![]() |
Jayapura, JalaTimur.com,- Suasana penuh sukacita dan semangat persaudaraan begitu terasa dalam rekoleksi hari kedua guru dan pegawai Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi Kota-Kabupaten Jayapura, Rabu (20/8/2025). Kegiatan yang masih dipandu oleh P. Wilhelmus Gonsa Saur, OFM, para peserta tidak hanya menyelami kembali nilai-nilai hidup Santo Fransiskus Asisi, tetapi juga mengalami penyegaran rohani yang meneguhkan mereka dalam panggilan sebagai pendidik Katolik. Melalui kisah tentang biara tua yang kembali hidup karena keyakinan bahwa “Tuhan ada di antara kamu”, para guru diajak menyadari bahwa dalam setiap kesulitan dan tanggung jawab mendidik, Tuhan hadir dan berkarya lewat diri mereka—menjadikan guru sebagai perpanjangan tangan kasih Allah bagi peserta didik, orangtua, dan masyarakat.
Hari kedua rekoleksi ini menampilkan dinamika yang berbeda. Jumlah peserta yang lebih banyak justru menghadirkan energi baru—kegembiraan, tawa, dan rasa persaudaraan yang hidup dalam setiap kelompok diskusi. Materi yang disampaikan tidak hanya disimak, tetapi direspon secara aktif. Dalam suasana yang lebih rileks, para guru menemukan bahwa kebersamaan yang dilandasi kasih dan rendah hati merupakan tanda persaudaraan sejati, sebagaimana dihidupi Santo Fransiskus Asisi.
P. Gonsa Saur, OFM, menegaskan bahwa nilai-nilai Fransiskan bukan sekadar teori, tetapi harus dihidupi dalam keseharian seorang guru. “Ketika semakin rileks, maka tanda persaudaraan terpelihara di situ,” ungkapnya.
Ia melihat energi dan semangat peserta tetap terjaga hingga akhir, sebagai tanda bahwa mereka sungguh menghayati rekoleksi ini sebagai kesempatan untuk menyegarkan kembali panggilan mendidik dengan hati.
Dalam sesi penutup, Pater Gonsa membagikan kisah tentang sebuah biara tua yang hampir mati, namun kembali hidup karena para biarawannya menyadari satu kebenaran sederhana: “Tuhan ada bersama kalian.”
Kisahnya itu sebagai berikut: dahulu ada sebuah biara tua, yang sudah lama tidak berkembang.
Sebelumnya, biara itu sangat terkenal dan memiliki nama besar.
Dalam perjalanan
waktu, biara itu semakin mengalami kemunduran, karena para biarawan yang ada semuanya sudah tua,
sementara tidak ada lagi calon yang melamar. Masa depan biara itu semakin hari
semakin lesuh. Harapan untuk mempertahankan biara itu, kemungkinan sudah tidak
ada lagi. Tinggal waktunya biara itu akan ditutup.
Suatu ketika datanglah
seorang rahib tua, di dekat biara itu. Di sana, dia mendirikan sebuah tenda
untuk tempat tinggalnya. Sudah beberapa hari, rahib itu tetap ada di sana.
Lalu, seorang biarawan tua dari biara itu datang menghampiri sang rahib. Sang biawaran tua itu menceritakan seluruh pergumulan di dalam biara kepada Rahib itu.
Sesudah menceritakan keluh kesahnya, sang Rahib hanya menjawab singkat, “Pulanglah, dan ketahuilah bahwa Tuhan ada bersama
kalian”.
Setelah mengatakan itu, sang Biarawan tua itu kembali ke biaranya.
Semua rekan yang lain dengan antusias menantikan jawaban sang Rahib. "Apa yang disampaikan si rahib itu?" tanya mereka. Sang
Biarawan lalu menjawab, "Tuhan ada bersama kalian. Itulah yang dia katakan". Semua mereka diam, dan bermenung mengenai ungkapan itu.
Ternyata
mereka semua menemukan jawaban yang sama, bahwa benar “Tuhan ada di dalam biara
kita", "Tuhan ada di dalam diri kita", dan "Tuhan ada di sekitar kita,” maka mereka semua berdoa dan memohon pertolongan Tuhan untuk kemajuan biara. Sejak itu, satu per
satu calon mulai muncul. Mereka mulai bersemangat, dan Biara kembali hidup.
Kisah itu menjadi cermin bagi para guru—bahwa dalam setiap perjuangan, tantangan, dan pergumulan, Tuhan selalu hadir di dalam diri mereka. Dengan menyadari kehadiran Tuhan, seorang guru dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, perpanjangan tangan kasih Allah yang peduli terhadap anak-anak, serta pembawa harapan bagi orangtua dan masyarakat.
Direktur Sekretariat Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi, Ferdinando Lase, S.Kom, mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme para peserta.
“Kami berharap tujuan dari kegiatan ini dapat meningkatkan pelayanan pendidikan kepada peserta didik dengan tetap meneladani semangat hidup Santo Fransiskus Asisi. Semoga semangat yang lahir di sini tidak berhenti, tetapi dibawa pulang dan diwujudkan di sekolah masing-masing,” ujarnya.
![]() |
| Direktur Sekretariat Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura (Dok, Red) |
Rekoleksi ini menjadi tanda bahwa YPPK Fransiskus Asisi berkomitmen untuk terus merawat spiritualitas para guru dan pegawai, agar pelayanan pendidikan tidak hanya soal mengajar, tetapi sungguh menjadi perwujudan kasih yang melayani. Seperti Fransiskus Asisi yang sederhana dan penuh cinta, para guru diajak untuk hadir sebagai pribadi yang rendah hati, bersaudara, dan peduli—menjadi cahaya kecil yang menyalakan semangat iman dan harapan di tengah dunia pendidikan. (Redaksi)



