Jayapura, JalaTimur.com,- Di hadapan 102 guru dan pegawai yang berkumpul di Aula Paroki Sang Penebus Sentani, Selasa 19 Agustus 2025, Pastor Wilhelmus Gonsa Saur, OFM menyalakan kembali api kesadaran iman dalam dunia pendidikan Katolik. Dengan tema “Melayani dengan Hati, Mendidik dengan Kasih: Meneladani Semangat Santo Fransiskus Asisi”, ia menegaskan bahwa tugas seorang pendidik bukan sekadar mengajar atau memenuhi kewajiban administrasi, melainkan sebuah panggilan perutusan Gereja: mewartakan kabar sukacita Injil melalui kehadiran yang penuh kasih, terlebih bagi anak-anak yang bergulat dengan luka, kesulitan, dan kehilangan harapan.
Pendidikan sebagai Panggilan, Bukan Sekadar Profesi
Dalam wawancara dengan media ini di sela-sela sharing kelompok, Pastor Gonsa, sapaan akrabnya menekankan bahwa dasar seorang guru berkerja di sekolah Katolik haruslah iman. Menurutnya, seorang pendidik di sekolah Katolik tidak hanya “ditugaskan” oleh pemerintah, melainkan “diutus” oleh Gereja. Dari sinilah martabat seorang pendidik Katolik mendapat makna lebih dalam.
“Kalau kesadaran ini hilang, akhirnya orang hanya mengajar sekadar kewajiban. Tetapi kalau disadari sebagai perutusan, maka mengajar menjadi bagian dari karya pewartaan Injil, dan itu jauh lebih bermakna,” ungkapnya.
Guru dipanggil bukan hanya untuk mentransfer ilmu, melainkan mendampingi anak-anak dengan segala kompleksitas hidup mereka. Kehadiran seorang guru, kata Pastor yang sejak 2019-2021 berkarya di PNG itu, mestinya menghadirkan Kristus sendiri dalam ruang kelas—menjadi sahabat, penghibur, dan penolong dalam pergumulan anak-anak.
Sekolah sebagai Ruang Penyembuhan
Lebih jauh, Pastor lulusan ilmu spiritual di Australia, itu mengingatkan bahwa sekolah Katolik harus menjadi lebih dari sekadar tempat belajar. Sekolah seharusnya menjadi ruang pendampingan, tempat anak-anak yang terluka bisa menemukan kembali harapan.
“Banyak anak yang datang ke sekolah dengan luka, pengalaman pahit, atau pergumulan berat yang tidak bisa mereka sembuhkan di rumah. Sekolah harus hadir sebagai ruang penyembuhan, tempat mereka disapa dan dipulihkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, bila guru-guru sungguh menyadari perutusan itu, maka mereka akan memberikan diri lebih daripada sekadar standar pengajaran. Mereka akan terlibat membentuk manusia seutuhnya, dengan nilai kasih, kepedulian, dan persaudaraan yang sejati.
![]() |
| Para Guru Pegawai atusias mengikuti materi rekoleksi yang disampaikan Pastor Wilhelmus Gonsa Saur, OFM (Dok, Pen) |
Meneladani Santo Fransiskus Asisi
Keteladanan Santo Fransiskus Asisi menjadi pusat refleksi rekoleksi ini. Fransiskus, kata Pastor yang kini sebagai Magister Novis di Biara OFM Sentani, itu hanya mampu merangkul orang-orang kusta karena ia lebih dahulu mengalami dirinya dikasihi oleh Tuhan. Dari pengalaman rohani inilah tumbuh keberanian untuk melawan rasa takut dan menyerahkan diri sepenuhnya bagi sesama.
“Tanpa pengalaman dikasihi Tuhan, Fransiskus tidak mungkin berani menyentuh orang kusta. Kapasitas kita untuk melayani hanya bersumber dari relasi kita dengan Tuhan. Semakin dalam kita menyadari kasih-Nya, semakin besar pula keberanian kita untuk hadir bagi sesama,” tuturnya.
Guru-guru di sekolah Katolik, menurutnya, pun dipanggil untuk meneladani sikap ini. Dari pengalaman pribadi akan kasih Allah, lahirlah kepedulian yang nyata kepada anak-anak, terutama mereka yang tersisih, terluka, atau kehilangan harapan.
Kehadiran rekoleksi ini bukan hanya menyalakan semangat iman secara teoritis, tetapi sungguh dirasakan langsung oleh para guru dan kepala sekolah yang ikut serta.
Bagi Ibu Junita Hutapea, Kepala SMA YPPK Asisi Sentani, rekoleksi ini bagaikan pengisian ulang energi batin.
“Kegiatan hari ini luar biasa, seperti baterai yang sudah low dicas lagi. Karena begitu bermanfaat untuk penguatan kita sebagai guru, di mana di situ diajarkan teladan Fransiskus Asisi yang memang sangat penting untuk diteladani oleh seorang guru: rendah hati, pengabdian terbaik, refleksi diri sendiri, melayani dengan kasih, dan lain-lain. Kegiatan kali ini is the best, luar biasa. Para guru sangat antusias dan semoga materi yang sudah diterima dapat diterapkan di sekolah. Itu harapan saya.”
Sementara itu, Ibu Veronika Bulu Mangu, Kepala SD YPPK Bonaventura Sentani, menekankan bagaimana rekoleksi ini menyegarkan iman dan semangat melayani.
“Dengan adanya rekoleksi guru pegawai YPPK FA Kabupaten Jayapura, kami merasa disegarkan dalam iman, harapan, dan cinta. Kami akan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dengan meneladani semangat Santo Fransiskus Asisi. Harapan kami, para guru lebih melaksanakan pembelajaran dengan cinta kasih, dan menanamkan karakter Kristiani yang baik bagi peserta didik, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.”
Testimoni ini menunjukkan bagaimana rekoleksi benar-benar menjadi pengalaman yang memperkaya, tidak hanya secara rohani tetapi juga praktis untuk karya pendidikan di sekolah masing-masing.
![]() |
| Foto Bersama Para Guru dari SMA YPPK Asisi Sentani, (Dok. Pen) |
Membentuk Manusia, Membangun Dunia
Bagi Pastor Gonsa, tugas seorang pendidik adalah membentuk manusia. Pendidikan yang sejati tidak berhenti pada pencapaian akademis, tetapi mengakar pada pembentukan nilai.
“Kalau manusia terbentuk baik di sekolah, maka dunia akan sungguh menjadi tempat yang nyaman untuk semua orang. Akan tumbuh ruang persaudaraan, kepedulian, dan kasih. Dari sinilah kabar sukacita Injil sungguh nyata,” tegasnya.
Ia menutup dengan harapan agar guru-guru di sekolah Katolik selalu kembali pada kesadaran panggilan iman mereka. Sebab ketika seorang guru menghidupi panggilan itu, sekolah tidak hanya menghasilkan murid yang cerdas, tetapi juga manusia yang berakar pada kasih dan mampu berbagi kebaikan dalam kehidupan.
Rekoleksi YPPK Fransiskus Asisi Kabupaten Jayapura yang dilakukan ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi sebuah upaya menyegarkan kembali roh panggilan yang mudah terlupakan dalam rutinitas. Di tengah tuntutan zaman yang makin kompleks, para pendidik diingatkan bahwa tugas mereka adalah panggilan perutusan Gereja.
Seperti Santo Fransiskus yang menemukan kekuatan dalam kasih Tuhan, demikian pula guru-guru di sekolah Katolik dipanggil untuk menjadi tanda kasih itu bagi anak-anak. Dengan demikian, “melayani dengan hati dan mendidik dengan kasih” bukan sekadar tema rekoleksi, melainkan cara hidup yang mesti dihidupi setiap pendidik—sebuah panggilan luhur untuk membentuk manusia, membangun dunia, dan mewartakan kabar sukacita Injil melalui pendidikan. (DNS)


