah Bapa.
Memilih Jalan Tuhan
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan: mengikuti cara Tuhan atau cara manusia.
Cara manusia sering kali tampak lebih cepat dan lebih mudah, tetapi sering berakhir dalam kehampaan. Cara Tuhan mungkin lebih sulit, tetapi membawa kehidupan yang sejati.
Yesus menunjukkan bahwa jalan kasih, pengampunan, dan pelayanan adalah jalan yang memberi hidup. Ia sendiri telah berjalan di jalan itu sampai tuntas.
Kebenaran yang Menghidupkan
Kebenaran bukanlah sesuatu yang kaku dan menghukum. Dalam Yesus, kebenaran selalu membawa kehidupan.
Dalam relasi manusia, kejujuran menjadi dasar yang penting. Tanpa kejujuran, hubungan menjadi rapuh. Namun kejujuran yang disertai kasih mampu menyembuhkan luka dan membangun kembali kepercayaan.
Yesus selalu mendekati mereka yang terluka. Ia tidak menjauh, tidak menghakimi, tetapi mengangkat dan memulihkan.
Mencari Kebahagiaan yang Sejati
Banyak orang mencari kebahagiaan di tempat yang salah, dalam hiburan, sensasi, atau hal-hal yang sementara. Dunia menawarkan banyak pelarian, tetapi sedikit yang benar-benar memberi kedamaian.
Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam pelarian dari kenyataan, tetapi dalam keberanian untuk menghidupi kenyataan bersama Tuhan.
Iman bukan tentang mencari hal-hal luar biasa, tetapi tentang kesetiaan dalam hal-hal sederhana.
Akhirnya: Jalan Pulang Itu Nyata
Yesus adalah Jalan yang menuntun kita, Kebenaran yang membimbing kita, dan Hidup yang menghidupi kita.
Selama kita berjalan bersama-Nya, kita tidak akan tersesat. Bahkan ketika jalan terasa gelap, kita tetap memiliki harapan.
Sebab pada akhirnya, hidup ini adalah perjalanan pulang, pulang kepada Bapa yang telah menyediakan tempat bagi kita.
Dan ketika saat itu tiba, kita akan menyadari bahwa sejak awal, kita tidak pernah berjalan sendirian.
Selamat Hari Minggu Paskah
Damai Sejahtera Bagimu
RD. Paul Tan
