Fransiskus Asisi adalah salah satu Santo besar di dalam Gereja Katolik. Karena itu, mulai 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027 oleh Sri Paus Leo XIV ditetapkan sebagai Tahun Yubelium Fransiskan, untuk memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus Asisi.
Lembaga Pendidikan Katolik Keuskupan Jayapura menggunakan nama Fransiskus Asisi sebagai pelindungnya. Harapan di balik nama itu adalah agar YPPK senantiasa bertumbuh dan berkembang sesuai semangat hidup sang pelindungnya.
Dalam rangka mengimplementasikan semangat hidup Santo Fransiskus Asisi pada satuan pendidikan, para Pembina, Pengawas, dan Pengurus YPPK telah menetapkan ungkapan “Pace e Bene” sebagai ‘sapaan’ akrab bagi setiap warga sekolah di semua satuan pendidikannya.
Sapaan “Pace e Bene” dan dijawab “Semper Pace e Bene” dijadikan sebagai identitas atau jati diri dari sekolah-sekolah YPPK Keuskupan Jayapura. Sapaan ini menjadi “kultur sekolah” yang menjiwai seluruh dinamika kehidupan warga sekolah.
Namun, pertanyaan menggelitik muncul di sini: siap-kah pihak YPPK Fransiskus Asisi konsekuen menerapkan sapaan “Pace e Bene” sebagai identitas dan jati diri satuan pendidikannya? Ini penting, sebab sapaan “Pace e Bene” mengandung tanggung jawab etis yang harus diaktualisasikannya. Mengabaikan tanggung jawab etis “Pace e Bene”, maka sapaan itu hanyalah sebuah kesia-siaan.
Tanggung Jawab Etis “Pace E Bene”
Istilah “Pace e Bene” yang dalam bahasa Indonesia adalah “Damai dan Kebaikan”, merupakan terjemahan dari ungkapan asli dalam bahasa Latin “Dominus det tibi pacem”, yang berarti “Tuhan memberi Engkau Damai”.
Fransiskus mengajarkan para saudaranya agar memulai karya pelayanan mereka diawali dengan sapaan “Damai bagimu”, yang dikutipnya dalam Injil Lukas 10:5. Sapaan ini kemudian berkembang dalam bahasa Italia menjadi “Pace e Bene” (damai dan kebaikan).
Sapaan “damai dan kebaikan” menjadi sangat popular pada abad ke-15 hingga abad ke-17, ketika biarawan Fransiskan menggunakannya sebagai sapaan persaudaraan.
Kata “Pace” (damai) memiliki makna teologis yang mendalam, bukan hanya tidak adanya konflik melainkan lebih dari itu adalah: damai dengan Tuhan, damai dengan sesama, dan damai dengan seluruh ciptaan Tuhan. Bahkan Fransiskus sendiri memandang seluruh ciptaan Tuhan sebagai ‘Saudara dan Saudari’.
Sementara kata “Bene” menunjuk pada: kebaikan hati, belas kasih, kesederhanaan, dan pelayanan kepada orang miskin. Bagi Fransiskus, ‘damai’ tak bisa berdiri sendiri tanpa ‘kebaikan’ yang nyata.
Jika sapaan “Pace e Bene” menjadi perwujudkan identitas sekolah-sekolah Katolik Fransiskus Asisi, maka mau tidak mau, suka tidak suka, sapaan ini menuntut tanggung jawab etis (tindakan nyata) sebagai konsekuensi logisnya, yakni: merawat orang sakit, menolong orang miskin, menjaga alam, dan hidup sederhana.
Perubahan Hidup Fransiskus
Sapaan “Pace e Bene” dari santo Fransiskus Asisi tidak lahir dari ruang sunyi. Ia lahir dari sebuah pergumulan batin yang hebat. Mengingat masa mudanya, Fransiskus hidup dalam situasi glamor. Ayahnya seorang pedagang kain yang kaya raya. Dengan kekayaan ayahnya, Fransiskus dikenal suka pesta dan hiburan, hidup mewah, ingin menjadi ksatria terkenal, dan mencari kehormatan dan kemuliaan duniawi. Ia sangat populer di kalangan anak muda Asisi, dan sering menjadi pemimpin pesta.
![]() |
| Dari impian hidup sebagai Ksatria dan mencari kemuliaan duniawi, Fransiskus jadi pelayan Tuhan |
Tahun 1202, terjadi konflik antara kota Assisi dan Perugia. Fransiskus ikut berperang dengan harapan menjadi ksatria. Namun dalam pertempuran itu, justru yang terjadi adalah sebaliknya: Fransiskus ditangkap dan dipenjarakan hampir satu tahun. Dia mengalami penderitaan fisik dan mental, lalu dari sana Fransiskus mulai mempertanyakan arti hidupnya.
Bukan hanya itu, sesudah dibebaskan dari penjara, Fransiskus justru jatuh sakit cukup lama. Peristiwa ini membuatnya kehilangan semangat hidup. Kesadaran bahwa kegembiraan duniawi tidak memberi makna, dan mulailah dengan pencarian makna hidup yang lebih dalam. Inilah masa krisis spiritual Fransiskus yang sangat penting.
Dalam sikon krisis iman seperti ini, Tuhan mulai berkerja. Fransiskus yang merasa diri hebat dan ingin menjadi ksatria di medan pertempuran di Apulia, Tuhan mengubah hidupnya. Ia mendapatkan pengalaman rohani yang menakjubkan melalui ‘mimpi’. Tuhan ingin Fransiskus tidak melanjutkan mimpi sebagai ksatria, tapi menjadi pelayan bagi Tuhan.
Fransikus lalu bertemu dengan seorang yang kusta. Awalnya ia merasa jijik dan takut, karena orang kusta pada waktu itu dianggap ‘aib’ bagi masyarakat. Namun sebuah tindakan radikal dilakukan Fransiskus, yakni dia turun dari kudanya, memberikan sedekah, memeluk dan mencium orang kusta itu. Di sinilah kuasa Tuhan menang atas kehidupan Fransiskus. Dalam suatu kesaksiannya, Fransiskus mengatakan “apa yang dulu terasa pahit berubah menjadi manis bagi jiwa dan raganya”. Hati Fransiskus berubah.
Tak cukup dengan itu, Tuhan masih terus berkarya. Suatu hari ketika sedang berdoa di gereja San Damiano yang rusak, di depan salib, Fransiskus mendengar suara Kristus: “Fransikus, pergilah dan perbaikilah Gereja-Ku yang hampir runtuh.”
Dengan peristiwa ini, Fransiskus hanya percaya bahwa dia harus memperbaiki gereja yang rusak dan menjual kain ayahnya untuk membantu gereja. Tindakan ini kemudian melahirkan konflik dengan sang ayahnya.
Puncak konfliknya, ketika Fransiskus dibawa ke dapan Uskup Asisi, Guido II of Assisi. Di hadapan uskup itu, Fransiskus mengembalikan semua uang ayahnya, menanggalkan pakaiannya, dan menyatakan bahwa mulai saat ini ia hanya memiliki “Bapa di Surga”. Sejak itu, Fransiskus sungguh-sungguh hidup sebagai orang miskin, pengkhotbah pertobatan, dan pelayan orang miskin. Dengan semangat hidup yang radikal itu, di kemudian hari Fransiskus berhasil mendirikan ordo Fransiskan, yang bertahan hingga saat ini.
Implementasi “Pace e Bene” dalam Konteks Pendidikan YPPK Fransiskus Asisi
Pada sosialisasi kebijakan keuangan YPPK Fransiskus Asisi Kota/Kabupaten Jayapura yang diselenggarakan di SMA Asisi Sentani, Kamis, 05 Maret 2026, dengan mantap sapaan “Pace e Bene” disosialisasikan pula dan diharapkan dapat digunakan secara luas sebagai jati diri, identitas sekolah Katolik.
Sapaan “Pace e Bene” menjadi semacam “kultur sekolah”. Hal ini ditegaskan pula dalam Surat Edaran nomor: 099/DIR/I-B/03/2026, tertanggal, 04 Maret 2026, suatu upaya yang sungguh-sungguh menghidupi secara konsukuen nilai-nilai dan semangat hidup Santo Fransiskus Asisi pada sekolah Katolik.
Upaya ini perlu diapresiasi penuh, karena dengan momentum tahun Yubelium Fransiskan ini, YPPK Jayapura sebagai penyadang nama Fransikus Asisi hadir membawa sebuah terebosan baru melalui penanaman semangat hidup Santo Fransiskus Asisi kepada seluruh warga sekolah.
Maka, sebagai aktualisasi konkret sekaligus tanggung jawab etis YPPK Jayapura dalam mengimplementasikan semangat hidup Santo Fransiskus Asisi melalui sapaan “Pace e Bene” antara lain:
Pertama, menjadikan sekolah sebagai “ruang penyembuhan” bagi semua warga sekolah, terutama para siswa yang ‘terluka’ di zaman distrupsi digital dan menguatnya fenomena Artificial Intelligence (AI) saat ini. Mengacuh pada banyak penelitian yang menemukan hubungan antara paparan teknologi digital yang tinggi dengan gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja, yangg dilakukan Ying Dai, PhD, dkk, pada Department of Nursing, Guangzhou Women and Children’s Medical Center, Guangzhou Medical University, Guangzhou, China, mengemukan bahwa analisis terhadap 50.231 anak usia 6-17 tahun menunjukan bahwa screen time ≥ 4 jam per hari berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, masalah perilaku, dan ADHD (gangguan mental yang ditandai dengan kesulitan dalam memusatkan perhatian, perilaku implusif, dan hiperaktivitas).
Studi lain menemukan bahwa penggunaan layar yang tinggi memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kecemasan dan depresi pada remaja [Lih, Nur Zakiah Mohd Saat, (2024)]. Studi yang dianalisis oleh peneliti pendidikan menunjukkan bahwa AI dapat membuat siswa menjadi “faster but shallower thinkers”, yaitu lebih cepat dalam menyelesaikan masalah tetapi kurang mendalami konsep.
Laporan OECD tentang anak di era digital menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang bermasalah dapat dikaitkan dengan hiperaktivitas, gangguan perhatian, dan penurunan kualitas interaksi sosial pada anak.
Studi tentang integrasi AI dalam pendidikan menemukan bahwa penggunaan AI dapat menyebabkan berkurangnya interaksi sosial antara siswa dan guru, yang merupakan unsur penting dalam pembelajaran manusia.
Bahkan survei terhadap 2.000 siswa usia 13–18 tahun menemukan bahwa sekitar 62% siswa merasa AI berdampak negatif terhadap kemampuan belajar mereka, terutama karena membuat tugas sekolah terasa terlalu mudah dan mengurangi usaha berpikir mandiri. Namun siswa cenderung mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas, proses berpikir analitis berkurang, dan munculnya fenomena cognitive offloading (menyerahkan proses berpikir kepada teknologi).
Disrupsi digital juga membuka ruang bagi cyberbullying, yang merupakan salah satu penyebab luka psikologis serius pada anak. Bukti penelitian memerlihatkan bahwa cyberbullying dapat menyebabkan perasaan malu, isolasi, depresi, bahkan pikiran bunuh diri pada siswa.
Selain “luka” karena pengaruh digital dan AI, banyak laporan menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah di Provinsi Papua ikut terlibat dalam apa yang disebut “penyakit sosial”: Narkoba, seks bebas, minuman keras, dan pergaulan tidak sehat di kalangan anak dan remaja, yang cukup tinggi di Kota/Kabupaten Jayapura.
Kebanyakan anak-anak memiliki luka batin yang dibawa serta dalam pendidikan mereka. Terkadang guru tidak melihat itu. Karena itu, supaya sapaan “Pace e Bene” sungguh menjadi bermakna, maka pertama-tama adalah mengatasi “luka batin” anak-anak tersebut. Hal ini sejalan dengan pergumulan batin Fransiskus sendiri. Ia terluka, dan dari sanalah, kehidupannya bisa berubah. Maka, penyembuhan terhadap “luka batin, yang tumbuh dalam keluarga asal” harus dibersihkan agar anak-anak terlahir kembali sebagai orang yang ‘lepas bebas, hidup dalam damai dengan diri sendiri, damai dengan sesama, damai seluruh ciptaan Tuhan, dan damai dengan Tuhan yang diimaninya. Tanpa upaya penyembuhan luka batin itu, sia-sialah “Pace e Bene”.
Kedua, searah dengan semangat Fransiskus Asisi yang selalu melayani orang miskin, maka melalui sapaan “Pace e Bene”, YPPK harus berani memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dengan kenaikan Dana Solidaritas Sekolah (DSS) yang cukup tinggi di sekolah YPPK saat ini, tidak berlaku bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, secara lebih khusus lagi anak-anak di Panti Asuhan.
Ketiga, sapaan “Pace e Bene” menuntut adanya sikap kerendahan hati. YPPK Jayapura telah menetapkan sapaan ‘Pace e Bene’ sebagai “kultur sekolah, maka dengan sikap kerendahan hati yang sama, mau melaksanakan nilai-nilai, spiritualitas hidup Fransikus Asisi secara konsekuen tanpa rasionalisasi. Beranikah YPPK menerima tuntutan kerendahan hati ini?
Keempat, Santo Fransisku Asisi sangat menekankan semangat persaudaran, maka melalui sapaan “Pace e Bene”, YPPK Jayapura senantiasa siap untuk mewujudkan semangat persaudaraan dalam seluruh karya pelayanannya baik di kantor maupun di sekolah. Semua ciptaan Tuhan: Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda” adalah saudara dan saudari. Itu berarti keadilan dan belas kasih menjadi kunci pelayanan YPPK. Dengan kata lain, tak adanya diskriminasi dalam karya pelayanan pendidikannya. Semoga! (Redaksi)

