Header Ads Widget

Rekoleksi Hari Ketiga: Guru YPPK FA Belajar Merawat Relasi, Menyembuhkan Friksi, Menyalakan Harapan


Jayapura, JalaTimur.com,- Suasana hening yang sarat makna menyelimuti rekoleksi hari ketiga guru dan pegawai Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi Kota dan Kabupaten Jayapura, Kamis (21/8/2025). Digelar di Aula Paroki Argapura, Wilayah III—meliputi Argapura, Dok V–IX, dan Muara Tami—rekoleksi ini bukan sekadar forum refleksi rohani, tetapi juga wadah curahan hati para pendidik yang setiap hari bergulat dengan tantangan nyata di sekolah. Bersama P. Wilhelmus Gonsa Saur, OFM, para guru menemukan kembali sumber kekuatan dari spiritualitas Santo Fransiskus Asisi: hidup sederhana, rendah hati, tabah, dan menjalin persaudaraan sejati.

Menjawab Pergumulan dengan Semangat Persaudaraan
Direktur Sekretariat Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi, Ferdinando Lase, S. Kom, menegaskan bahwa rekoleksi ini adalah ruang penyembuhan.

“Harapan saya, materi yang disampaikan Pastor Gonsa dapat mengobati curahan hati para guru, dan kemudian diimplementasikan dalam pelayanan kepada siswa,” ucapnya.

Ia menyoroti bahwa relasi sehat di sekolah seringkali retak akibat friksi: antar guru, guru dengan kepala sekolah, hingga guru dengan orangtua.

“Contoh yang paling urgen untuk diwujudnyatakan adalah semangat persaudaraan. Setelah rekoleksi ini, friksi di sekolah harus bisa diminimalisir, bahkan dihindari. Santo Fransiskus memberi teladan agar kita hidup tabah, rendah hati, dan penuh kasih,” tambah Ferdinando.



Foto Bersama Pastor Gonsa, Direktur, dan Para Guru SD YPPK Kristus Raja Dok V



Suara Guru: Dari Refleksi Menjadi Tindakan
Bagi para guru, rekoleksi ini seperti oase. Selestinus Koli, S. Fil, Kepala SMP YPPK Taruna Mulia Argapura, menyebut kegiatan ini sangat bermakna.

“Temanya sungguh sesuai dengan tugas kami: melayani dengan rendah hati, mendidik dengan kasih. Harapan saya, semangat ini diwujudkan dalam kolaborasi nyata sehingga berdampak bagi siswa, orangtua, dan masyarakat. Jika kita hidupkan nilai ini, sekolah Katolik akan menjadi tempat yang layak dan diminati masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Stevanus Thomas, S.Pd,Gr, Kepala SD YPPK Kristus Raja Dok V, menegaskan pentingnya relasi dengan Tuhan sebagai pusat segalanya. 
“Dengan meneladani Fransiskus, kita bisa melayani anak-anak dengan kesederhanaan dan kasih. Relasi intim dengan Tuhan barulah memampukan kita membangun hubungan sehat dengan siswa, sesama guru, orangtua, dan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Yeremias Matur, S.Pd, seorang guru senior di SD Kristus Raja Dok IX, menekankan dimensi yang lebih luas: relasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan. 
“Guru adalah ujung tombak pendidikan. Jika relasi ini kita hidupi, mutu pendidikan YPPK akan semakin maju dan eksis di Tanah Papua,” katanya penuh keyakinan.



Suasana refleksi dan diskusi bersama para guru dan staf kependidikan (Dok, Pen)


Spirit Penyerahan Diri ala Fransiskus
Sementara itu, Gregorius Bria Seran, S.Fil., M.Pd, Kepala SMP Juru Selamat Jayapura Koya Timur, membawa refleksi mendalam dari pengalaman memimpin sekolah baru. Baginya, spiritualitas penyerahan diri Santo Fransiskus menjadi sangat relevan.

“Sebagai perintis, mudah muncul rasa tinggi hati. Tapi sesuai dengan pengalaman Fransiskus yang pernah ditolak mengingatkan kami akan apa yang dikatannya: ‘Ordo ini bukan saya punya, ini Tuhan punya’. Semangat ini pun kami pegang. Sekolah ini bukan milik kami, tetapi karya Tuhan,” tuturnya.

Gregorius juga membagikan langkah konkret sekolahnya dalam menanamkan katolisitas.
“Ke depan, kita menghadapi situasi yang sulit. Banyak sekolah yang kini lebih unggul. Di bidang pengetahuan, seni dan olahraga, kita hebat. Tapi ada juga sekolah lain yang lebih hebat. Maka, katolisitas sebagai kekhasan sekolah Katolik menjadi pilihan utama untuk ditawarkan kepada para siswa dan masyarakat. Kami ingin katolisitas tidak hanya diajarkan guru agama, tetapi melibatkan semua guru. Pada dua jam pertama pendidikan agama, akan diisi dengan informasi katolisitas, namun satu jam terakhir merupakan praktek pembatinan. Melalui refleksi, meditasi terpimpin, dan pengenalan terhadap pribadi santo-santa, siswa dibina untuk memiliki karakter yang kuat, dan mampu bekerjasama di dalam kehidupan bersama. Jadi, katolisitas sebagai ciri khas sekolah Katolik, inilah yang harus kami tawarkan, agar anak-anak—apapun agamanya—merasakan nilai-nilai universal: kasih, persaudaraan, dan iman yang hidup,” jelasnya.


Diskusi dan Sharing Kelompok Paud Kristus Raja & St. Lukas. (Dok, Pejdaaaaaaa

 Dari setiap kesaksian, terlihat benang merah: rekoleksi ini menyalakan kembali panggilan para guru sebagai pendidik Katolik. Bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih di ruang kelas, halaman sekolah, hingga ke rumah-rumah keluarga.


Santo Fransiskus Asisi mengajarkan bahwa cinta kasih, kerendahan hati, dan persaudaraan adalah jalan untuk melayani. Dalam konteks Papua, semangat ini menjadi jawaban atas dinamika pendidikan yang sarat tantangan. Guru-guru YPPK FA di Wilayah III diajak untuk menjadi saksi Kristus yang sederhana namun kuat: guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menyembuhkan, menyatukan, dan menyalakan harapan.

Rekoleksi hari ketiga ini pun menutup rangkaian kegiatan dengan sebuah pesan abadi: pendidikan Katolik hanya akan hidup dan relevan ketika guru-gurunya menyalakan kembali semangat Fransiskus Asisi—mengajar dengan hati, melayani dengan kasih, dan membangun relasi yang memerdekakan. (Demmy Namsa)