Semangat itulah yang mewarnai Lomba Mewarnai tingkat TK/PAUD dan Lomba Tari Kreasi tingkat SD, SMP, dan SMA yang diselenggarakan Panitia Tahun Yubileum Fransiskan dan Pesta Pelindung Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi (FA) Kota/Kabupaten Jayapura, Senin (28/9/2026), di Aula SMA YPPK Teruna Bakti Waena.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Tahun Yubileum Fransiskan, yang ditetapkan Paus Leo XIV dalam rangka memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi. Tahun Yubileum tersebut berlangsung sejak 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027.
Bagi keluarga besar YPPK Fransiskus Asisi Jayapura, momentum ini memiliki makna tersendiri. Semangat Santo Fransiskus yang menghidupi kesederhanaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama hendak diterjemahkan ke dalam dunia pendidikan melalui kegiatan yang melibatkan peserta didik, guru, dan satuan pendidikan.
Di bawah kepemimpinan Wilhelmus Werong, SS., M.Pd., selaku Ketua Panitia, berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menyongsong Pesta Pelindung YPPK Fransiskus Asisi Jayapura yang diperingati setiap 4 Oktober.
Panggung Kreativitas, Ruang Pembentukan Karakter
Lomba mewarnai tingkat TK/PAUD diikuti 23 peserta dari enam satuan pendidikan TK/PAUD di lingkungan YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura. Sementara itu, Lomba Tari Kreasi melibatkan 11 satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah.
Kedua kegiatan ini menghadirkan ruang pembelajaran yang berbeda, tetapi bertemu pada satu tujuan: mengembangkan potensi anak sejak usia dini hingga jenjang pendidikan menengah.
Pada lomba mewarnai, anak-anak belajar menuangkan imajinasi, mengenal warna, serta melatih ketekunan dan kreativitas. Pada lomba tari, peserta ditantang mengolah gerak, musik, ekspresi, kekompakan, dan penghayatan terhadap karya yang dibawakan.
![]() |
| Tampak para siswa TK/PAUD sedang mengikuti Lomba Mewarnai |
Bagi YPPK Fransiskus Asisi, kompetisi bukan semata-mata tentang siapa yang keluar sebagai pemenang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana pendidikan karakter, terutama dalam membangun keberanian, disiplin, kerja sama, sportivitas, dan kemampuan menerima hasil dengan lapang dada.
Direktur Sekretariat Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura, Ferdinando Lase, S.Kom., menegaskan bahwa semangat Fransiskan harus tetap hidup melalui setiap kegiatan yang dilaksanakan.
"Dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, saya berharap semangat Fransiskan: kebersamaan, kesederhanaan, persaudaraan, itu tetap tumbuh," ujarnya.
Menurut Ferdinando, lomba juga harus menjadi pengalaman pendidikan yang membentuk sikap peserta didik, baik ketika memperoleh kemenangan maupun ketika menghadapi kekalahan.
Ia berharap anak-anak belajar menjunjung tinggi sportivitas, menerima hasil perlombaan dengan sikap dewasa, serta memahami bahwa keberhasilan bukan satu-satunya ukuran dari sebuah proses pembelajaran.
"Menang atau kalah bagi mereka, mereka harus belajar menerima. Kemenangan mereka juga harus menerima kekalahan," tuturnya.
Ferdinando mengapresiasi partisipasi sejumlah sekolah yang telah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Namun, ia juga merasa kecewa karena masih ada satuan pendidikan YPPK yang belum berpartisipasi karena jadwal lomba bertepatan dengan kegiatan sekolah.
Kondisi ini, menurutnya, menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan kegiatan serupa pada masa mendatang agar keterlibatan sekolah semakin luas.
ISBI Tanah Papua: Lomba Menjadi Pra-Kompetisi Menuju FLS3N
Salah satu hal menarik dari kegiatan ini adalah keterlibatan tiga dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua sebagai dewan juri Lomba Tari Kreasi. Mereka adalah Febiola Karolina Winerungan, M.Sn; Muhammad Ilham Mustain Murda, S.T., M.Sn; dan Dr. I Bagus Gede Surya Peradantha, M.Sn.
Kehadiran para akademisi seni tersebut memberikan dimensi profesional pada perlombaan. Penilaian tidak hanya menyangkut penampilan di atas panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran seni tari bagi peserta didik dan guru pendamping.
Muhammad Ilham Mustain Murda, S.Pd., M.Sn., Dosen dan Koordinator Program Studi Seni Tari ISBI Tanah Papua, itu memandang kegiatan ini sebagai langkah positif dalam pengembangan bakat dan pengenalan budaya Papua di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, kegiatan yang diselenggarakan YPPK Fransiskus Asisi memiliki relevansi dengan Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), sebuah ajang pengembangan talenta seni dan sastra peserta didik di tingkat nasional.
"Saya melihat kegiatan ini sangat baik. Kegiatan ini, menurut saya, semacam pra-kompetisi menuju event yang lebih besar seperti FLS3N," ungkap Ilham.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman menjadi juri FLS3N memperlihatkan pentingnya persiapan yang matang bagi peserta. Karena itu, perlombaan di lingkungan YPPK dapat menjadi kesempatan bagi sekolah untuk membangun kesiapan sejak dini.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengalaman berkompetisi, tetapi juga belajar mengembangkan kualitas penampilan melalui proses latihan, diskusi, dan pendampingan guru.
Ilham juga mengapresiasi keterlibatan para guru yang berdiskusi mengenai persiapan perlombaan. Baginya, interaksi tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan kualitas pembinaan seni di sekolah.
"Harapan saya tidak hanya lomba. Mempersiapkan lomba, baik dari tingkat SD, SMP, dan SMA, itu butuh proses," katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembinaan seni budaya tidak dapat dibangun secara instan. Dibutuhkan proses yang berkelanjutan, mulai dari pengenalan potensi, latihan rutin, pengembangan kreativitas, hingga pendampingan yang melibatkan tenaga pendidik dan praktisi seni.
Membuka Kolaborasi Pendidikan dan Perguruan Tinggi Seni
Lebih jauh, Ilham menyampaikan kesiapan ISBI Tanah Papua, khususnya Program Studi Seni Tari, untuk berkolaborasi dengan YPPK Fransiskus Asisi dalam pengembangan seni dan budaya.
Kolaborasi tersebut dapat mencakup berbagi pengetahuan tentang penyusunan koreografi, pengembangan musik pengiring melalui Program Studi Musik, hingga pengembangan kostum pertunjukan.
![]() |
| Tari Kreasi yang ditampilkan siswa SMP Taruna Mulia, Argapura |
Menurut Ilham, peluang kerja sama terbuka karena sejumlah bidang yang dilombakan memiliki keterkaitan langsung dengan program studi yang tersedia di ISBI Tanah Papua.
"Kami dari ISBI Tanah Papua, khususnya Prodi Tari, siap berkolaborasi dengan YPPK," tegasnya.
Ia berharap hubungan antara YPPK Fransiskus Asisi dan ISBI Tanah Papua dapat berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan sumber daya manusia di bidang seni dan budaya di Kota maupun Kabupaten Jayapura.
Harapan ini sekaligus membuka peluang bagi sekolah-sekolah YPPK untuk memperoleh pendampingan yang lebih terarah dalam membina talenta seni peserta didik.
Dengan demikian, panggung perlombaan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi dapat menjadi titik awal pembentukan ekosistem pendidikan seni yang lebih terencana.
Para Pemenang: Apresiasi atas Kreativitas dan Kerja Keras
Setelah melalui proses penilaian dewan juri, para peserta terbaik dari setiap kategori memperoleh penghargaan atas kreativitas, penampilan, dan usaha yang telah ditunjukkan.
Pada Lomba Mewarnai tingkat TK/PAUD, juara 1 diraih oleh Gresia Teodora Sinaga, siswa TK YPPK Bintang Kecik, Abepura. Juara 2 diraih oleh Paulina Agustina Sesa, siswa TK Bintang Kecil, Abepura, dan juara 3 diraih oleh Anakeke, siswa PAUD Santo Lukas Dok V.
Pada Lomba Tari Kreasi, persaingan berlangsung di tiga jenjang pendidikan, dengan hasil sebagai berikut: jenjang Sekolah Dasar (SD), juara 1 diraih oleh SD Kristus Raja Dok V, juara 2 diraih oleh SD Gembala Baik, Abepura, juara 3 diraih oleh SD Kristus Raja Dok 9, dan juara favorit diraih oleh SD St. Petrus Argapura.
Untuk jenjang SMP, juara 1 diraih oleh SD YPPK Bonaventura Sentani, juara 2 diraih oleh SMP YPPK Teruna Mulia, Argapura, dan juara 3 diraih oleh SMP Kristus Juru Selamat Jayapura, Muara Tami. Sementara jenjang SMA, juara 1 diraih oleh SMA YPPK Taruna Dharma, Kotaraja, juara 2 oleh SMA YPPK Asisi Sentani. Juara 3 tidak ada, karena SMA YPPK Teruna Bakti Waena, sebagai tuan rumah sedang melaksanakan ujian sekolah.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras para siswa, guru pendamping, dan sekolah dalam mempersiapkan penampilan masing-masing. Di balik setiap tarian, ada proses latihan, pembagian peran, penyesuaian gerak, serta kerja sama yang menuntut kedisiplinan dan komitmen.
Kegiatan Lomba Tari Kreasi dikoordinasikan oleh Wouter Fangohoi, S.H., M.H., bersama Indestiansy P. Sapulette, S.Pd.
Peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi menghadirkan kesempatan bagi lembaga pendidikan Katolik untuk merefleksikan kembali makna pelayanan pendidikan. Spiritualitas Fransiskan tidak hanya diwujudkan dalam doa dan perayaan liturgis, tetapi juga dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan manusia, termasuk melalui pengembangan potensi anak-anak.
Dalam konteks YPPK Fransiskus Asisi Jayapura, kegiatan seni dan kreativitas menjadi salah satu cara menghidupi semangat tersebut. Anak-anak diberi ruang untuk berkembang, guru memperoleh kesempatan untuk membina, dan sekolah membangun persaudaraan melalui pengalaman bersama.
Di tengah keberagaman budaya Papua, pendidikan seni juga menjadi ruang penting untuk mempertemukan nilai-nilai lokal dengan proses pembelajaran modern. Seni tari, khususnya, memungkinkan peserta didik mengenal kekayaan budaya, mengembangkan kreativitas, dan membangun kebanggaan terhadap identitasnya.
Dukungan dari ISBI Tanah Papua memperlihatkan peluang untuk menghubungkan pendidikan formal dengan keahlian akademik dan praktik seni. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, kolaborasi ini dapat memperkuat pembinaan talenta dan membuka ruang pengembangan sumber daya manusia di bidang seni budaya.
Bagi panitia, rangkaian kegiatan Yubileum Fransiskan dan Pesta Pelindung bukan hanya agenda perayaan, melainkan juga kesempatan memperkuat solidaritas antarsekolah dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan YPPK Fransiskus Asisi.
Seluruh rangkaian kegiatan Tahun Yubileum Fransiskan dan Pesta Pelindung YPPK Fransiskus Asisi Jayapura akan mencapai puncaknya melalui Perayaan Ekaristi atau Misa Syukur pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Gereja Katolik Paroki Kristus Terang Dunia (KTWD), Waena.
Perayaan ini menjadi ungkapan syukur atas perjalanan pelayanan pendidikan YPPK Fransiskus Asisi sekaligus momentum untuk memperbarui komitmen dalam mendidik generasi muda Papua. (Demmy Namsa).
Tags
Berita


