Header Ads Widget

YPPK Fransiskus Asisi Harus Punya Rohnya Sendiri: Iman, Pengetahuan, dan Budaya Papua

Oleh: Demmy Namsa*

Foto Bersama Romo Darmin Mbula, OFM dan
Peserta Workshop Penguatan Kapasitas Direktur, Direktris, Supervisor, Kabag dan Staf

JalaTimur.com,- “Kita harus punya core value yang lahir dari iman, pengetahuan, dan budaya Papua. Inilah arah baru Pendidikan YPPK Fransiskus Asisi Jayapura dalam membangun kurikulum khas Katolik yang hidup dan relevan dengan konteks zaman".

Hal ini ditegaskan Ketua MNPK (Majelis Nasional Pendidikan Katolik) sekaligus Sekjen BMPS (Badan Musyawarah Perguruan Swasta) Nasional, Romo Dr. Vincentius Darmin Mbula, OFM, di sela-sela kegiatan Workshop Penguatan Kapasitas Direktur/Direktris/Supervisor, Kabag, dan Staf Sekretariat Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Se-Provinsi Papua dan Papua Pegunungan, di Aula Maranatha Waena, Kamis-Sabtu, 16-18/10/2025.

Dengan gaya khasnya yang tegas namun penuh kehangatan, Romo Darmin berbicara mengenai masa depan pendidikan Katolik Papua, khususnya YPPK Fransiskus Asisi yang saat ini sedang berdiri di tengah arus besar perubahan: kebijakan pendidikan tanpa pungutan, kehadiran sekolah-sekolah baru yang dibangun pemerintah, serta tantangan era digital yang kian mendesak.
/>
Sekolah Katolik di Papua menghadapi situasi paradoks: di satu sisi, tetap dipercaya masyarakat karena nilai-nilai imannya; namun di sisi lain, harus terus berinovasi agar tidak tertinggal oleh sistem pendidikan yang serba cepat berubah.

“Kalau kita hanya menunggu, maka kita akan ditinggal,” kata Romo Darmin dalam wawancara ekslusif dengan Media ini. “Sekolah Katolik tidak boleh kehilangan rohnya. Kita harus menciptakan transformasi pendidikan khas Katolik sebagai daya tarik bagi masyarakat.”

Transformasi yang dimaksud bukan sekadar perubahan metode mengajar, melainkan pembentukan manusia seutuhnya — manusia Papua yang beriman, cerdas, berbudaya, dan memiliki semangat Fransiskus Asisi: rendah hati, bersaudara, dan peduli.


Langkah Pertama: Merumuskan Profil Lulusan Papua

Ilustrasi: Profil Lulusan 
Menurut Romo Darmin, langkah pertama untuk menciptakan sekolah Katolik transformatif adalah menetapkan profil lulusan yang jelas dan kontekstual.

“Setelah anak-anak kita menempuh pendidikan di lembaga Katolik, mereka mau jadi apa? Jadi manusia seperti apa? Ini harus kita rumuskan bersama,” ujarnya.

Profil lulusan bukan sekadar slogan, tetapi menjadi arah dan cita-cita bersama seluruh unsur YPPK — dari yayasan, direktur, kepala sekolah, hingga guru dan pegawai. Profil ini akan menjadi “kompas moral” pendidikan Katolik di Papua.

Ia menekankan, profil lulusan harus digali dari konteks budaya Papua. Filsafat manusia Papua, nilai-nilai orang asli (indigenous people), dan semangat hidup dalam komunitas harus menjadi bahan utama dalam perumusan itu.

“Kita sering bilang ingin mendidik manusia seutuhnya. Tapi seutuhnya seperti apa? Itulah yang harus kita definisikan dulu,” tambahnya.

Langkah Kedua: Mendesain Kurikulum Papua

Setelah profil lulusan disepakati, pekerjaan besar berikutnya adalah merancang kurikulum khas Papua.

 “Kurikulum nasional itu sifatnya standar — dan standar itu adalah batas minimal. Sekolah Katolik tidak boleh puas dengan yang minimal,” tegas Romo Darmin.

Ia menyerukan agar YPPK segera membentuk Tim Kurikulum Abad ke-21 Papua — tim yang terdiri dari para pendidik dan ahli kurikulum Katolik yang memahami konteks Papua. Tim ini, lanjutnya, harus memiliki dua dasar legitimasi: Surat Keputusan dari Uskup sebagai otoritas Gereja; dan Surat Keputusan dari YPPK sebagai lembaga penyelenggara pendidikan Katolik.

Tim tersebut tidak hanya menyusun mata pelajaran, tetapi juga membuat Naskah Akademik Kurikulum Khas Katolik Papua — dokumen filosofis, teologis, dan pedagogis yang menjelaskan arah pendidikan Katolik di tanah ini.

Dalam rancangan kurikulum itu, nilai iman Katolik harus menjadi poros, pengetahuan menjadi sarana, dan budaya Papua menjadi jiwa yang menghidupkannya.

Langkah Ketiga: Menyiapkan Guru dan Tenaga Kependidikan

Foto Bersama Ketua Badan Pengurus, Anggota, dan Para Direktur SE'YPPK Fransiskus Asisi Se-Provinsi Papua dan Papua Pegunungan

“Tidak ada kurikulum yang hidup tanpa guru yang hidup,” kata Romo Darmin dengan nada reflektif.

Menurutnya, setelah kurikulum dirancang, langkah penting berikutnya adalah penyiapan sumber daya manusia (SDM) — baik guru maupun tenaga kependidikan.

Guru Katolik harus menjadi pembawa nilai-nilai Katolisitas, bukan sekadar pengajar. Begitu pula tenaga kependidikan — dari bagian administrasi, arsip, hingga laboratorium dan perpustakaan — semuanya bagian dari sistem pendidikan yang berjiwa Katolik.

Romo Darmin bahkan menegaskan pentingnya perpustakaan dan laboratorium sebagai pusat pengetahuan dan eksplorasi iman.

“Perpustakaan dan lab itu bukan pelengkap, tapi jantung pendidikan. Dari situ, semangat ilmiah dan kerendahan hati dalam mencari kebenaran bisa tumbuh,” ungkapnya.

Langkah Keempat: Sekolah Berpola Asrama dan Pembiayaan Berkelanjutan

   Ilustrasi: Sekolah Berpola Asrama
Dalam pandangan Romo Darmin, salah satu ciri kuat tradisi pendidikan Katolik adalah sekolah berpola asrama.
“Asrama bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang pembentukan karakter, moral, spiritual, dan kecerdasan emosional siswa,” jelasnya.

Ia mengusulkan agar YPPK memetakan sekolah-sekolah potensial untuk menjadi pilot project kurikulum khas Katolik Papua — misalnya satu sekolah di kota dan beberapa di daerah.

Selain itu, Romo Darmin menyoroti urgensi pembiayaan pendidikan yang berkelanjutan (sustainable financial education).

“Selama ini kita hanya bergantung pada SPP. Padahal harus ada sumber dana lain — sumber dana konfesional, usaha kreatif, dan dukungan jejaring Gereja serta masyarakat,” katanya.

Ia mendorong pembentukan Tim Usaha Pembiayaan Pendidikan YPPK Papua, yang bertugas mencari inovasi pendanaan di luar sumber konvensional tanpa mengorbankan misi pelayanan Katolik.


Langkah Kelima: Membangun Nilai Inti (Core Value) Pendidikan Katolik

Ilustrasi: Tiga Pilar Nilai Inti Katolik
Bagi Romo Darmin, inti dari semua langkah di atas adalah membangun “core value” yang menjadi jiwa kurikulum.

Ia menyebut tiga pilar utama: iman, pengetahuan, dan budaya — yang semuanya dihidupi dalam semangat Santo Fransiskus Asisi, yaitu Pace e Bene (Damai dan Kebaikan).



“Nilai kerendahan hati, misalnya, bukan hanya soal sikap pribadi, tapi juga sikap ilmiah,” katanya memberi contoh. “Kalau guru kimia tidak rendah hati, ia bisa mencampur zat secara salah dan membahayakan hidup. Jadi, kerendahan hati harus terintegrasi dalam semua disiplin ilmu.”

Inilah arah baru pendidikan Katolik: bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi menghidupi nilai-nilai iman dalam setiap cabang ilmu pengetahuan.
/>
Seruan untuk Bertindak: Dari Gagasan ke Gerakan
Gagasan besar yang disampaikan Romo Dr. Vincentius Darmin Mbula, OFM, bukan hanya refleksi teoritis, melainkan peta jalan konkret bagi YPPK Fransiskus Asisi. Kini, tantangan sesungguhnya ada di tangan para pemangku kebijakan: Pembina, Badan Pengurus, Badan Pengawas, para Direktur, dan Kepala Bagian di Kantor Sekretariat Eksekutif YPPK.

Apakah gagasan itu akan berhenti sebagai catatan workshop, atau benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata? Saat inilah momentum sejarah untuk bergerak: Membentuk Tim Kurikulum Abad ke-21 Papua dengan mandat resmi dari Gereja dan YPPK. Menulis Naskah Akademik Kurikulum Khas Katolik YPPK Fransiskus Asisi. Menetapkan sekolah percontohan (pilot project) untuk penerapan awal. Menyiapkan SDM guru dan tenaga kependidikan yang unggul.

Membangun Model Pembiayaan Pendidikan Katolik yang Berkelanjutan.

Foto bersama Rm. Darmin Mbula, OFM

Romo Darmin menutup wawancara dengan pesan yang menggugah:

“Kita tidak sedang meniru siapa pun. Kita sedang menulis sejarah kita sendiri — sejarah pendidikan Katolik di Papua yang berakar pada iman, pengetahuan, dan budaya kita.”

Kurikulum khas Katolik Papua bukan hanya impian, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual seluruh jajaran YPPK Fransiskus Asisi Jayapura.

Ia adalah wujud nyata dari iman yang bekerja melalui pendidikan — sebuah karya peradaban yang berangkat dari semangat Fransiskus Asisi: rendah hati, bersaudara, dan peduli.

Dengan demikian, maka perlu ditegaskan: “Kalau bukan kita yang memulainya sekarang, siapa lagi yang akan menulis masa depan pendidikan Katolik di Papua?”

*Demmy Namsa, Staf Pegawai SE’YPPK Fransiskus Asisi Kota Kabupaten Jayapura.