Header Ads Widget

ESTAFET KEPEMIMPINAN: LIMA KEPALA SEKOLAH BARU YPPK FRANSISKUS ASISI RESMI DILANTIK


Lima Kepsek Baru, Berpose bersama Kepala Dinas, Kabid, dan Pengawas Pendidikan Kota Jayapura

Pelantikan lima kepala sekolah di lingkungan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura, Kamis (2/10/2025), bukan sekadar peristiwa administratif. Ia adalah simbol estafet pengabdian, sebuah momen reflektif yang meneguhkan kembali komitmen mendidik dengan hati, melayani dengan rendah hati, dan memimpin dengan visi. Di balik nama-nama yang disebutkan dalam prosesi itu, ada harapan baru bagi pendidikan Katolik di Tanah Papua.

Suasana aula SMA YPPK Teruna Bakti Waena, Kamis pagi itu, dipenuhi wajah-wajah penuh harapan.  Suara merduh perwakilan 70 orang siswa, ikut memberi nuasa yang penuh semarak. Guru, siswa, para pengurus yayasan, hingga pejabat Dinas Pendidikan Kota Jayapura berkumpul menyaksikan momen penting: pelantikan lima kepala sekolah di bawah naungan Sekretariat Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura.

Bagi sebagian orang, mungkin pelantikan hanyalah rutinitas birokratis. Tetapi bagi YPPK, setiap pergantian kepala sekolah adalah penerusan tongkat estafet pengabdian—sebuah amanah yang tidak hanya soal memimpin lembaga, melainkan memimpin hati, visi, dan masa depan generasi muda Papua.

Lima kepala sekolah baru, yang kini menanggung tanggung jawab besar, antara lain:
  • Henny Djailani, kembali dipercaya memimpin PAUD St. Lukas Dok V.
  • Suryati, S.Pd., yang sebelumnya memimpin TK Kristus Terang Dunia Waena, kini menakhodai TK YPPK Bintang Kecil Abepura.
  • Rindawati Sihombing, S.Pd., yang semula guru di TK Bintang Kecil, kini diberi kesempatan menjadi kepala TK Kristus Terang Dunia Waena.
  • Nicolaus Laga Wawin, S.S., melanjutkan peran di SD YPPK Kristus Raja Dok IX.
  • Suster Mastara Br. Sagala, S.Pd., menggantikan Suster Prika Situmorang, S.Pd. di SD YPPK St. Petrus Argapura.

Setiap nama bukan sekadar daftar jabatan, tetapi cerita perjalanan panjang—guru-guru yang rela melangkah lebih jauh, mengemban tanggung jawab lebih besar, demi sebuah cita-cita: menghadirkan pendidikan Katolik yang unggul dan penuh kasih.

Kepemimpinan yang Melayani

Direktur SE'YPPK Fransiskus Asisi Kota Kabupaten Jayapura, Ferdinando Lase. S.Kom


Dalam sambutannya, Direktur SE’YPPK FA, Ferdinando Lase, menyampaikan rasa terima kasih atas kerelaan para guru yang bersedia memikul amanah sebagai kepala sekolah. Baginya, menjadi kepala sekolah bukanlah sekadar kenaikan jabatan, tetapi sebuah panggilan untuk melayani lebih dalam.

“Semua guru punya kontribusi penting dalam memajukan YPPK. Harapan saya, para guru terus meningkatkan kinerja dan membina diri, agar suatu saat juga bisa diberi kesempatan menjadi pemimpin,” tegasnya.

Kata-kata ini mengingatkan bahwa kepemimpinan di YPPK tidak lahir dari ambisi, melainkan dari kesediaan hati untuk melayani. Kepala sekolah adalah guru yang dipanggil untuk melangkah setapak lebih maju, mengarahkan langkah kolektif seluruh komunitas sekolah.

Tantangan di Tengah Keterbatasan

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Rocky Bebena, M.Pd


Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Rocky Bebena, M.Pd., menambahkan refleksi penting: memimpin sekolah di era sekarang menuntut lebih dari sekadar pengalaman.

“Kepala Sekolah adalah guru yang diberikan tanggung jawab lebih untuk melaksanakan tugas sebagai Kepala Sekolah. Karena diberikan tugas tambahan itu, maka beban kerjanya agak besar sehingga dia harus memiliki komitmen dalam menjalankan visi-misi dari sekolah, dan juga di Katolik, visi misi dari yayasan. Kenapa? Karena mengembangkan pendidikan di Kota Jayapura saat ini memerlukan kreativitas dan kolaborasi bahkan inovasi dari seorang Pemimpin. Banyak sekali metode mengajar yang harus dikembangkan di sekolah, jika tidak didukung oleh Sumber Daya Manusia dan Sarana-Prasana, maka akan sulit kita mengembangakan itu. Dengan adanya lima kepala sekolah yang baru ini, baik di TK, SD, dan juga Paud, saya berharap mereka menjadi pilar perubahan untuk kepemimpinan bukan soal lama atau cepatnya, tapi bagaiman keinginan dia untuk menjadikan sekolah itu berubah, berubah dalam banyak hal, sebelum sekolah berubah, pertama pemimpinnya harus berubah dulu. Bagaimana menginginkan perubahan dalam pembelajarannya, tapi dia sendiri tidak mau berubah" Tegas Rocy penuh penekanan.

“Sebelum sekolah berubah, pemimpinnya harus lebih dulu berani berubah,” pernyataan ini menggambarkan tantangan nyata pendidikan di Papua: keterbatasan tenaga pendidik, keterbatasan sarana, hingga keterbatasan anggaran. Namun justru dalam keterbatasan itulah kreativitas, inovasi, dan kolaborasi menemukan maknanya. Kepala sekolah diharapkan menjadi motor perubahan, bukan hanya dalam administrasi, tetapi dalam menciptakan iklim belajar yang memerdekakan anak didik.

Rocky juga menyinggung soal distribusi tenaga pendidik. Keterbatasan kuota ASN membuat pemerataan guru di sekolah negeri maupun swasta menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, ia memberi apresiasi kepada YPPK yang konsisten berkontribusi dalam pendidikan di Jayapura.

“YPPK sudah banyak memberikan kemajuan positif, baik untuk anak didik, guru, maupun masyarakat,” ujarnya.

Harapan dari Yayasan
Tampak Pihak Dinas Pendidikan Kota Jayapura bersama Ketua Badan Pengurus YPPK FA Jayapura Provinsi Papua, Veronika Urip Indiastuti, M.Pd

Ketua Badan Pengurus YPPK Fransiskus Asisi Jayapura, Veronika Urip Indiastuti, M.Pd, dalam sambutannya menggarisbawahi dua hal penting: semangat inovasi para kepala sekolah dan harapan akan kolaborasi pemerintah. Ia meminta agar pemerintah kota berkenan menempatkan guru PNS di sekolah-sekolah Katolik, sebagai bentuk dukungan konkret untuk meringankan beban yayasan.

“Kami berharap kepala sekolah yang baru lebih bersemangat dan inovatif dalam mengembangkan YPPK yang lebih berkualitas,” tegasnya.

Pernyataan ini menggugah: kualitas pendidikan Katolik tidak bisa berdiri sendiri. Ia butuh dukungan bersama, baik dari yayasan, pemerintah, guru, maupun masyarakat. Pendidikan adalah kerja kolektif, bukan perjuangan soliter.

Pendidikan sebagai Pelayanan


Tampak Lima Kepsek yang baru dilantik (Dok, pen)

Pelantikan ini juga menyisakan pesan reflektif: pendidikan bukan sekadar transmisi ilmu, melainkan pelayanan. Kepala sekolah bukan hanya pemimpin administratif, tetapi pemimpin spiritual, moral, dan budaya. Ia harus menjadi sumber inspirasi bagi guru, teladan bagi siswa, dan penggerak bagi masyarakat.

Dalam tradisi Katolik, kepemimpinan selalu dihayati sebagai pelayanan rendah hati. Inilah yang menjadi benang merah dari pelantikan lima kepala sekolah YPPK: kepemimpinan yang bertumbuh dari iman, melayani dengan kasih, dan membangun dengan pengorbanan.

Tatkala satu nama berhenti memimpin, dan nama lain mulai melanjutkan, di situlah estafet itu terus berpindah. Flora Bheni, S.Pd., yang sebelumnya menjabat kepala TK Bintang Kecil, mungkin tidak lagi memimpin secara struktural, tetapi pengabdiannya tetap menjadi bagian dari sejarah sekolah itu. Begitu pula Suster Prika Situmorang yang kini menyerahkan tongkat estafet kepada Suster Mastara Sagala.

Inilah indahnya kepemimpinan dalam pendidikan: tidak ada yang benar-benar berhenti. Yang ada hanyalah kesinambungan, sebuah rangkaian pelayanan yang saling melengkapi. Lima kepala sekolah baru kini berdiri di garis depan, memimpin sekolah-sekolah YPPK di tengah tantangan zaman.

Namun di balik semua itu, pelantikan ini adalah seruan bagi kita semua—bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Bahwa setiap guru, kepala sekolah, yayasan, pemerintah, bahkan orang tua dan masyarakat, punya peran dalam menyalakan terang masa depan generasi Papua.

Karena sesungguhnya, mendidik bukan hanya membangun ruang kelas, tetapi membangun manusia. Dan memimpin sekolah bukan hanya soal jabatan, tetapi soal kesediaan hati untuk melayani demi masa depan yang lebih baik. (Demmy Namsa)