![]() |
Sarmi, JalaTimur.com,- Masa depan pendidikan Katolik di Kabupaten Sarmi mendapatkan angin segar. Bertempat di Gereja Katolik St. Antonius, tiga unit sekolah milik Yayasan St. Antonius — sebuah PAUD/TK, satu SD, dan satu SMP — secara resmi diserahkan kepada Keuskupan Jayapura. Penyerahan ini menandai babak baru bagi sekolah-sekolah tersebut, yang selanjutnya akan dikelola oleh Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi Provinsi Papua.
Perkuat Pendidikan Katolik di Ujung Timur Indonesia
Penyerahan aset pendidikan yang bersejarah ini dilakukan oleh Pembina Yayasan St. Antonius kepada Sekretaris Uskup Keuskupan Jayapura, Pastor Willem Warat, OFM, sebagai perwakilan Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Dr. Yanuarius Teofilus Matopai You. Setelah serah terima, Pastor Willem kemudian menyerahkan pengelolaan sekolah-sekolah tersebut kepada YPPK Fransiskus Asisi Provinsi Papua yang diwakili oleh Wakil Ketua Badan Pengurus, Theodurus Montalalu, S.Pd., M.Pd.
Acara sakral ini turut disaksikan oleh Pastor Paroki St. Antonius Sarmi, P. Jhon Batlayeri, Pr, Anggota Badan Pengawas YPPK FA Provinsi Papua, Silvester Lobya, S.Sos, Sekretaris Eksekutif YPPK FA Provinsi Papua, Hendrikus Randut, SS, Kepala Bagian Edukasi, Informasi, dan Pelayanan, Patrice Renwarin, S.E, serta umat Paroki St. Antonius Sarmi yang hadir.
![]() |
| Acara penandatangan surat penyerahan sekolah kepada pihak keuskupan Jayapura (Dok, Silvo Lobya) |
Dalam sambutannya, Pastor Willem Warat menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada segenap Pengurus Yayasan St. Antonius dan Dewan Pastoral Paroki atas upaya mereka menghadirkan sekolah Katolik di Sarmi. Beliau juga berpesan kepada YPPK FA agar bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat demi kemajuan sekolah.
"Kami berharap YPPK dapat menjadikan sekolah ini bermutu, sehingga mampu merebut hati masyarakat," ujarnya.
Harapan dan Tantangan untuk Guru dan Sekolah
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan para guru, ikut memberikan gambaran jelas tentang tantangan yang dihadapi. Pastor Willem mengajak para guru untuk berani memulai hal baru bersama YPPK FA. Beliau menekankan bahwa Gereja Katolik itu satu, kudus, dan apostolik. Oleh karena itu, komitmen dan niat baru sangat penting untuk dibangun. Para guru diajak untuk menjadikan pengalaman mereka sebagai bekal untuk menjadi pendidik yang lebih baik.
Di sisi lain, para guru juga menyuarakan sejumlah permasalahan, termasuk kecilnya alokasi dana BOS, masalah administrasi Dapodik dan verifikasi yayasan (verval), serta nasib guru P3K yang ditempatkan di sekolah ini. Mereka juga mempertanyakan kebijakan pendidikan gratis dan bagaimana hal itu akan diterapkan di sekolah yang kini dikelola YPPK Fransiskus Asisi itu.
Menanggapi hal tersebut, Pastor John Batlayeri mengajak semua pihak untuk bersatu hati membangun pendidikan YPPK ke arah yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya koordinasi dan komunikasi yang berkelanjutan.
"Mari kita satu hati. Satu hati membangun pendidikan YPPK ke arah yang lebih baik. Untuk itu, komunikasi dan koordinasi harus terus ditingkatkan," tegasnya, mengakhiri pertemuan dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengambil bagian dalam momen penting ini.
Penyerahan ini bukan hanya sekadar alih kelola, melainkan sebuah komitmen kolektif untuk menjaga dan mengembangkan pendidikan Katolik di Sarmi. Dengan sinergi antara Keuskupan, YPPK, pemerintah, guru, dan masyarakat, sekolah-sekolah ini diharapkan dapat terus berkembang dan mencetak generasi muda yang berkualitas bagi nusa dan bangsa di Papua. (Demmy Namsa/Silvo Lobya)


